Wall Street Cetak Rekor Baru Meski Iran Ancam Tutup Hormuz, Pasar Tetap Percaya Trump Dekati Kesepakatan Damai

  • Iran mengancam menutup Selat Hormuz dan menghentikan komunikasi negosiasi, tetapi Trump menegaskan pembicaraan damai masih berlanjut.

  • Wall Street mencetak rekor tertinggi baru didorong optimisme damai AS-Iran dan reli besar sektor AI yang dipimpin Nvidia.

Wall Street kembali mencatat rekor tertinggi baru pada perdagangan Senin setelah investor mengabaikan ketegangan terbaru di Timur Tengah dan lebih fokus pada peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks S&P 500 ditutup naik 0,3% ke level 7.600 untuk pertama kalinya dalam sejarah, sementara Nasdaq menguat 0,4% dan Dow Jones naik 0,1%. Sentimen positif juga didorong lonjakan saham Nvidia setelah perusahaan tersebut meluncurkan chip AI generasi baru untuk pasar komputer pribadi.

Optimisme pasar sempat terguncang setelah Iran dilaporkan menghentikan komunikasi dan pertukaran dokumen negosiasi dengan AS menyusul serangkaian serangan militer terbaru. Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Namun Presiden Donald Trump membantah bahwa negosiasi telah berhenti dan menegaskan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dengan cepat. Trump bahkan menyatakan kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan yang sangat baik meskipun sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran dan status Selat Hormuz, masih menjadi hambatan utama.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar saham tetap menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Harapan berakhirnya konflik Timur Tengah, meredanya kekhawatiran stagflasi, serta euforia sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama reli pasar. Sementara harga minyak kembali menguat akibat ancaman terhadap Selat Hormuz, investor tetap mempertahankan minat pada aset berisiko karena prospek ekonomi AS dinilai masih cukup solid. Fokus pasar kini beralih pada data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk indeks saham AS: Investor lebih fokus pada peluang tercapainya kesepakatan damai AS-Iran dan pertumbuhan sektor AI, sehingga arus dana mengalir ke aset berisiko. Kondisi ini mengurangi permintaan safe haven seperti emas meskipun risiko geopolitik masih belum sepenuhnya hilang.

 

Emas Tertekan Meski Konflik Memanas, Pasar Lebih Percaya Damai AS-Iran Akan Terwujud

  • Iran menghentikan komunikasi negosiasi dengan AS dan mengancam memblokir Selat Hormuz, namun Trump menegaskan pembicaraan damai masih berlanjut.

  • Penguatan Dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi menekan harga emas meskipun risiko geopolitik Timur Tengah meningkat.

Harga emas kembali melemah pada perdagangan Senin dengan emas spot turun 1,2% ke US$4.484 per ons dan emas berjangka turun 1,7% ke US$4.515 per ons. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan Dolar AS serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Secara teknikal, emas juga masih berada dalam fase koreksi setelah mencetak rekor tertinggi pada awal tahun, dengan momentum pasar yang cenderung bearish meskipun tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah Iran menghentikan komunikasi negosiasi melalui mediator menyusul serangan militer terbaru AS dan operasi Israel di Lebanon. Teheran bahkan mengancam akan memblokir Selat Hormuz dan memperluas tekanan ke jalur pelayaran strategis lainnya. Namun Presiden Donald Trump membantah bahwa negosiasi telah berhenti dan menegaskan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung cepat. Trump juga menyatakan kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan damai, meskipun isu program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama.

Meskipun konflik kembali memanas, pasar tetap lebih fokus pada peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Harapan bahwa Selat Hormuz pada akhirnya akan dibuka kembali membuat investor mengurangi posisi safe haven dan mengalihkan dana ke aset berisiko seperti saham. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan energi meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan semakin mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Pasar lebih mempercayai peluang tercapainya kesepakatan damai AS-Iran dibanding risiko eskalasi konflik. Ditambah penguatan Dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven menjadi berkurang.

Iran Ancam Blokade Hormuz Total, Harga Minyak Melonjak di Tengah Risiko Krisis Energi Global

  • Iran mengancam memblokir Selat Hormuz dan memperluas gangguan ke jalur pelayaran strategis lainnya, memicu lonjakan harga minyak lebih dari 4%.

  • Trump menegaskan negosiasi dengan Iran belum sepenuhnya berhenti, tetapi risiko konflik dan gangguan pasokan energi global tetap tinggi.

Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat dan tengah menyiapkan langkah bersama sekutunya untuk memblokir Selat Hormuz secara penuh. Minyak Brent ditutup naik 4,2% ke US$94,98 per barel, sementara WTI melonjak 5,5% ke US$92,16 per barel. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat mengganggu jalur distribusi energi global yang sangat vital bagi pasokan minyak dan gas dunia.

Ketegangan meningkat setelah Iran, AS, dan Israel kembali terlibat dalam aksi militer beberapa hari terakhir. Selain ancaman penutupan Selat Hormuz, Iran dan kelompok sekutunya juga disebut mempertimbangkan gangguan terhadap jalur pelayaran Bab el-Mandeb di Laut Merah, salah satu koridor utama ekspor energi dari Timur Tengah. Meski demikian, Presiden Donald Trump berupaya meredakan kepanikan pasar dengan menyatakan dirinya belum menerima informasi resmi bahwa negosiasi dengan Iran telah dihentikan dan mengklaim komunikasi diplomatik masih berlangsung melalui berbagai jalur.

Pasar energi kini semakin sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik karena penutupan Hormuz berpotensi mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Pelaku industri pelayaran juga menegaskan bahwa normalisasi perdagangan membutuhkan kesepakatan damai yang jelas dan dapat dipercaya. Di sisi lain, pelemahan permintaan dari China dan Eropa menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga lebih lanjut, meskipun risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Ancaman blokade Selat Hormuz dan meningkatnya ketegangan geopolitik memperbesar risiko gangguan pasokan energi global, sehingga mendorong kenaikan harga minyak meskipun masih ada harapan tercapainya kesepakatan damai di kemudian hari.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • CPI (YoY) (May) P – EUR

Data estimasi awal (Preliminary) untuk indeks harga konsumen (Consumer Price Index) tahunan Zona Eropa diproyeksikan melonjak ke level 3.3% dari rilis sebelumnya di level 3.0%.

Dampak:
Potensi Bullish EUR. Kenaikan inflasi yang signifikan ini mengindikasikan tekanan harga di wilayah Eropa kembali memanas. Kondisi ini akan memperkecil peluang Bank Sentral Eropa (ECB) untuk memotong suku bunga secara agresif, yang secara fundamental dapat mendorong penguatan mata uang Euro terhadap mata uang utama lainnya saat data rilis.

  • JOLTS Job Openings (Apr) – USD

Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) melacak jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia di AS (tidak termasuk sektor pertanian). Forecast pasar memperkirakan angka yang relatif stabil di level 6.870M, naik sangat tipis dibanding bulan sebelumnya di level 6.866M.

Dampak:
Berpotensi Netral / Bullish USD. Proyeksi yang stabil menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh. Karena deviasinya sangat kecil dari angka sebelumnya, data ini membutuhkan rilis aktual yang menyimpang jauh (misalnya melonjak di atas 7.000M atau anjlok di bawah 6.700M) untuk bisa menggerakkan Dolar AS secara signifikan. Jika rilis aktual di atas ekspektasi, hal ini akan mendukung penguatan USD.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: