Dolar Tersungkur, Harapan Damai AS–Iran Bangkitkan Risk Appetite Global

  • Dolar melemah & risk appetite naik optimisme negosiasi AS–Iran mendorong investor beralih ke aset berisiko.

  • Inflasi produsen lebih rendah dari ekspektasi data PPI meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi akibat harga energi.

Dolar AS melemah pada Selasa seiring investor mulai meninggalkan aset safe haven dan beralih ke aset berisiko, didorong optimisme terhadap kemajuan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meski blokade militer AS di Selat Hormuz masih berlangsung, harapan akan kesepakatan permanen meningkat setelah sinyal pembicaraan lanjutan dalam waktu dekat. Indeks Dolar AS tercatat turun 0,3% ke level 98,12, mencerminkan berkurangnya permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai.

Sentimen pasar turut diperkuat oleh data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan. Indeks PPI naik 0,5% secara bulanan dan 4,0% tahunan, di bawah ekspektasi pasar, meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi. Kondisi ini mendorong optimisme bahwa tekanan inflasi tidak seburuk yang ditakutkan, meskipun dampak kenaikan harga energi diperkirakan masih akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat menguat signifikan, dengan indeks utama mendekati level tertinggi sepanjang masa. Investor menilai kombinasi data ekonomi yang solid, potensi kesepakatan geopolitik, dan kinerja perusahaan yang kuat sebagai katalis positif. Namun, risiko tetap membayangi karena blokade di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global jika konflik kembali memanas.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Ketegangan geopolitik meningkat dan ketidakpastian negosiasi memperbesar risiko global, meskipun dolar masih ditopang data ekonomi yang kuat

 

Emas Melejit Tajam, Dolar Tersungkur di Tengah Harapan Damai AS–Iran

  • Emas naik tajam karena dolar melemah optimisme negosiasi AS–Iran menekan dolar dan mendorong permintaan emas.

  • Minyak turun, sentimen membaik penurunan harga energi dan risk appetite mendukung reli emas.

Harga emas melonjak hampir 2% pada Selasa, didorong pelemahan tajam dolar AS di tengah meningkatnya optimisme terhadap kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. XAU/USD diperdagangkan di kisaran $4.835 setelah memantul dari level rendah harian $4.742. Pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka peluang pertemuan dalam waktu dekat memperkuat ekspektasi de-eskalasi konflik, meskipun blokade di Selat Hormuz masih berlangsung.

Kenaikan emas juga didukung oleh penurunan harga minyak dan membaiknya sentimen pasar global. Minyak WTI anjlok lebih dari 6%, sementara indeks dolar AS turun ke level terendah dalam enam minggu. Kombinasi pelemahan dolar dan turunnya harga energi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, sekaligus mencerminkan pergeseran investor ke arah risk-on dengan tetap menjaga eksposur pada safe haven.

Di sisi kebijakan moneter, pejabat Federal Reserve memberi sinyal suku bunga kemungkinan tetap tinggi lebih lama akibat risiko inflasi dari konflik energi. Meski data inflasi produsen (PPI) lebih rendah dari ekspektasi, pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga sepanjang tahun. Pelaku pasar kini menantikan pidato pejabat The Fed, laporan Beige Book, serta data klaim pengangguran untuk arah selanjutnya.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen positif: Kombinasi pelemahan dolar, penurunan harga minyak, dan harapan de-eskalasi geopolitik menjadi katalis kuat yang mendorong kenaikan harga emas.

Minyak Anjlok Tajam, Harapan Damai AS–Iran Redam Ketegangan Energi Global

  • Harga minyak jatuh karena harapan negosiasi ekspektasi damai AS–Iran menekan harga meski pasokan masih terganggu.

  • Gangguan suplai tetap besar kehilangan pasokan mencapai 10,1 juta bpd akibat konflik dan penutupan Hormuz.

Harga minyak dunia turun tajam pada Selasa seiring meningkatnya harapan bahwa Iran akan melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel guna mengakhiri konflik yang telah menutup Selat Hormuz. Brent ditutup turun 4,6% ke $94,79 per barel, sementara WTI merosot 7,87% ke $91,20. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi meredanya gangguan pasokan global meskipun sebelumnya harga sempat melonjak akibat blokade militer AS.

Optimisme pasar muncul dari sinyal pembicaraan lanjutan antara pihak-pihak terkait, yang dinilai dapat membuka kembali jalur distribusi energi global. Namun, di balik sentimen positif tersebut, gangguan nyata terhadap pasokan minyak masih berlangsung. Badan energi internasional mencatat kehilangan pasokan mencapai 10,1 juta barel per hari akibat konflik dan penutupan jalur strategis tersebut, menjadikannya salah satu gangguan terbesar dalam sejarah.

Di sisi lain, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Iran mengancam akan membalas blokade dengan menyerang pelabuhan di kawasan Teluk, sementara negosiasi masih belum mencapai kesepakatan konkret. Analis memperingatkan bahwa jika pembicaraan gagal, harga minyak berpotensi kembali melonjak karena penurunan stok global dan berlanjutnya gangguan distribusi energi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Pasar merespons optimisme diplomasi dengan penurunan harga minyak, namun sentimen ini masih rapuh karena risiko geopolitik dan gangguan pasokan belum benar-benar terselesaikan.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: