Dolar AS Menguat Tipis Jelang Badai Data Inflasi dan Rapat Bank Sentral Global
Dolar AS menguat tipis menjelang rilis CPI dan data tenaga kerja, namun pasar belum melihat pemicu kuat untuk perubahan arah kebijakan The Fed.
Pelemahan pound, euro, dan yen menjelang keputusan bank sentral masing-masing turut mendukung posisi dolar dalam jangka pendek.
Dolar AS bergerak menguat terbatas pada Kamis, mempertahankan kenaikan sebelumnya menjelang serangkaian pertemuan bank sentral di Eropa serta rilis data inflasi utama AS. Indeks Dolar naik tipis ke area 98,12, meski secara tahunan masih mencatat pelemahan lebih dari 9%, terburuk sejak 2017. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang cenderung wait and see di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Pelaku pasar kini fokus pada lanjutan data ekonomi AS, termasuk klaim pengangguran mingguan dan CPI, untuk mengukur prospek suku bunga The Fed di tahun depan. Data tenaga kerja terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang moderat, namun tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak 2021. Meski inflasi diperkirakan masih cukup lengket, pasar menilai data tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi kebijakan The Fed secara signifikan dalam waktu dekat.
Di sisi global, tekanan terhadap mata uang lain turut menopang dolar. Pound sterling melemah jelang keputusan Bank of England yang diperkirakan memangkas suku bunga, sementara euro tertekan karena ECB diproyeksikan menahan kebijakan. Yen Jepang juga melemah menjelang rapat Bank of Japan, meskipun peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka seiring inflasi dan upah yang meningkat di Jepang.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk Dollar AS: Dolar AS mendapat dukungan jangka pendek dari ketidakpastian global dan perbedaan arah kebijakan bank sentral, meski potensi penguatan masih terbatas.
Emas Gagal Bertahan di Dekat Rekor, Data Inflasi Melemah Namun Pasar Tetap Waspada
Inflasi AS melemah ke level terendah multi-tahun, tetapi keraguan atas kualitas data membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap terbatas dalam jangka pendek.
Dolar AS yang lebih lemah, penurunan yield riil, dan risiko geopolitik masih menopang harga emas meski terjadi koreksi jangka pendek.
Harga emas terkoreksi pada Kamis setelah mendekati level tertinggi hampir dua bulan di area $4.374, seiring aksi ambil untung menyusul rilis inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan. Data CPI November menunjukkan tekanan harga terus mereda, mendorong emas sempat mendekati rekor $4.381 sebelum kembali turun ke sekitar $4.335. Namun, reli tersebut tidak berlanjut karena pelaku pasar meragukan keandalan data akibat gangguan shutdown pemerintah AS.
Inflasi inti AS tercatat pada level terendah sejak awal 2021, tetapi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat relatif tidak berubah. Pasar masih menilai peluang penurunan suku bunga pada Januari terbatas, dengan fokus bergeser ke paruh kedua tahun depan. Di sisi lain, data ketenagakerjaan yang masih solid serta komentar pejabat The Fed yang berhati-hati menahan optimisme pasar terhadap pelonggaran kebijakan agresif.
Meski demikian, pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil riil tetap menjadi penopang harga emas. Faktor geopolitik, termasuk ketegangan AS–Venezuela dan dinamika global lainnya, juga menjaga minat safe haven. Dengan tekanan inflasi yang menurun namun kebijakan moneter masih ketat, emas cenderung bergerak volatil di dekat level tinggi sambil menunggu kepastian arah kebijakan The Fed.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Tekanan jangka pendek dari aksi ambil untung masih ada, namun fundamental makro dan faktor safe haven menjaga bias naik emas.
Ekspor Minyak Venezuela ke China Berlanjut, Pasar Waspadai Risiko Gangguan Pasokan Global
Ketegangan AS–Venezuela dan potensi sanksi tambahan terhadap Rusia meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global.
Data EIA menunjukkan permintaan bahan bakar AS melemah, menahan kenaikan harga minyak di tengah risiko geopolitik.
Harga minyak bergerak menguat tipis pada Kamis setelah Venezuela mengizinkan dua supertanker (VLCC) berlayar menuju China, meski ketegangan dengan Amerika Serikat meningkat menyusul kebijakan blokade terhadap kapal tanker yang terkena sanksi. Kedua kapal tersebut mengangkut masing-masing sekitar 1,9 juta barel minyak berat Merey dan tidak termasuk dalam daftar sanksi AS, meskipun langkah ini tetap menambah ketidakpastian pasokan global. Pada saat yang sama, Brent dan WTI mencatat kenaikan terbatas, namun masih berada di jalur penurunan mingguan akibat kekhawatiran surplus pasokan dan potensi kesepakatan damai Rusia–Ukraina.
Ketegangan geopolitik menjadi fokus utama pasar, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap tanker minyak Venezuela yang berada di bawah sanksi. Analis menilai kebijakan ini berpotensi mengganggu hingga ratusan ribu barel per hari ekspor Venezuela, terutama ke China, meskipun efektivitas dan durasi blokade masih menjadi tanda tanya. Risiko tambahan juga datang dari kemungkinan sanksi yang lebih ketat terhadap sektor energi Rusia jika upaya perdamaian Ukraina gagal, yang dapat memperketat pasokan dari salah satu eksportir minyak terbesar dunia.
Dari sisi fundamental, data terbaru EIA menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan, sementara persediaan bensin dan distilat justru meningkat signifikan. Kondisi ini mengindikasikan permintaan bahan bakar yang masih lemah, sehingga membatasi potensi reli harga minyak meski risiko geopolitik meningkat. Kombinasi antara ancaman gangguan pasokan dan kekhawatiran kelebihan suplai membuat pergerakan harga tetap rentan volatilitas.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Oil: Meski risiko geopolitik memberi dukungan jangka pendek, kekhawatiran surplus pasokan dan lemahnya permintaan masih menekan prospek harga minyak..
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi JPY dan USD:
- JPY – BoJ Interest Rate Decision
Forecast kenaikan ke 0,75% dari 0,50% mengindikasikan BoJ semakin condong ke arah kebijakan lebih ketat. Jika keputusan sesuai ekspektasi, JPY berpotensi menguat. Namun jika BoJ memberi sinyal hati-hati atau kurang hawkish, penguatan JPY bisa terbatas dan berisiko koreksi.
USD – Core PCE Price Index (MoM) (Oct)
Belum ada forecast resmi, sehingga pasar cenderung menunggu arah data. Jika rilis lebih tinggi dari ekspektasi pasar, USD berpotensi menguat karena inflasi inti masih persisten. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat melemahkan USD
- USD – Core PCE Price Index (YoY) (Oct)
Tanpa forecast baru, reaksi pasar akan bergantung pada deviasi dari tren sebelumnya. Jika inflasi tahunan tetap tinggi, USD cenderung tetap kuat karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan. Penurunan signifikan berpotensi menekan USD
- USD – Existing Home Sales (Nov)
Forecast naik ke 4,15M dari 4,10M menunjukkan sektor perumahan diperkirakan membaik. Jika data sesuai atau lebih tinggi, USD berpotensi menguat ringan. Namun jika hasil di bawah forecast, USD bisa melemah terbatas.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
