Risalah The Fed Beri Sinyal Hawkish, Wall Street Pangkas Kenaikan
Mayoritas pejabat The Fed mendukung suku bunga tetap, namun membuka peluang kenaikan jika inflasi membandel.
Pasar saham memangkas kenaikan dan imbal hasil obligasi naik setelah risalah menunjukkan bias hawkish ringan.
Risalah rapat Januari Federal Reserve menunjukkan hampir seluruh anggota mendukung keputusan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% setelah tiga kali pemangkasan berturut-turut. Namun, sejumlah pejabat juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap berada di atas target 2%. Komite menilai pelonggaran total 75 basis poin sebelumnya sudah cukup, dengan ekonomi masih tumbuh solid dan pasar tenaga kerja relatif stabil.
Beberapa anggota bahkan mengusulkan pendekatan “dua arah” dalam panduan kebijakan, yang mencerminkan peluang penyesuaian suku bunga baik naik maupun turun tergantung perkembangan inflasi. Meski inflasi konsumen terbaru menunjukkan moderasi, bank sentral tetap berhati-hati dan menegaskan kebijakan akan sangat bergantung pada data, terutama rilis indeks harga PCE yang menjadi acuan utama The Fed. Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga kembali terbuka pada Juni, menurut CME FedWatch.
Reaksi pasar cenderung hati-hati. Indeks S&P 500 memang masih menguat 0,3% ke 6.861,59, namun memangkas kenaikan awal yang sempat menyentuh 1%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,08% seiring aksi jual di pasar obligasi, didorong data produksi industri yang kuat. Secara keseluruhan, risalah ini dinilai sedikit lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar dan menahan optimisme investor.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Karena adanya sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga membatasi ekspektasi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Risalah The Fed Guncang Pasar, Emas Berbalik Naik di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga
Risalah FOMC menunjukkan fleksibilitas kebijakan The Fed, dengan peluang pemangkasan atau bahkan kenaikan suku bunga bergantung pada arah inflasi.
Penguatan dolar AS dan meredanya ketegangan geopolitik menjadi hambatan bagi kenaikan harga emas.
Harga emas bangkit tajam pada Rabu setelah sempat terkoreksi lebih dari 2% di sesi sebelumnya, seiring pelaku pasar menanti rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, dengan pasar memperkirakan peluang 92% suku bunga tetap ditahan pada pertemuan Maret. Risalah tersebut menjadi sorotan karena dinilai dapat mengubah ekspektasi arah pemangkasan suku bunga ke depan.
Dalam risalah yang dirilis, sejumlah pejabat menyatakan pemangkasan suku bunga masih mungkin dilakukan jika inflasi terus melandai sesuai proyeksi. Namun, The Fed menegaskan tidak memiliki bias satu arah, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi tetap tinggi. Data ekonomi AS menunjukkan sinyal beragam: inflasi Januari turun ke 2,4%—terendah dalam empat tahun—sementara pasar tenaga kerja tetap solid dengan tambahan 312 ribu pekerjaan. Setelah rilis risalah, US Dollar Index (DXY) menguat ke kisaran 97,70, tertinggi dalam sepekan.
Di sisi geopolitik, meredanya ketegangan AS–Iran turut mengikis premi risiko yang sebelumnya mendorong emas mencetak rekor di atas USD 5.595 pada akhir Januari. Likuiditas pasar yang tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di China juga memicu volatilitas dua arah pada aset safe haven. Meski Bank Sentral China dilaporkan memperpanjang pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, penguatan dolar dan ketidakpastian arah kebijakan moneter tetap menjadi faktor penekan bagi logam mulia dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif: Karena meski ada peluang pelonggaran suku bunga, penguatan dolar dan sikap fleksibel The Fed membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.
Risalah The Fed Beri Sinyal Hawkish, Wall Street Pangkas Kenaikan
Ketegangan geopolitik AS–Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak lebih dari 4%.
Gagalnya pembicaraan damai Rusia–Ukraina meningkatkan risiko penurunan ekspor Rusia ke pasar global.
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada Rabu, didorong kekhawatiran gangguan pasokan akibat meningkatnya risiko konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta kegagalan pembicaraan damai Rusia–Ukraina di Jenewa mencapai terobosan. Kontrak Brent ditutup naik 4,35% ke USD 70,35 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,59% ke USD 65,19 per barel, mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 30 Januari. Kenaikan tajam terjadi menjelang akhir sesi setelah laporan media menyebutkan Israel meningkatkan status siaga terkait potensi serangan terhadap Iran.
Pasar energi merespons cepat perkembangan geopolitik. Kekhawatiran meningkat setelah laporan penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran untuk latihan militer, meskipun hanya berlangsung beberapa jam. Selat tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak global. Di sisi lain, peluang serangan militer AS terhadap Iran sebelum akhir April dinilai mencapai 65% oleh konsultan Eurasia Group. Ketegangan ini membuat pasar kembali memasukkan premi risiko pasokan ke dalam harga minyak.
Sementara itu, perundingan damai Rusia dan Ukraina yang dimediasi AS berakhir tanpa kemajuan berarti. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut pembicaraan berlangsung sulit dan menuduh Rusia menghambat proses negosiasi. Jika pembatasan ekspor Rusia diperketat akibat kegagalan diplomasi, pasokan global berpotensi semakin tertekan. Investor kini juga menantikan data persediaan minyak AS dari API dan EIA untuk mengukur kondisi fundamental pasar.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Karena meningkatnya risiko geopolitik memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan global.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- Philadelphia Fed Manufacturing Index (Feb)
Diperkirakan ada penurunan dari 12.6 ke 7.5 mengindikasikan perlambatan aktivitas manufaktur di wilayah AS. Hal ini menunjukkan momentum sektor industri mulai melemah.
Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah ringan karena sinyal perlambatan ekonomi.
- Initial Jobless Claims
Diperkirakan ada penurunan klaim pengangguran dari 227K ke 223K mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Hal ini menunjukkan ekonomi belum mengalami tekanan signifikan dari sisi ketenagakerjaan.
Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat ringan karena tenaga kerja tetap solid.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
