Wall Street Merah: Menunggu Nvidia & Data Tenaga Kerja AS.
Sektor teknologi jatuh keras menjelang laporan Nvidia dan meningkatnya keraguan atas profitabilitas investasi AI.
Ekspektasi pemotongan suku bunga Desember turun ke 40%, seiring The Fed menunggu data ekonomi yang tertunda akibat shutdown.
Harga saham AS melemah tajam pada Selasa, dipimpin oleh kejatuhan sektor teknologi menjelang rilis pendapatan Nvidia dan laporan tenaga kerja AS yang tertunda akibat shutdown pemerintah. S&P 500 turun 0,8%, Nasdaq jatuh 1,2%, sementara Dow Jones merosot 498 poin. Investor semakin berhati-hati karena indeks besar kini terkoreksi dari level tertingginya, dengan Nasdaq turun lebih dari 5% dari rekor sebelumnya.
Penurunan tajam big tech berlanjut seiring keraguan terhadap prospek jangka panjang industri AI dan tingginya investasi yang belum menghasilkan pengembalian nyata. Saham Nvidia terus ditekan menjelang laporan keuangan, sementara Google justru naik setelah mengumumkan Gemini 3. Dari sisi korporasi, Home Depot melaporkan laba yang mengecewakan, menambah tekanan pada sentimen pasar yang sudah rapuh.
Di luar sektor teknologi, fokus pasar kini tertuju pada data NFP dan inflasi yang akan dirilis pekan ini setelah tertunda oleh shutdown. Keterlambatan data membuat The Fed memasuki pertemuan Desember dalam kondisi “terbang buta”, sehingga peluang pemangkasan suku bunga turun menjadi sekitar 40%. Komentar Fed Governor Waller soal perlunya pemotongan suku bunga belum cukup mengubah ekspektasi pasar.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk indeks saham AS: Kombinasi saham teknologi yang melemah, ekspektasi rate cut yang turun, dan ketidakpastian menjelang data ekonomi membuat risiko pasar meningkat dan sentimen investor memburuk.
Emas Naik Tipis, Dukungan Dari Data AS Lemah & Pembelian China.
Ekspektasi rate cut Desember naik ke 50%, didorong data tenaga kerja AS yang melunak dan komentar dovish pejabat Fed.
China kembali membeli emas, mendukung potensi kenaikan harga dalam jangka pendek.
Harga emas menguat 0,36% pada Selasa malam, bertahan di atas area kunci 4.050 seiring pelemahan selera risiko dan data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan. Emas juga mendapat dorongan dari meningkatnya ekspektasi pelonggaran Fed pada Desember, meski pejabat bank sentral masih bernada hawkish. Menjelang rilis FOMC Minutes dan NFP pada Kamis, pasar bergerak hati-hati di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Sentimen positif untuk emas juga datang dari China, setelah Goldman Sachs mengonfirmasi bahwa bank sentralnya kembali membeli emas dalam jumlah besar dan diperkirakan melanjutkan akumulasi hingga November. Di sisi lain, dolar AS masih berada di zona kuat, namun imbal hasil obligasi dan real yields stabil, sehingga tidak cukup menekan harga emas. Klaim pengangguran AS naik menjadi 232K, memberi sinyal pelemahan moderat di pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi pemotongan suku bunga.
Beberapa pejabat Fed seperti Waller memberikan nada dovish dengan menilai pasar tenaga kerja melemah dan inflasi mendekati target 2%. Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga Desember sekitar 50%, naik dari awal hari meski masih di bawah level pekan lalu. Kombinasi risk-off sentiment, spekulasi easing, serta pembelian emas oleh China menjadi penopang utama kenaikan harga XAU/USD.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish: Risk-off global, spekulasi pemangkasan suku bunga, dan pembelian agresif dari China memberikan dorongan kuat bagi emas meski dolar AS masih relatif kokoh.
Minyak Menguat di Tengah Ancaman Sanksi Rusia & Drama Kursi Ketua The Fed.
Harga minyak naik karena ancaman sanksi baru AS terhadap Rusia dan gangguan ekspor dari Novorossiysk yang sempat menghentikan 2% suplai global.
Komentar Trump tentang calon Ketua Fed baru memicu sentimen risk-on karena peluang kebijakan moneter lebih dovish yang dapat meningkatkan permintaan minyak.
Harga minyak ditutup lebih tinggi pada Selasa setelah sesi yang bergerak liar, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap sanksi Barat yang berpotensi menekan aliran minyak Rusia. Brent naik 1,07% ke $64,89 per barel dan WTI melonjak 1,39% ke $60,74. Pernyataan Trump bahwa pemerintahannya mulai mewawancarai kandidat baru untuk Ketua Federal Reserve turut mendorong harga, seiring ekspektasi bahwa pemimpin Fed yang lebih dovish dapat menurunkan biaya pinjaman dan meningkatkan permintaan minyak.
Kekhawatiran geopolitik meningkat setelah Rusia sempat menghentikan ekspor dari pelabuhan Novorossiysk akibat serangan Ukraina, menghentikan pasokan sekitar 2% suplai global. Meski ekspor telah kembali normal, pasar tetap waspada terhadap risiko penurunan suplai jika sanksi tambahan diterapkan. Trump juga menyatakan bahwa RUU sanksi baru terhadap negara mana pun yang berbisnis dengan Rusia tengah disusun, dengan kemungkinan Iran ikut menjadi target.
Namun di sisi lain, ekspektasi jangka panjang masih dibayangi surplus global hingga 2026 menurut Goldman Sachs, meski bank tersebut mengakui harga dapat kembali naik jika produksi Rusia turun lebih tajam. Pasar kini menunggu laporan stok minyak AS, yang berpotensi mempertegas apakah kenaikan harga ini berlanjut atau hanya reaksi sementara terhadap risiko geopolitik.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish: Faktor geopolitik, potensi sanksi Rusia, dan ekspektasi kebijakan moneter lebih longgar mendukung kenaikan harga minyak meskipun outlook jangka panjang masih bearish karena surplus pasokan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP dan EUR:
GBP (CPI): Perkiraan inflasi 3.5% (turun dari 3.8%) menunjukkan harga mereda signifikan. Hal ini mengurangi tekanan BoE. GBP berpotensi melemah.
EUR (CPI): Perkiraan inflasi 2.1% (turun dari 2.2%) menunjukkan tekanan harga melambat. Hal ini dapat mendorong sikap Dovish ECB. EUR berpotensi melemah.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
