Inflasi AS Melandai, Dolar Tertekan di Tengah Spekulasi Penurunan Suku Bunga
Inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan spekulasi penurunan suku bunga, menekan dolar meski data tenaga kerja masih kuat.
Morgan Stanley menaikkan proyeksi pertumbuhan AS 2026 berkat lonjakan investasi, namun memperingatkan risiko boom-bust dari belanja AI.
Dolar AS melemah tipis pada Jumat setelah data inflasi konsumen menunjukkan pelambatan, yang mendorong pelaku pasar meningkatkan spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Indeks dolar turun 0,1% ke 96,87 dan mencatat potensi penurunan mingguan ketiga dalam empat pekan. Tekanan ini muncul meski sebelumnya dolar sempat ditopang laporan tenaga kerja AS yang kuat, sementara ketidakpastian kebijakan moneter meningkat menyusul pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya.
Fokus pasar tertuju pada data CPI Januari yang menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,4%, lebih rendah dari ekspektasi 2,5% dan melambat dari 2,7% pada Desember. Inflasi inti sesuai perkiraan, namun JPMorgan menilai data ini mengindikasikan pendinginan bertahap pada indeks PCE—indikator inflasi favorit The Fed. Meski demikian, bank tersebut menilai inflasi yang masih “lengket” dan risiko kenaikan harga akibat tarif membuat The Fed cenderung menahan suku bunga lebih lama, kecuali jika terjadi pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja.
Di pasar global, euro relatif stabil setelah pertumbuhan ekonomi kawasan euro kuartal IV tercatat 0,3% secara kuartalan, sementara yen menguat tajam seiring sinyal potensi intervensi dari otoritas Jepang. Di sisi lain, Morgan Stanley justru menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS 2026 menjadi 2,6%, didorong lonjakan belanja modal hyperscaler dan investasi bisnis yang lebih kuat. Meski prospeknya membaik, bank tersebut memperingatkan potensi risiko siklus boom-bust dari gelombang investasi berbasis AI jika imbal hasil tidak terealisasi.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk Dollar AS: Karena pelambatan inflasi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga dan meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Emas Tembus US$5.000, Inflasi AS Mendingin dan Pasar Bertaruh pada Penurunan Suku Bunga
Inflasi AS yang melandai ke 2,4% meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, mendorong emas naik hampir 2%.
Turunnya imbal hasil obligasi AS dan melemahnya dolar memperkuat momentum bullish pada emas.
Harga emas dunia berbalik menguat dan kembali menembus level psikologis US$5.000 pada Jumat, setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat narasi disinflasi. Logam mulia naik hampir 2% dan menghapus sebagian kerugian sehari sebelumnya, seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve berpeluang memangkas suku bunga lebih cepat. Penurunan imbal hasil obligasi AS dan melemahnya dolar turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan CPI Januari hanya naik 2,4% secara tahunan, lebih rendah dari estimasi 2,5% dan turun dari 2,7% pada Desember. Meski inflasi inti masih bertahan di 2,5%, pasar menilai tren ini cukup untuk membuka ruang pelonggaran kebijakan. Pelaku pasar kini meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga pada Juni menjadi sekitar 55%, meski pejabat bank sentral—dipimpin Jerome Powell—masih bersikap hati-hati hingga data lanjutan mengonfirmasi pendinginan harga.
Dari sisi pasar keuangan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun tajam ke sekitar 4,06%, sementara indeks dolar melemah sepanjang pekan. Fokus investor kini tertuju pada risalah Federal Open Market Committee, pidato pejabat The Fed, serta rilis Core PCE—indikator inflasi favorit bank sentral. Kombinasi suku bunga yang berpotensi lebih rendah dan pelemahan dolar diperkirakan terus menopang harga emas dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen Positif: Karena data inflasi yang lebih jinak dan ekspektasi penurunan suku bunga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Harga Minyak Bertahan di Tengah Inflasi AS Melandai dan Bayang-Bayang Banjir Pasokan
Inflasi AS yang melandai mendorong harapan penurunan suku bunga, memberi dukungan jangka pendek bagi harga minyak.
Proyeksi surplus besar dari IEA dan lonjakan stok minyak AS memperkuat kekhawatiran oversupply global.
Harga minyak dunia ditutup sedikit menguat pada Jumat, didukung data inflasi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, meski pasar masih dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan global. Kontrak Brent naik 0,3% ke US$67,75 per barel, sementara WTI menguat tipis 0,08% ke US$62,89. Namun, secara mingguan keduanya tetap mencatat penurunan, setelah jatuh hampir 3% sehari sebelumnya akibat laporan bahwa OPEC+ cenderung melanjutkan kenaikan produksi mulai April.
Dari sisi makro, CPI AS Januari menunjukkan perlambatan inflasi, dipicu oleh turunnya harga bensin dan moderasi sewa. Hal ini memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga, yang dinilai positif bagi ekonomi dan permintaan energi. Meski demikian, tekanan datang dari proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan surplus global lebih dari 3,7 juta barel per hari pada 2026, serta data EIA yang menunjukkan lonjakan stok minyak AS sebesar 8,53 juta barel—terbesar sejak Januari 2025—mengindikasikan pasokan yang sangat longgar.
Di sisi geopolitik, sentimen pasar berfluktuasi seiring perkembangan negosiasi nuklir AS–Iran, rencana Rusia melanjutkan pembicaraan damai Ukraina, serta pelonggaran sanksi energi AS terhadap Venezuela. Meski ketegangan di Timur Tengah sempat menopang harga, pernyataan Presiden Donald Trump tentang peluang kesepakatan dengan Iran meredam risiko gangguan pasokan. Sementara itu, manajer investasi meningkatkan posisi beli bersih di pasar berjangka minyak AS, meski kekhawatiran surplus dan inventori yang meningkat membuat harga tetap rentan.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Karena meski inflasi yang lebih rendah memberi angin segar bagi permintaan, risiko kelebihan pasokan dan stok yang terus meningkat lebih dominan menekan prospek harga minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi JPY:
Japan GDP (QoQ) Q4 – JPY
Pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan naik ke 0,4% dari sebelumnya -0,6%. Kenaikan ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Jepang mulai terbentuk setelah kontraksi pada kuartal sebelumnya. Perbaikan ini mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi dan stabilisasi sektor manufaktur Jepang. Namun, karena inflasi Jepang masih relatif rendah dan kebijakan moneter BoJ masih sangat longgar, dampak penguatan JPY diperkirakan bersifat terbatas dan jangka pendek.
➡️ Dampak:
JPY berpotensi menguat karena data GDP Jepang diperkirakan berbalik naik dari -0,6% menjadi 0,4%, hal ini mengindikasikan ekonomi Jepang mulai pulih.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
