Wall Street Rekor Baru di Tengah Shutdown & Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga.

  • Shutdown AS dinilai hanya berdampak terbatas pada ekonomi, sehingga tidak menahan reli saham.

  • Data tenaga kerja lemah memperbesar spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.

S&P 500 menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang sejarah, 6.708,06, didorong optimisme bahwa dampak shutdown pemerintah AS hanya bersifat sementara serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Meski ribuan pegawai federal menghadapi risiko cuti paksa, pasar menilai sejarah menunjukkan shutdown singkat umumnya tidak memberi pukulan besar terhadap ekonomi.

Sentimen positif semakin diperkuat oleh data tenaga kerja swasta yang anjlok 32.000 pada September, penurunan terbesar sejak Maret 2023. Pelemahan pasar tenaga kerja ini mendorong turunnya imbal hasil obligasi dan memperbesar taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lagi dalam waktu dekat. Namun, keterlambatan rilis Nonfarm Payrolls akibat shutdown dapat menahan volatilitas sementara waktu.

Di sisi korporasi, saham Nike melonjak setelah laporan kinerja yang lebih baik dari perkiraan, sementara Intel terangkat lebih dari 7% berkat kabar kemungkinan menjalin kerja sama produksi dengan AMD. Perpaduan antara optimisme kebijakan moneter longgar dan kinerja korporasi membuat investor menilai risiko masih terkendali.

Source materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk indeks saham AS – Pasar ekuitas mendapat dukungan ganda: prospek suku bunga lebih rendah serta keyakinan bahwa dampak shutdown akan minim. Kombinasi faktor ini membuat investor tetap agresif masuk ke aset berisiko.

Emas Sentuh Rekor Baru di Tengah Data Tenaga Kerja Lemah dan Shutdown AS.

  • Emas rebound meski dolar kuat, didukung outlook suku bunga rendah & lonjakan permintaan dari Asia.

  • Ekspektasi pemangkasan lanjutan The Fed memberi ruang emas naik lebih jauh, meski yield masih menekan.

Harga emas mencetak rekor baru di level $3.895 per ons pada Rabu sebelum terkoreksi tipis ke $3.871. Lonjakan ini dipicu oleh laporan ADP yang menunjukkan penurunan 32.000 pekerjaan di sektor swasta pada September, jauh lebih buruk dari perkiraan. Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga lagi di akhir bulan Oktober.

Selain itu, ketidakpastian akibat potensi shutdown pemerintah AS dan penundaan rilis data Nonfarm Payrolls turut mendorong investor masuk ke aset safe-haven seperti emas. Kondisi ini membuat reli emas semakin kuat di tengah pelemahan tipis indeks dolar dan turunnya imbal hasil obligasi AS.

Meski demikian, aktivitas manufaktur AS yang masih berada di zona kontraksi menambah tekanan terhadap prospek ekonomi. Kombinasi faktor fundamental ini mempertegas bahwa emas saat ini menjadi magnet bagi investor, sementara pasar menunggu kepastian langkah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Source materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — kombinasi data tenaga kerja yang lemah, ekspektasi tinggi pemangkasan suku bunga (98% probabilitas), serta pelemahan dolar menciptakan dukungan fundamental yang solid bagi reli emas menuju level tertinggi baru.

Harga Minyak Tersungkur ke Level Terendah 16 Minggu di Tengah Kekhawatiran Shutdown & Kelebihan Pasokan.

  • Kekhawatiran perlambatan ekonomi global akibat shutdown AS dan lemahnya permintaan energi menekan harga minyak.

  • Prospek tambahan pasokan dari OPEC+ dan kenaikan stok minyak AS memperkuat tren bearish.

Harga minyak merosot untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu, mencatat penutupan terendah sejak pertengahan tahun. Brent turun ke $65,35 per barel dan WTI ke $61,78, tertekan oleh kombinasi shutdown pemerintah AS yang menambah kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta proyeksi peningkatan pasokan minyak OPEC+ bulan depan. Analis menilai pelemahan permintaan dari AS dan Asia turut menambah tekanan harga.

Selain itu, data menunjukkan stok minyak mentah AS bertambah 1,8 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh di atas perkiraan pasar. Laporan ini memperkuat pandangan bahwa permintaan energi mulai melemah, apalagi dengan bayang-bayang shutdown yang berisiko menahan pertumbuhan ekonomi. Kabar potensi penambahan produksi OPEC+ hingga 500.000 barel per hari di November, meski masih diperdebatkan, semakin memperburuk sentimen pasar.

Situasi global juga tidak mendukung harga minyak, dengan aktivitas manufaktur Asia yang kembali melemah serta peningkatan ekspor dari Rusia dan Venezuela. Meski ada risiko gangguan pasokan akibat konflik, pelaku pasar lebih fokus pada surplus pasokan yang sedang terbentuk. Kombinasi ini membuat harga minyak terus tertekan dan memberi sinyal lemahnya prospek jangka pendek.

Source materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Faktor dominan berasal dari sisi suplai yang meningkat serta demand yang melemah, ditambah ketidakpastian ekonomi global. Kombinasi ini membuat harga minyak berisiko lanjut turun.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • S&P Global & ISM PMI: Kedua data sektor jasa diperkirakan tidak berubah dari bulan sebelumnya. Karena tidak ada peningkatan atau penurunan yang diantisipasi, dampaknya terhadap USD diperkirakan Netral.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: