Wall Street Terseret Ketegangan Iran: Yield Obligasi Meledak, Nvidia Jadi Penentu Nasib Pasar

  • Ketegangan AS-Iran dan belum adanya terobosan damai menekan sentimen pasar global.

  • Lonjakan yield obligasi meningkatkan kekhawatiran suku bunga tinggi lebih lama dan menekan saham teknologi.

Wall Street ditutup melemah pada Selasa di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik AS-Iran. Indeks S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq melemah 0,8%, dan Dow Jones terkoreksi 0,7% setelah pasar gagal mendapatkan kepastian terkait negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Investor juga melakukan aksi ambil untung menjelang laporan keuangan Nvidia yang dinilai menjadi penentu utama keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya hanya “satu jam lagi” dari melancarkan serangan militer ke Iran sebelum akhirnya menundanya atas permintaan pemimpin negara Teluk. Meski Trump mengklaim negosiasi serius sedang berlangsung, proposal terbaru Iran dinilai belum banyak berubah dari tawaran sebelumnya yang telah ditolak AS. Ketidakjelasan diplomasi ini membuat pasar tetap cemas terhadap risiko perang berkepanjangan dan potensi gangguan energi global, terutama karena Selat Hormuz masih belum kembali normal.

Di saat yang sama, lonjakan yield obligasi global kembali menekan saham teknologi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Pasar kini mulai mengantisipasi kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama akibat inflasi energi. Fokus utama investor kini tertuju pada laporan keuangan Nvidia, karena hasilnya dianggap dapat menentukan apakah reli besar sektor AI masih layak berlanjut atau mulai kehilangan tenaga.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Ketidakpastian geopolitik dan lonjakan yield obligasi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven berbasis dolar, sementara saham teknologi dan aset berisiko mulai tertekan oleh kekhawatiran inflasi serta suku bunga tinggi berkepanjangan.

 

Emas Dihantam Dolar & Yield: Pasar Mulai Takut Era Suku Bunga Tinggi Baru

  • Yield obligasi AS melonjak tajam akibat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

  • Konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran inflasi energi global.

Harga emas kembali tertekan tajam pada Selasa setelah dolar AS menguat di tengah lonjakan imbal hasil obligasi global akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik Timur Tengah. Minimnya kemajuan diplomasi antara AS dan Iran turut memperburuk sentimen pasar, meskipun Presiden Donald Trump menunda rencana serangan militer ke Iran selama beberapa hari untuk memberi ruang negosiasi. Spot gold turun sekitar 1,8% ke area USD4.483 per ons, sementara pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Pasar obligasi global kembali mengalami aksi jual besar-besaran setelah investor menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga energi dan belum dibukanya kembali Selat Hormuz. Yield obligasi AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. Kondisi ini memperkuat dolar AS dan menjadi tekanan utama bagi emas karena aset non-yielding seperti emas menjadi kurang menarik saat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Di sisi geopolitik, Trump menyatakan Iran hanya diberi waktu beberapa hari untuk menyetujui kesepakatan damai. Meski Iran mengirim proposal perdamaian baru, laporan Reuters menyebut isi proposal tersebut tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang telah ditolak Trump. Ketidakpastian soal perang AS-Iran dan masih tertutupnya Selat Hormuz membuat pasar tetap waspada terhadap risiko inflasi energi global dan potensi guncangan ekonomi lebih lanjut.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Karena data inflasi AS masih tinggi akibat lonjakan harga energi, pasar mulai percaya bahwa The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan. Hal ini mendorong investor membeli obligasi AS sehingga yield naik tajam dan memperkuat dolar AS.

rump Tahan Serangan ke Iran, Tapi Selat Hormuz Masih Jadi Bom Waktu Energi Dunia

  • Trump menunda serangan ke Iran, tetapi ancaman militer AS masih tetap aktif jika negosiasi gagal.

  • NATO mulai membahas intervensi militer di Selat Hormuz di tengah risiko gangguan pasokan energi global.

Harga minyak bergerak volatil setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran demi memberi ruang negosiasi baru. Trump mengklaim pembicaraan damai mulai menunjukkan progres setelah permintaan dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Namun, ia tetap memperingatkan bahwa AS siap meluncurkan serangan besar kapan saja jika kesepakatan gagal tercapai. Iran sendiri mengajukan proposal perdamaian yang mencakup penghentian perang, pencabutan sanksi, pelepasan dana Iran, hingga penghentian blokade pelabuhan oleh AS.

Meski jalur diplomasi dibuka kembali, pasar tetap skeptis karena isi proposal Iran dinilai tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang telah ditolak Trump. Ketegangan juga masih tinggi karena Selat Hormuz tetap efektif tertutup dan berada di bawah kontrol Iran. NATO bahkan mulai membahas kemungkinan intervensi militer untuk mengamankan jalur pelayaran energi global jika situasi tidak membaik hingga awal Juli. Inggris disebut siap mengirim jet tempur, drone, dan kapal perang untuk mendukung operasi tersebut.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global terus meningkat karena Selat Hormuz merupakan jalur sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia. Citi memperingatkan pasar masih meremehkan risiko krisis pasokan berkepanjangan, dengan proyeksi harga Brent dapat melonjak menuju USD120 bahkan USD150 per barel dalam skenario terburuk. Meski demikian, pernyataan Wakil Presiden JD Vance bahwa pembicaraan AS-Iran mulai menunjukkan kemajuan membuat harga minyak akhirnya ditutup melemah tipis.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positf: Ketidakpastian geopolitik masih sangat tinggi, Selat Hormuz belum kembali normal, dan risiko krisis energi global tetap besar sehingga mendukung kenaikan harga minyak serta meningkatkan tekanan inflasi dunia.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi GBP dan EUR:

  • CPI (YoY) (Apr) – GBP

Data Consumer Price Index (CPI) tahunan ini mengukur tingkat inflasi pada tingkat konsumen di Inggris. Proyeksi menunjukkan inflasi akan melambat ke level 3.0% dari angka sebelumnya di 3.3%.

Dampak:
Berpotensi Bearish GBP. Penurunan inflasi tahunan yang cukup tajam ini mengindikasikan bahwa tekanan harga di Inggris mulai mereda. Jika rilis aktual sesuai atau lebih rendah dari forecast, hal ini memberikan ruang bagi Bank of England (BoE) untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih cepat, yang berpotensi menekan nilai tukar Poundsterling.

  • CPI (YoY) (Apr) – EUR

Mengukur perubahan harga barang dan jasa dari perspektif konsumen di zona Eropa secara tahunan. Forecast pasar memperkirakan inflasi berjalan stabil dan tetap berada di angka 3.0%.

Dampak:
Berpotensi Netral. Karena forecast sama persis dengan angka sebelumnya, pasar kemungkinan besar sudah melakukan pricing-in terhadap angka ini. Namun, jika data aktual rilis menyimpang jauh (misalnya melonjak ke atas 3.2% atau jatuh di bawah 2.8%), barulah volatilitas besar akan tercipta pada mata uang Euro.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: