Wall Street Tergelincir di Tengah Shutdown dan Perang Dagang, Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Meningkat.

  • Shutdown AS dan perang dagang dengan China menekan indeks saham utama AS.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed makin kuat setelah data manufaktur dan pasar tenaga kerja melemah.

Indeks S&P 500 dan Dow Jones ditutup melemah pada Kamis (16/10) seiring investor terus menimbang dampak negatif dari kebuntuan shutdown pemerintahan AS dan memanasnya ketegangan dagang AS–China. Kekhawatiran meningkat setelah Senat kembali gagal meloloskan rancangan pendanaan pemerintah, memperpanjang shutdown yang kini memasuki minggu ketiga dan mengancam terjadinya pemutusan hubungan kerja permanen di sektor publik.

Di sisi lain, sentimen pasar makin tertekan oleh pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak akan melunak terhadap Beijing, bahkan ketika pasar bereaksi negatif. Presiden Trump juga memicu ketegangan baru dengan ancaman pemutusan perdagangan minyak goreng dan tudingan bahwa China sengaja menahan pembelian kedelai AS. Namun, sedikit harapan muncul setelah Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump dan Putin mengadakan pembicaraan “produktif” untuk membuka kembali jalur diplomasi AS–Rusia terkait perang Ukraina.

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Christopher Waller kembali menegaskan dukungannya untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan akhir Oktober, mengingat melemahnya data ketenagakerjaan dan kontraksi sektor manufaktur di wilayah Mid-Atlantic. Imbal hasil obligasi 2 tahun jatuh ke level terendah dalam dua tahun, menandakan meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish indeks saham AS – Alasannya, kombinasi ketidakpastian politik, shutdown berkepanjangan, serta meningkatnya kekhawatiran ekonomi global menekan sentimen risiko, membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham AS.

Emas Sentuh Rekor $4.300: Lonjakan Aset Aman di Tengah Perang Dagang dan Shutdown AS.

  • Ketegangan dagang AS–China dan shutdown AS meningkatkan permintaan emas sebagai aset aman.

  • Ekspektasi kuat terhadap pemangkasan suku bunga The Fed memperlemah dolar dan memperkuat momentum bullish emas.

Harga emas melanjutkan reli spektakulernya pada Kamis (16/10), menembus rekor baru di kisaran $4.300 per ons — naik hampir 11% sepanjang Oktober dan lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketegangan perdagangan AS–China dan ketidakpastian akibat penutupan pemerintahan AS yang kini memasuki minggu ketiga. Pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang menurun turut memperkuat daya tarik emas.

Eskalasi perang dagang semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump berencana memberlakukan tarif 100% atas seluruh impor China mulai 1 November, sebagai respons terhadap pembatasan ekspor mineral langka dari Beijing. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran dampak negatif terhadap pertumbuhan global. Di sisi lain, pasar menilai The Fed akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan akhir Oktober dan Desember untuk menopang ekonomi yang mulai melemah.

Bank-bank besar seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan ANZ memperkirakan reli emas masih jauh dari selesai, dengan target harga mencapai $4.400–$5.000 per ons dalam 1–2 tahun ke depan. 

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — Kombinasi perang dagang yang memanas, pelemahan dolar, dan prospek pemangkasan suku bunga Fed menjadi katalis utama yang mendorong reli emas berlanjut, dengan potensi menuju $4.350–$4.400 dalam jangka pendek.

Minyak Anjlok ke Level Terendah 5 Bulan: Harapan Perdamaian Ukraina dan Lonjakan Stok AS Tekan Harga.

  • Trump–Putin berencana bertemu untuk bahas perdamaian Ukraina, menimbulkan ekspektasi peningkatan pasokan minyak global.

  • Stok minyak AS naik jauh di atas perkiraan, menandakan lemahnya permintaan dan tekanan pasokan berlebih.

Harga minyak turun lebih dari 1% pada Kamis (17/10) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Hungaria untuk membahas potensi akhir perang Ukraina. Pernyataan tersebut menimbulkan ketidakpastian baru terhadap pasokan energi global. Brent ditutup melemah 1,37% ke $61,06 per barel, sementara WTI turun 1,39% ke $57,46 — level terendah sejak awal Mei.

Tekanan harga semakin besar setelah laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS melonjak 3,5 juta barel, jauh di atas perkiraan kenaikan 288 ribu barel. Kelebihan pasokan ini terjadi di tengah pelemahan permintaan kilang dan rekor produksi AS yang mencapai 13,636 juta barel per hari. Data tersebut menegaskan lemahnya permintaan minyak di pasar domestik.

Sementara itu, prospek berkurangnya impor minyak Rusia oleh India menambah ketidakpastian arah pasokan global. Meski Trump menyebut Perdana Menteri Narendra Modi sepakat menghentikan pembelian minyak Rusia, New Delhi menegaskan tetap fokus pada kestabilan harga energi. Di sisi lain, Inggris kembali menekan Moskow dengan sanksi baru terhadap Rosneft dan Lukoil, menambah kompleksitas geopolitik di pasar energi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Kombinasi potensi de-eskalasi konflik Ukraina dan lonjakan stok AS memperkuat ekspektasi surplus pasokan global, menekan harga minyak lebih dalam dalam jangka pendek.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR:

  • CPI (EUR): Kenaikan inflasi tahunan yang diperkirakan (2.2% vs 2.0%) dapat meningkatkan tekanan pada Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, yang berpotensi mendukung EUR (⬆️).

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: