Goldman Sachs Tetap Pesimistis pada Pound, Tekanan Domestik dan Sinyal Pelonggaran BoE Membayangi

  • Goldman Sachs menilai inflasi dan pasar tenaga kerja Inggris yang melemah akan mendorong pelonggaran kebijakan BoE, sehingga membebani pound.

  • Perbedaan kebijakan moneter dengan ECB memperkuat prospek pelemahan GBP terhadap euro.

Goldman Sachs mempertahankan pandangan bearish terhadap Pound Sterling, meskipun data ekonomi Inggris belakangan menunjukkan perbaikan. Bank investasi tersebut menilai bahwa pergerakan GBP saat ini lebih dipengaruhi faktor domestik dibanding sentimen global. Menurut Goldman, meski pertumbuhan dan aktivitas Inggris cukup tangguh, kinerjanya masih tertinggal dibandingkan data kawasan euro, dan indikator ke depan Eropa menunjukkan tren keunggulan itu berpotensi berlanjut.

Goldman menekankan bahwa pelemahan inflasi dan pasar tenaga kerja Inggris akan lebih menentukan arah kebijakan Bank of England dibandingkan angka pertumbuhan. Hal ini memperkuat skenario “catching down” ekonomi Inggris dan membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam pertemuan mendatang. Bank tersebut mempertahankan rekomendasi taktis long EUR/GBP dengan target 0,8740, meski mengakui bahwa posisi short Sterling yang sudah padat serta rilis CPI dan data tenaga kerja pekan ini menjadi risiko taktis utama.

Di pasar, pound bergerak terbatas menjelang rilis data penting, sementara ketidakpastian politik yang sempat menekan mata uang Inggris mulai mereda. Sterling terakhir berada di sekitar US$1,3647 dan 86,96 pence per euro. European Central Bank diperkirakan mempertahankan suku bunga hingga 2026, berbeda dengan ekspektasi pasar yang hampir sepenuhnya memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga oleh BoE tahun ini. Meski tekanan politik terhadap pemerintahan Keir Starmer mereda, analis menilai setiap gejolak baru berpotensi kembali menekan pound.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif untuk Pound Sterling: Karena tekanan domestik dan ekspektasi penurunan suku bunga membuat prospek Pound Sterling tetap lemah meski ada perbaikan data jangka pendek.

 
 

Dolar Menguat, Emas Terkoreksi di Tengah Likuiditas Tipis dan Ketegangan Timur Tengah

  • Penguatan dolar AS di atas DXY 97,00 menekan harga emas meski ekspektasi penurunan suku bunga masih tinggi.

  • Ketegangan geopolitik Timur Tengah dan agenda data ekonomi AS berpotensi memicu volatilitas lanjutan.

Harga emas dunia melemah hampir 1% pada Senin dalam kondisi likuiditas pasar yang tipis karena libur Presidents’ Day di Amerika Serikat dan penutupan pasar China akibat Tahun Baru Imlek. XAU/USD turun ke sekitar US$4.992 setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di US$5.054. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS, di mana US Dollar Index (DXY) kembali menembus level 97,00 dan naik sekitar 0,22%.

Meski pasar masih memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter sekitar 60 basis poin tahun ini, penguatan dolar membatasi ruang kenaikan emas. Penurunan imbal hasil obligasi AS—dengan yield Treasury 10 tahun turun ke 4,05%—tidak cukup menahan tekanan jual. Di sisi lain, pernyataan hawkish dari Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee yang menyoroti inflasi jasa yang masih tinggi mempertegas sikap hati-hati bank sentral. Pasar juga memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan Maret.

Dari sisi geopolitik, ketegangan kembali meningkat setelah IRGC Iran menggelar latihan laut di Selat Hormuz menjelang perundingan nuklir dengan AS, sementara Rusia dan Ukraina dijadwalkan menggelar pembicaraan di Jenewa. Pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada risalah Federal Open Market Committee, data pesanan barang tahan lama, hingga rilis Core PCE. Kombinasi faktor makro dan geopolitik ini diperkirakan akan menjaga volatilitas emas tetap tinggi.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Karena dominasi penguatan dolar dan likuiditas tipis menekan harga emas, meski risiko geopolitik dan ekspektasi pelonggaran kebijakan tetap menjadi penyangga.

Harga Minyak Bertahan di Tengah Diplomasi AS–Iran dan Rusia, Namun Berisiko Turun di Paruh Kedua

  • Citi memproyeksikan harga minyak dapat turun ke US$60–62 jika kesepakatan damai Rusia–Ukraina dan AS–Iran tercapai.

  • OPEC+ berpotensi meningkatkan produksi mulai April, yang dapat menekan harga jika pasokan kembali melimpah.

Harga minyak dunia masih mendapat dukungan jangka pendek seiring meningkatnya tekanan diplomatik dari Presiden AS Donald Trump untuk mendorong kesepakatan damai terkait Rusia–Ukraina dan Iran. Brent telah reli dari sekitar US$60 ke mendekati US$70 per barel dalam sebulan terakhir, dipicu pengetatan sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran serta gangguan pasokan. Namun, Citi menilai bahwa jika kesepakatan tercapai pada musim panas ini, harga Brent berpotensi turun kembali ke kisaran US$60–62 per barel.

Tekanan tambahan datang dari kebijakan OPEC+ yang condong melanjutkan kenaikan produksi mulai April, seiring persiapan menghadapi puncak permintaan musim panas. Citi memperkirakan, bila gangguan pasokan Rusia mempertahankan Brent di kisaran US$65–70, OPEC+ akan menambah output dari kapasitas cadangan. Sementara itu, China terus membeli minyak Rusia dan Iran dengan diskon untuk konsumsi dan stok, tren yang diperkirakan berlanjut sepanjang 2026 selama sanksi masih berlaku.

Di pasar, Brent ditutup naik 1,33% ke US$68,65 per barel, sedangkan WTI menguat 1,37% ke US$63,75. Sentimen didorong harapan de-eskalasi menjelang putaran kedua perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa, meski risiko tetap tinggi. Analis memperingatkan, eskalasi dapat mendorong Brent ke US$80, sementara meredanya ketegangan bisa menekan harga kembali ke US$60. Dengan kombinasi diplomasi, kebijakan produksi, dan geopolitik, volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Karena potensi kesepakatan geopolitik dan peningkatan produksi OPEC+ berisiko menambah pasokan dan menekan harga minyak.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR:

  • German CPI (MoM) (Jan)

Angka yang diperkirakan tetap di 0.1% mengindikasikan tekanan inflasi di Jerman masih stabil dan belum menunjukkan percepatan berarti. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga belum cukup kuat untuk mendorong ECB mengambil langkah pengetatan lanjutan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut mengindikasikan sentimen pasar cenderung netral terhadap EUR karena tidak ada perubahan signifikan dalam ekspektasi kebijakan moneter.

Dampak:
➡️ EUR berpotensi bergerak sideways, karena inflasi belum memberi sinyal kebijakan baru dari ECB.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: