Serangan AS ke Iran Memicu Alarm Energi Global: Selat Hormuz di Ambang Krisis Baru
AS menyerang target militer Iran di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak strategis Iran di Teluk Persia.
Iran mengancam balasan terhadap fasilitas energi terkait AS, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara besar terhadap target militer Iran di Pulau Kharg, sebuah lokasi strategis di Teluk Persia yang menjadi pusat ekspor minyak Iran. Trump menyatakan operasi tersebut merupakan salah satu serangan paling kuat dalam sejarah kawasan Timur Tengah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa infrastruktur minyak di pulau tersebut sengaja tidak dihancurkan demi menjaga stabilitas pasar energi global.
Pulau Kharg sendiri merupakan titik vital yang mengelola hampir seluruh ekspor minyak Iran. Hingga saat ini, baik Amerika Serikat maupun Israel sebelumnya menghindari serangan langsung terhadap fasilitas energi tersebut. Namun, pejabat pemerintahan AS menyebutkan bahwa opsi untuk menguasai pulau tersebut tetap terbuka jika Iran terus mengganggu jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Iran mengancam akan menghancurkan fasilitas minyak yang terkait dengan perusahaan atau negara yang bekerja sama dengan Amerika Serikat jika infrastruktur energinya diserang. Ketegangan meningkat ketika Qatar melaporkan berhasil mencegat serangan rudal yang mengarah ke wilayahnya. Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik regional yang dapat memicu lonjakan volatilitas di pasar minyak global.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen positif untuk Dollar AS: Eskalasi konflik militer meningkatkan sentimen risk-off global, sehingga investor beralih ke aset safe haven seperti Dolar AS. Meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko inflasi akibat lonjakan energi cenderung meningkatkan permintaan terhadap likuiditas USD dan aset-aset AS.
Emas Tersandung di Tengah Krisis Timur Tengah: Dolar AS Rebut Status Safe Haven
Harga emas turun lebih dari 2% dalam sepekan karena penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi.
Risiko stagflasi meningkat akibat perlambatan ekonomi AS dan tekanan inflasi dari konflik energi global.
Harga emas melemah sekitar 0,70% pada Jumat dan diperkirakan menutup minggu ini dengan penurunan lebih dari 2%. Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS yang kembali menjadi aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah. Indeks Dolar AS (DXY) naik ke level 100,43 sehingga menekan harga emas yang turun ke sekitar $5.032 setelah sempat menyentuh $5.128 pada perdagangan harian.
Data ekonomi Amerika Serikat juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Produk Domestik Bruto (GDP) kuartal IV 2025 direvisi turun dari 1,4% menjadi 0,7% secara tahunan, sementara inflasi inti PCE tetap berada di level 3,1%. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran skenario stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melemah namun inflasi tetap tinggi. Lembaga pemeringkat S&P memperingatkan bahwa konflik Iran dapat memicu gangguan pasokan energi berkepanjangan yang berdampak pada inflasi global.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat dengan yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,286%, menambah tekanan terhadap logam mulia. Pasar kini memperkirakan Federal Reserve hanya akan melakukan pelonggaran suku bunga terbatas sekitar 20 basis poin. Investor selanjutnya akan fokus pada pertemuan The Fed serta sejumlah data ekonomi penting seperti produksi industri, inflasi produsen (PPI), dan data tenaga kerja yang akan dirilis pekan depan.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif untuk emas: Penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi membuat investor beralih dari emas. Kekhawatiran stagflasi serta ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed meningkatkan volatilitas dan menekan harga emas dalam jangka pendek.
Minyak Dunia Bergejolak: AS Kuras Cadangan Strategis di Tengah Ancaman Krisis Energi Global
AS dan sekutunya melepas hingga 400 juta barel cadangan minyak global untuk menekan lonjakan harga energi akibat konflik Iran.
Selat Hormuz terganggu, memicu lonjakan harga minyak lebih dari 40% dalam dua minggu dan meningkatkan risiko inflasi global.
Pemerintah Amerika Serikat memulai langkah besar dengan menarik 86 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai bagian dari rencana pelepasan total 172 juta barel. Kebijakan ini dilakukan untuk meredam lonjakan harga energi global setelah konflik Iran mengganggu jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20% minyak dunia. Departemen Energi AS menyatakan minyak tersebut akan mulai disalurkan ke pasar pekan depan guna meningkatkan likuiditas dan menekan harga bahan bakar.
Langkah ini merupakan bagian dari koordinasi internasional yang lebih luas dengan total pelepasan hingga 400 juta barel cadangan strategis. Perusahaan yang meminjam minyak dari cadangan AS diwajibkan mengembalikannya di masa depan dengan tambahan premi barel. Pemerintah juga berencana mengisi kembali cadangan tersebut dengan sekitar 200 juta barel dalam satu tahun mendatang, sebagai strategi jangka panjang untuk menstabilkan pasokan energi.
Namun, pasar tetap waspada karena konflik Iran telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Harga minyak tetap bertahan di atas $100 per barel, dengan Brent mencapai $103,69 dan WTI $99,31 setelah melonjak lebih dari 40% dalam dua minggu terakhir. Meskipun berbagai langkah seperti pelepasan cadangan minyak global dan pelonggaran pembelian minyak Rusia dilakukan, analis menilai gangguan pasokan berpotensi menjadi struktural dan dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih besar.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Konflik geopolitik dan gangguan pasokan minyak bersifat struktural, bukan sementara. Harga minyak sudah menembus $100 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, yang dapat memicu tekanan inflasi dan ketidakstabilan ekonomi global.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
