Wall Street Melemah Usai Sinyal Hawkish The Fed dan Proyeksi Hati-Hati Walmart

  • Risalah The Fed yang hawkish meningkatkan ketidakpastian terkait waktu dan besaran pemangkasan suku bunga.

  • Walmart mencetak kinerja kuat dan buyback besar, namun panduan laba konservatif menekan harga saham.

Saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Kamis setelah risalah pertemuan terbaru Federal Reserve menunjukkan nada yang lebih hawkish dari perkiraan pasar. Indeks S&P 500 turun 0,3% ke level 6.862,16, NASDAQ Composite terkoreksi 0,3% menjadi 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,5% ke 49.395,16. Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya pasar sempat menguat berkat reli saham teknologi, termasuk penguatan pada Nvidia.

Risalah rapat Januari The Fed menunjukkan hampir seluruh anggota FOMC sepakat menahan suku bunga, namun terdapat perbedaan pandangan terkait arah kebijakan selanjutnya. Beberapa pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap berada di atas target 2%. Sikap ini memperkuat persepsi bahwa bank sentral belum terburu-buru melakukan pemangkasan suku bunga. Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan defisit perdagangan AS melebar menjadi US$70,3 miliar pada Desember, sementara klaim pengangguran mingguan turun ke 206 ribu, lebih baik dari ekspektasi. Pasar kini menantikan rilis indeks PCE dan estimasi awal pertumbuhan PDB kuartal IV yang dinilai krusial bagi arah kebijakan moneter.

Dari sisi korporasi, saham Walmart turun 1,4% meski mencatatkan kinerja kuartalan di atas ekspektasi dan mengumumkan buyback saham senilai US$30 miliar. Investor merespons hati-hati proyeksi laba kuartal berjalan dan tahun fiskal 2027 yang lebih konservatif di bawah konsensus. Meski demikian, analis menilai fundamental Walmart tetap solid, terutama berkat strategi harga rendah dan ekspansi e-commerce yang terus memperkuat daya saing perusahaan.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Dipicu oleh sikap hawkish The Fed dan kehati-hatian menjelang rilis data inflasi dan PDB, meskipun data tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan ekonomi.

Emas Tertahan di Tengah Sikap Hawkish The Fed dan Bayang-Bayang Konflik AS–Iran

  • Risalah The Fed yang hawkish memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan menekan harga emas melalui penguatan Dolar AS.

  • Ketegangan geopolitik AS–Iran meningkatkan permintaan safe haven, membatasi penurunan harga emas.

Harga emas (XAU/USD) bergerak datar pada perdagangan Kamis di kisaran US$4.975 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level intraday tertinggi di sekitar US$5.021. Logam mulia ini kesulitan melanjutkan penguatan sebelumnya seiring penguatan Dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam hampir satu bulan terakhir. Data ekonomi AS yang solid menjadi pemicu utama, dengan klaim pengangguran mingguan turun ke 206 ribu, lebih baik dari perkiraan 225 ribu, serta indeks manufaktur Federal Reserve Bank of Philadelphia naik ke 16,3 pada Februari, melampaui ekspektasi pasar.

Risalah rapat Januari Federal Reserve menunjukkan nada yang cenderung hawkish. Mayoritas anggota Federal Open Market Committee mendukung mempertahankan suku bunga lebih lama sambil mengevaluasi data ekonomi yang masuk. Beberapa pejabat bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap di atas target. Sikap ini memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih kecil kemungkinannya, sehingga menopang imbal hasil obligasi dan Dolar AS, yang pada gilirannya menekan aset non-yielding seperti emas.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran tetap menjadi faktor penopang harga emas. Laporan media menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan aksi militer terhadap Iran dalam waktu dekat. Peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah menambah ketidakpastian global, menjaga minat beli terhadap aset safe haven. Ke depan, fokus pasar tertuju pada rilis data inflasi inti PCE dan estimasi awal PDB kuartal IV AS yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Tertekan oleh faktor moneter AS yang hawkish, namun tetap memiliki bias positif secara struktural karena risiko geopolitik yang meningkat dan ekspektasi pelonggaran kebijakan pada paruh kedua tahun ini.

 

Minyak Tembus Level Tertinggi Enam Bulan, Ketegangan AS–Iran Picu Lonjakan Harga

  • Ketegangan geopolitik AS–Iran dan risiko gangguan di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak ke level tertinggi enam bulan.

  • Penurunan signifikan stok minyak mentah AS memperkuat sentimen bullish dari sisi fundamental pasokan.

Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari enam bulan pada perdagangan Kamis, didorong meningkatnya aktivitas militer di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Kontrak Brent Crude ditutup naik sekitar 1,9% ke kisaran US$71,66 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 1,9% ke sekitar US$66,43 per barel. Kenaikan ini melanjutkan reli lebih dari 4% pada sesi sebelumnya, sekaligus membawa kedua acuan ke level penutupan tertinggi sejak akhir Juli dan awal Agustus.

Sentimen pasar semakin memanas setelah laporan peningkatan aktivitas militer dan angkatan laut di Teluk Persia, termasuk rencana latihan gabungan Iran dan Rusia serta penutupan sementara Selat Hormuz untuk latihan militer. Presiden Donald Trump bahkan memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, dengan ancaman tindakan dalam waktu dekat. Ketegangan ini meningkatkan persepsi risiko terhadap jalur distribusi energi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, fundamental pasokan juga memperkuat reli harga. Data dari Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah AS turun tajam hingga 9 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan persediaan. Penurunan ekspor minyak Arab Saudi ke level terendah sejak September serta belum adanya terobosan dalam perundingan damai Rusia–Ukraina turut memperkuat kekhawatiran pasokan. Kombinasi risiko geopolitik dan pengetatan stok ini menjadi katalis utama penguatan harga minyak.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Didukung oleh risiko geopolitik yang meningkat serta data fundamental yang menunjukkan pengetatan pasokan global.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Core PCE Price Index (MoM)

Kenaikan dari 0.2% ke 0.3% diperkirakan mengindikasikan tekanan inflasi bulanan kembali meningkat. Karena PCE merupakan indikator inflasi utama The Fed, kenaikan ini memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tetap ketat lebih lama.
Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat karena peluang kebijakan tetap hawkish.

  • Core PCE Price Index (YoY)

Kenaikan dari 2.8% ke 2.9% menunjukkan inflasi tahunan masih bertahan di atas target The Fed (2%). Hal ini mengindikasikan proses disinflasi belum sepenuhnya selesai.
Dampak:
➡️ Bullish untuk USD jika data sesuai atau lebih tinggi dari forecast.

  • GDP (QoQ) Q4 (Prelim)

Penurunan dari 4.4% ke 3.0% diperkirakan mengindikasikan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Meski masih di level ekspansi yang sehat, penurunan tajam ini menunjukkan momentum ekonomi mulai moderat.
Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah ringan jika perlambatan lebih besar dari perkiraan.

  • S&P Global Manufacturing PMI

Angka tetap di 52.4 mengindikasikan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi (di atas 50). Namun stagnasi menunjukkan tidak ada percepatan pertumbuhan baru. 

Dampak:
➡️ Netral hingga sedikit positif untuk USD.

  • S&P Global Services PMI

Kenaikan dari 52.7 ke 53.0 mengindikasikan sektor jasa tetap kuat dan menjadi penopang utama ekonomi AS. Sektor jasa yang solid mendukung stabilitas pertumbuhan.
Dampak:
➡️ Bullish ringan untuk USD.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: