Wall Street Tertekan Meski Nasdaq Cetak Rekor: Tarik-Ulur CPI, Tarif, dan Deal Trump.

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • Data CPI Juni naik lebih tinggi dari perkiraan, memicu kekhawatiran inflasi masih tinggi dan menahan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

  • Trump mengumumkan deal dagang baru dengan Indonesia, disertai tarif 19% dan ancaman tarif lebih luas terhadap negara yang tidak “membuka pasar”.

Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,4% pada Selasa (15 Juli 2025), terseret sektor keuangan meski saham teknologi seperti Nvidia mendorong Nasdaq mencetak rekor penutupan baru di 20.677,80. Dow Jones turun 436 poin, atau 1%, dipicu oleh laporan pendapatan bank besar yang beragam, sementara pasar menanti arah kebijakan suku bunga The Fed.

Data inflasi AS menunjukkan CPI Juni naik 2,7% YoY (di atas ekspektasi 2,6%), dengan inflasi inti melandai ke 2,9% dari 3,0%. Meski ada pelonggaran pada inflasi inti, tekanan dari tarif Trump yang terus meluas dinilai akan membatasi ruang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Trump juga menegaskan keinginannya agar Fed memangkas suku bunga 3 poin, menilai inflasi kini “sangat rendah”, meski data justru menunjukkan tekanan harga meningkat.

Trump mengumumkan kesepakatan dagang awal dengan Indonesia, termasuk komitmen pembelian 50 pesawat Boeing, impor energi senilai $15 miliar, dan tarif 19% untuk seluruh barang Indonesia. Ia juga melontarkan ancaman tarif sekunder terhadap Rusia dan menegaskan akan menjatuhkan sanksi jika tidak ada kesepakatan damai dalam 50 hari. Retorika Trump terkait tarif, Fed, dan perdagangan tetap menjadi pendorong utama volatilitas pasar.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Negatif (Bearish) – Pasar saham AS berada di bawah tekanan karena kombinasi kekhawatiran inflasi yang masih tinggi, tekanan tarif Trump, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Fed. Katalis positif dari sektor teknologi tidak mampu mengimbangi tekanan dari sektor keuangan dan geopolitik.

Emas Tersandung CPI dan Dolar: Trump, Tarif, dan Yields Jadi Tekanan Ganda.

  • Data inflasi AS tetap tinggi dan memperkuat Dolar AS, yang menekan harga emas.

  • Imbal hasil obligasi AS naik, memperkecil peluang pemangkasan suku bunga, sehingga menambah tekanan pada emas.

Harga emas turun lebih dari 0,4% pada Selasa (15 Juli 2025), ke level $3.329 per troy ounce, setelah rilis data inflasi AS memperkuat Dolar dan menekan logam mulia. Meskipun Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 30% ke Uni Eropa dan Meksiko, serta meneken kesepakatan dagang dengan Indonesia, sentimen penghindaran risiko gagal mendongkrak harga emas.

Data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juni menunjukkan inflasi utama naik 2,7% YoY dan inflasi inti 2,9%—masih di atas target Fed sebesar 2%. Ini mendorong Dolar AS naik 0,55% ke indeks DXY 98.64, sementara imbal hasil obligasi 10-tahun melonjak ke 4,487%. Para pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga hanya sekitar 43 basis poin hingga akhir 2025, menandakan ekspektasi pelonggaran semakin tipis.

Selain tekanan dari data makroekonomi, investor juga merespons komentar Trump yang mendesak The Fed memangkas suku bunga serta potensi kesepakatan dagang baru yang dapat meredakan ketegangan. Namun pasar lebih fokus pada data fundamental, termasuk inflasi produsen, penjualan ritel, dan data tenaga kerja pekan ini. Dalam jangka pendek, harga emas tertahan dalam kisaran sempit $3.300–$3.350

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Negatif (Bearish) – Harga emas berada dalam tekanan kuat akibat kombinasi penguatan Dolar AS, naiknya yield obligasi, dan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama menyusul inflasi yang belum cukup jinak.

Harga Minyak Tertahan Meski Stok Melonjak 19 Juta Barel: Fokus Beralih ke Data Resmi dan OPEC.

  • API melaporkan lonjakan tak terduga sebesar 19,1 juta barel stok minyak mentah, jauh dari ekspektasi penurunan.

  • OPEC tetap optimis pada prospek permintaan dan pertumbuhan ekonomi, sembari memantau perkembangan negosiasi dagang AS.

Harga minyak mentah AS (WTI) sedikit menguat pada Selasa malam ke $66.81 per barel, meskipun sebelumnya ditutup turun 0,7% ke $66.52. Kenaikan tipis ini terjadi setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan lonjakan mengejutkan sebesar 19,1 juta barel dalam stok minyak mentah pekan lalu—berbanding terbalik dengan ekspektasi penurunan 2 juta barel.

Di sisi lain, stok bensin turun 4,53 juta barel dan distilat turun 2,4 juta barel, menandakan kuatnya permintaan untuk produk olahan. Pelaku pasar kini menanti laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis Rabu pukul 10:30 pagi waktu AS Timur (1430 GMT), yang dapat mengkonfirmasi atau membantah data API tersebut.

Sementara itu, OPEC tetap mempertahankan proyeksi permintaan global minyak tidak berubah dalam laporan bulanannya, sembari menyatakan optimisme bahwa ketegangan dagang AS dengan mitra utamanya akan mereda. OPEC memperkirakan bahwa kesepakatan bilateral yang mendasar dapat tercapai bulan depan, membuka ruang negosiasi lebih lanjut dan menopang prospek pertumbuhan global paruh kedua 2025.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Netral ke Negatif (Bearish Ringan) – Meski OPEC menunjukkan optimisme, lonjakan besar stok minyak mentah AS memberikan tekanan bearish jangka pendek, apalagi bila dikonfirmasi oleh data resmi EIA. Tarik-menarik antara sentimen stok dan prospek ekonomi global membuat harga minyak cenderung tertahan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Prediksi GBP dan USD:

  • CPI (GBP): Perkiraan inflasi tetap (Netral).
  • PPI (USD): Inflasi harga produsen yang lebih tinggi (⬆️) berpotensi mendukung USD.

  • Crude Oil Inventories (USD): Dampak bergantung pada data aktual.

Source: investing.com

Share on: