Dolar AS Tertekan Menjelang Banjir Data & Arah Kebijakan Bank Sentral Global

  • Ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ dan perbedaan arah kebijakan bank sentral global menekan posisi dolar AS.

  • Rilis data tenaga kerja dan inflasi AS menjadi kunci penentu apakah The Fed akan kembali memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Dolar AS melemah tipis terhadap mata uang utama pada awal pekan, terutama terhadap yen dan franc Swiss, di tengah pekan yang sarat keputusan bank sentral dan rilis data ekonomi AS. Pelemahan ini terjadi karena pasar mulai menimbang arah kebijakan The Fed dalam jangka pendek, sementara yen mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ).

BoJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga dan tetap berkomitmen pada normalisasi kebijakan secara bertahap, memberi keunggulan bagi yen. Di sisi lain, Bank of England hampir sepenuhnya diperkirakan memangkas suku bunga karena inflasi melandai, sementara ECB diprediksi menahan suku bunga, dengan spekulasi kenaikan baru muncul pada 2026. Perbedaan arah kebijakan ini membuat dolar kehilangan sebagian daya tariknya.

Fokus pasar kini tertuju pada data AS yang tertunda akibat shutdown pemerintah, termasuk Nonfarm Payrolls dan inflasi. Meski The Fed baru saja memangkas suku bunga, Jerome Powell memberi sinyal jeda, sementara sejumlah pejabat Fed menilai tekanan inflasi inti mulai stabil. Ketidakpastian waktu pemangkasan lanjutan membuat pergerakan dolar cenderung lemah dan sensitif terhadap data.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish untuk Dollar AS – Dolar AS cenderung tertekan karena ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga The Fed, sementara mata uang lain mendapat dukungan dari prospek kebijakan yang relatif lebih ketat.

Emas Bertahan Tinggi di Tengah Sinyal Fed yang Terbelah & Dolar Melemah.

  • Dolar AS melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga jangka menengah masih mendukung harga emas.

  • Pernyataan Fed yang terbelah menciptakan volatilitas, namun pasar tetap condong ke arah kebijakan yang lebih longgar.

Harga emas (XAU/USD) bergerak di sekitar $4.296 setelah sempat menyentuh $4.350, seiring aksi ambil untung jangka pendek. Meski demikian, tekanan pada dolar AS membuat emas tetap bertahan di level tinggi dan relatif stabil.

Dari sisi kebijakan, pernyataan pejabat The Fed masih terbelah. John Williams cenderung hawkish dengan menekankan pentingnya pengendalian inflasi menuju target 2%, sementara Stephen Miran bersikap dovish dengan membuka peluang pemangkasan suku bunga yang lebih cepat menuju level netral. Jerome Powell juga mengisyaratkan kemungkinan jeda pemangkasan setelah total 75 bps pemotongan sebelumnya.

Ke depan, pelaku pasar menanti data penting AS seperti Nonfarm Payrolls (NFP), inflasi, Retail Sales, dan PMI. Meski ada sinyal jeda kebijakan, pasar uang masih memproyeksikan pemangkasan suku bunga lanjutan hingga 2026, sementara dolar AS cenderung lemah dan menjadi penopang harga emas.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Meski ada aksi ambil untung dan nada hawkish dari sebagian pejabat Fed, pelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ke depan masih menjadi katalis positif bagi harga emas.

Minyak Tertekan: Ketegangan Geopolitik Tak Mampu Tahan Tekanan Surplus Global

  • Kekhawatiran surplus pasokan global dan potensi tambahan suplai Rusia menekan harga minyak meski ada gangguan pasokan dari Venezuela.

  • Data ekonomi China yang lemah memperkuat persepsi permintaan minyak global yang melambat.

Harga minyak dunia melemah pada awal pekan, meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela meningkat. Brent ditutup turun 0,92% ke $60,56 per barel, sementara WTI turun 1,08% ke $56,82 per barel. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pekan lalu, di mana harga anjlok lebih dari 4% akibat kekhawatiran kelebihan pasokan global.

Di satu sisi, sanksi AS terhadap Venezuela, penyitaan kapal tanker, serta gangguan operasional PDVSA akibat serangan siber telah menekan ekspor minyak negara tersebut. Namun dampak gangguan pasokan ini tertahan oleh ketersediaan pasokan global yang melimpah, terutama aliran minyak ke China, serta permintaan yang melemah.

Tekanan tambahan datang dari perkembangan geopolitik Eropa Timur. Kemajuan pembicaraan damai Rusia–Ukraina meningkatkan ekspektasi potensi kembalinya pasokan minyak Rusia ke pasar global. Ditambah dengan data ekonomi China yang melemah dan proyeksi surplus minyak hingga 2026–2027, sentimen pasar terhadap minyak tetap tertekan.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish: Tekanan dari ekspektasi surplus jangka menengah, potensi peningkatan pasokan global, serta melemahnya permintaan lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik, sehingga arah harga minyak cenderung turun.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD

1. USD – Average Hourly Earnings (MoM) (Nov)

Kenaikan upah yang bertahan di sekitar 0,2% menunjukkan tekanan inflasi masih ada. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed tetap berhati-hati melonggarkan kebijakan, potensi USD menguat.

2. USD – Core Retail Sales (MoM) (Oct)

Konsumsi inti yang stabil di 0,3% mencerminkan daya beli masyarakat AS masih solid. Hal ini menopang prospek ekonomi jangka pendek, potensi USD bertahan kuat.

3. USD – Nonfarm Payrolls (Nov)

Angka NFP yang relatif rendah menunjukkan perlambatan penyerapan tenaga kerja. Ini memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ke depan, potensi USD melemah

4. USD – Retail Sales (MoM) (Oct)

Penjualan ritel yang sesuai ekspektasi di 0,2% menandakan pertumbuhan konsumsi moderat. Data ini tidak cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan. Potensi USD bergerak netral.

5. USD – Unemployment Rate (Nov)

Tingkat pengangguran yang bertahan di 4,4% mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai mendingin. Kondisi ini mendukung pandangan dovish The Fed, potensi USD tertekan

6. USD – S&P Global Manufacturing PMI (Dec – P)

PMI yang masih di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur tetap ekspansif. Namun pengaruhnya lebih bersifat pendukung, potensi USD stabil.

7. USD – S&P Global Services PMI (Dec – P)

PMI jasa yang tetap kuat mencerminkan sektor jasa masih menjadi penopang ekonomi AS. Potensi USD tertahan kuat.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: