Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Campuran, Pasar Nilai The Fed Tetap Berhati-hati
Data tenaga kerja AS yang campuran meningkatkan ekspektasi The Fed akan bersikap hati-hati dalam melanjutkan pemangkasan suku bunga.
Perbedaan arah kebijakan bank sentral global memperkuat mata uang utama lain dan menekan pergerakan dolar AS.
Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama pada Selasa setelah rilis data tenaga kerja AS yang tertunda menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja lebih baik dari perkiraan. Meski penambahan 64.000 pekerjaan pada November melampaui estimasi pasar, kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,6% menimbulkan keraguan bahwa Federal Reserve akan agresif memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Pelaku pasar menilai laporan tersebut belum cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan The Fed secara signifikan. Probabilitas penahanan suku bunga pada pertemuan Januari meningkat, sementara struktur penciptaan lapangan kerja yang didominasi sektor non-siklikal menandakan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya menguat. Akibatnya, respons pasar terhadap dolar cenderung negatif dan terbatas.
Di sisi global, perhatian pasar tertuju pada keputusan bank sentral utama. ECB diperkirakan menahan suku bunga dengan sikap “higher for longer” yang menopang euro, sementara Bank of England menghadapi keputusan yang ketat dengan peluang pemangkasan suku bunga. Yen menguat menjelang keputusan BoJ yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga, menambah tekanan pada dolar AS di pasar valas.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Berish untuk Dollar AS: Meski data ketenagakerjaan AS menunjukkan perbaikan terbatas, kenaikan pengangguran dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed membuat dolar AS cenderung melemah dalam jangka pendek.
Emas Gagal Bertahan di Puncak: Data Tenaga Kerja AS Campuran Redam Ekspektasi Pelonggaran The Fed.
Data tenaga kerja AS yang campuran mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Komentar The Fed yang cenderung hawkish dan konsumsi AS yang masih solid menahan reli emas meski pengangguran meningkat.
Harga emas (XAU/USD) sempat melonjak hingga $4.335 setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran ke level tertinggi sejak 2021. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Setelah pasar mencerna data secara menyeluruh, emas berbalik arah dan turun ke sekitar $4.296, mencerminkan penilaian ulang pelaku pasar terhadap prospek pemangkasan suku bunga The Fed.
Laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan sinyal yang saling bertolak belakang. Nonfarm Payrolls tercatat lebih baik dari ekspektasi, sementara tingkat pengangguran meningkat. Di saat yang sama, data Retail Sales menunjukkan konsumsi rumah tangga masih relatif tangguh. Kombinasi ini menahan ekspektasi kebijakan moneter yang terlalu dovish, tercermin dari probabilitas pemangkasan suku bunga awal 2026 yang masih rendah.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik masih menopang emas, meski sentimen safe haven sempat mereda akibat mandeknya pembicaraan damai Rusia–Ukraina. Pernyataan pejabat The Fed, khususnya Raphael Bostic, yang menyoroti tekanan inflasi yang masih bertahan dan preferensi menjaga kebijakan tetap ketat, turut membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish: Meskipun ada dukungan dari kenaikan pengangguran dan risiko geopolitik, ekspektasi pelonggaran moneter yang tertahan serta sikap hati-hati The Fed membuat arah harga emas cenderung tertekan dalam jangka pendek.
Harga Minyak Terjun ke Level Terendah Sejak 2021, Bayangan Surplus Global Kian Menguat
Ekspektasi tambahan pasokan Rusia dan surplus minyak global menekan harga ke level terendah dalam hampir empat tahun.
Data ekonomi China yang melemah memperkuat kekhawatiran bahwa permintaan global tidak mampu menyerap pertumbuhan suplai.
Harga minyak dunia ditutup melemah tajam pada Selasa dan mencatat level terendah sejak Februari 2021. Brent anjlok 2,71% ke $58,92 per barel, sementara WTI turun 2,73% ke $55,27 per barel. Tekanan harga dipicu kekhawatiran berlanjutnya kelebihan pasokan global serta meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai Rusia–Ukraina yang dapat membuka kembali pasokan minyak Rusia ke pasar.
Prospek meredanya konflik Rusia–Ukraina memicu ekspektasi pelonggaran sanksi, yang dinilai berpotensi menambah suplai global secara signifikan. Struktur pasar pun melemah, tercermin dari spread Brent enam bulan yang kembali masuk ke zona contango untuk pertama kalinya sejak Oktober, menandakan pasokan jangka pendek yang berlimpah. Sejumlah lembaga memperkirakan surplus minyak tetap besar hingga 2026.
Tekanan semakin kuat setelah data ekonomi China menunjukkan perlambatan aktivitas industri dan konsumsi, mempertegas kekhawatiran lemahnya permintaan global. Meski ada faktor penahan seperti penyitaan kapal tanker Venezuela oleh AS, dampaknya dinilai terbatas karena stok terapung yang melimpah dan peningkatan pembelian China sebelumnya telah mengimbangi gangguan pasokan tersebut.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish: Dominasi faktor kelebihan pasokan, lemahnya permintaan, dan berkurangnya risiko geopolitik membuat arah harga minyak cenderung tertekan dan berpotensi bertahan rendah dalam jangka menengah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP, EUR dan USD:
GBP – CPI (YoY) (Nov)
Dengan forecast turun ke 3,5% dari 3,6%, inflasi Inggris diperkirakan melandai. Jika rilis sesuai atau lebih rendah, GBP berpotensi melemah karena ekspektasi kebijakan BoE menjadi lebih dovish. Sebaliknya, jika inflasi kembali naik, GBP berpotensi menguat.
EUR – CPI (YoY) (Nov)
Forecast yang stagnan di 2,2% menunjukkan inflasi zona euro stabil. Jika data sesuai ekspektasi, EUR cenderung bergerak netral. Namun jika inflasi turun di bawah 2,2%, EUR berpotensi tertekan, sementara kenaikan di atas forecast dapat memberi dorongan penguatan EUR.
USD – Crude Oil Inventories
Forecast penurunan stok yang lebih besar (-2,400M) dibanding sebelumnya menunjukkan permintaan minyak yang kuat. Jika stok turun lebih dalam, harga minyak berpotensi naik, yang dapat mendorong inflasi dan menopang USD. Sebaliknya, jika stok justru naik, USD berpotensi melemah.
.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
