Dolar Tersendat, Dunia Tegang! Lonjakan Energi dan Perang Iran Guncang Pasar Global
Dolar AS melemah sementara setelah reli, namun tetap didukung ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Krisis energi global meningkat akibat serangan infrastruktur dan gangguan pasokan LNG serta minyak.
Dolar AS melemah sekitar 0,9% ke level 99,20 setelah sebelumnya menguat sebagai aset safe haven di tengah konflik Iran. Pelemahan ini terjadi saat investor mulai mengambil jeda sambil mencermati perkembangan perang dan arah kebijakan bank sentral global. Meski demikian, dolar tetap ditopang oleh ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi dari lonjakan harga energi.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan terhadap fasilitas gas di Timur Tengah, termasuk ladang gas South Pars, memicu aksi balasan Iran ke negara-negara Teluk. Pernyataan Benjamin Netanyahu yang mengklaim Iran melemah sempat meredakan pasar, namun tidak cukup menghilangkan kekhawatiran. Gangguan energi besar, termasuk potensi hilangnya kapasitas LNG Qatar hingga 17%, memperparah risiko krisis energi global.
Di sisi kebijakan, Federal Reserve bersama bank sentral lain seperti European Central Bank dan Bank of England memilih menahan suku bunga sambil mengadopsi sikap wait and see. Namun, proyeksi inflasi dinaikkan akibat lonjakan harga minyak, membuat pasar saham global tertekan. Ketidakpastian tinggi ini menandakan bahwa arah pasar kini sangat dipengaruhi oleh dinamika energi dan konflik geopolitik.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Eskalasi konflik dan lonjakan harga energi meningkatkan ketidakpastian serta tekanan inflasi global, sehingga menekan pasar dan memicu sentimen defensif investor.
Emas Rontok Brutal! Data Kuat AS dan Lonjakan Yield Hantam XAUUSD Lebih dari 4%
Emas jatuh lebih dari 4,5% akibat lonjakan yield dan data ekonomi AS yang kuat.
Ekspektasi penurunan suku bunga mundur ke 2027, memperkuat tekanan pada emas.
Harga emas (XAU/USD) anjlok lebih dari 4,5% ke sekitar $4.588 setelah tekanan kuat dari kenaikan yield obligasi AS dan data tenaga kerja yang solid. Laporan klaim pengangguran yang lebih baik dari ekspektasi memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih kuat, sehingga pasar mulai menghapus ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan memundurkan proyeksi pemangkasan pertama ke tahun 2027.
Kebijakan bank sentral global juga cenderung hawkish, dengan bank besar seperti Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan kompak menahan suku bunga. The Fed sendiri mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dengan proyeksi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin memanas setelah serangan Iran terhadap fasilitas gas di Qatar yang merusak infrastruktur energi penting. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi berbasis energi, mendorong kenaikan yield lebih lanjut, dan memperburuk tekanan terhadap emas. Sementara itu, investor mulai beralih ke aset safe haven lain seperti yen Jepang dan franc Swiss.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif: Kombinasi yield tinggi, kebijakan moneter hawkish, dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama mengurangi daya tarik emas secara signifikan meskipun ada risiko geopolitik.
Trump Tekan Sekutu, Minyak Meledak! Krisis Iran Picu Guncangan Energi Global
Trump tekan sekutu global untuk ikut terlibat dalam konflik Iran dan pengamanan jalur energi Selat Hormuz.
Gangguan pasokan minyak global besar-besaran mendorong lonjakan harga energi ke level ekstrem.
Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan kepada sekutu, termasuk Jepang yang dipimpin Sanae Takaichi, untuk ikut terlibat dalam pengamanan jalur energi di Timur Tengah. Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump meminta dukungan tambahan untuk mengamankan Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik Iran, meski di sisi lain ia menegaskan AS mampu bertindak sendiri. Pernyataan kontroversial Trump yang menyinggung Pearl Harbor attack sebagai pembenaran strategi kejutan menambah ketegangan diplomatik.
Di lapangan, konflik Iran telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. Penutupan sebagian Selat Hormuz—jalur vital sekitar 20% suplai minyak dunia—membuat distribusi minyak tersendat. Serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah memperparah kondisi, menyebabkan kekurangan pasokan hingga sekitar 12 juta barel per hari. Negara-negara dan perusahaan energi kini berebut pasokan alternatif, sementara Jepang dan sekutu lainnya masih berhati-hati dalam memberikan dukungan militer langsung.
Lonjakan harga energi pun tak terhindarkan. Harga minyak fisik melonjak tajam melampaui harga futures, dengan beberapa jenis minyak mencapai level ekstrem. Brent sempat mendekati $120, sementara minyak Dubai menyentuh rekor baru. Bahkan bahan bakar seperti diesel dan avtur mengalami kenaikan signifikan, menandakan tekanan besar pada sektor transportasi dan industri global. Upaya pelepasan cadangan strategis oleh negara-negara besar dinilai belum cukup untuk menstabilkan pasar dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Eskalasi konflik, gangguan suplai energi, dan lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi dan ketidakstabilan ekonomi global, mendorong pasar ke arah ketidakpastian tinggi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
