Perang Iran Guncang Pasar: Saham AS Melemah Saat Harga Minyak Melonjak Tajam
Konflik Iran memicu lonjakan harga minyak dan menekan pasar saham AS meskipun data inflasi sesuai ekspektasi.
IEA melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, tetapi langkah ini dinilai hanya solusi sementara selama konflik belum mereda.
Pasar saham Amerika Serikat ditutup cenderung melemah pada Rabu di tengah eskalasi konflik Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Indeks S&P 500 turun 0,1% ke 6.775,17 dan Dow Jones merosot 0,6% ke 47.417,27. Sementara itu, Nasdaq Composite hanya mampu mencatat kenaikan tipis 0,1% ke 22.716,14. Sentimen pasar tetap tertekan meskipun laporan inflasi AS sesuai ekspektasi dan saham Oracle melonjak pasca rilis kinerja.
Di tengah ketegangan geopolitik, International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan darurat 400 juta barel minyak ke pasar global—langkah terbesar sepanjang sejarah—untuk meredam lonjakan harga akibat perang Iran. Namun pasar telah lebih dulu memperhitungkan kebijakan tersebut sehingga harga minyak tetap melonjak. Minyak Brent naik 5,7% ke $92,77 per barel dan WTI meningkat 5,8% ke $88,26 per barel. Analis menilai langkah IEA hanya bersifat sementara dan penurunan harga minyak secara berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika konflik militer mereda.
Ketegangan meningkat setelah laporan bahwa Iran menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Presiden Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan “pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya” jika ranjau tersebut tidak dicabut. Sementara itu, data inflasi AS Februari menunjukkan CPI naik 0,3% bulanan dan 2,4% tahunan, sesuai perkiraan. Meski inflasi sebelumnya stabil, lonjakan harga energi akibat konflik dikhawatirkan mendorong inflasi lebih tinggi dan membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam kebijakan suku bunga.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Eskalasi konflik Iran meningkatkan risiko geopolitik, memicu lonjakan harga energi, menekan pasar saham, dan berpotensi memperburuk inflasi sehingga menciptakan ketidakpastian bagi kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi.
Emas Terseret Dolar: Ketegangan Timur Tengah Dorong Minyak Naik, Yield AS Melambung
Penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan harga emas meskipun risiko geopolitik meningkat.
Konflik Iran mendorong lonjakan harga minyak dan berpotensi memperburuk tekanan inflasi global.
Harga emas melemah pada perdagangan Rabu setelah penguatan dolar AS menekan permintaan terhadap logam mulia. Emas (XAU/USD) turun sekitar 0,37% ke level $5.170, sementara Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,32% ke 99,22 setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis sesuai perkiraan. Konflik yang terus berlanjut antara AS, Israel, dan Iran selama hampir dua minggu turut memicu kekhawatiran kenaikan harga energi dan inflasi global.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar. Harga minyak mentah WTI melonjak hampir 5% ke $87,36 per barel di tengah gangguan jalur pengiriman energi di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu peningkatan permintaan dolar AS karena banyak negara membutuhkan greenback untuk membeli energi di pasar global. Akibatnya, penguatan dolar menjadi hambatan bagi kenaikan harga emas.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat tajam. Yield obligasi Treasury 10-tahun naik lebih dari 6 basis poin ke sekitar 4,21%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi yang dapat memicu inflasi baru. Pasar kini hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun. Meski International Energy Agency (IEA) berencana melepas lebih dari 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, Iran memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga $200 per barel jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif: Penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi tekanan utama bagi harga emas meskipun ketegangan geopolitik meningkat.
Cadangan Minyak Dunia Dibuka: IEA Lepas 400 Juta Barel Saat Ancaman Minyak $200 Menguat
IEA melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global untuk meredam lonjakan harga akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Pasar tetap khawatir karena gangguan pasokan mencapai puluhan juta barel per hari dan konflik Iran berpotensi mendorong minyak hingga $200 per barel.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyetujui pelepasan darurat 400 juta barel minyak—langkah terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut—untuk meredam lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan dari konflik AS-Israel dengan Iran. Keputusan ini didukung seluruh 32 negara anggota dan menjadi aksi pelepasan cadangan strategis keenam sejak lembaga itu dibentuk pada krisis energi 1970-an.
Langkah tersebut dilakukan karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global terganggu akibat ketegangan di jalur vital energi dunia, yaitu Strait of Hormuz. Iran bahkan memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga $200 per barel jika serangan terhadap kapal dagang di kawasan itu terus berlanjut. Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan ikut berkontribusi dari cadangan minyak strategisnya untuk membantu menekan harga energi global.
Namun pasar merespons dengan skeptis. Harga minyak tetap melonjak hampir 5% karena investor menilai pelepasan cadangan tersebut terlalu kecil dibandingkan gangguan pasokan yang diperkirakan mencapai sekitar 20 juta barel per hari. Sejumlah analis menilai stabilitas harga hanya bisa tercapai jika konflik militer mereda, sementara negara-negara seperti Jepang dan India juga menyatakan kesiapan melepas cadangan energi guna menjaga stabilitas pasar global.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Meskipun pelepasan cadangan minyak bertujuan menekan harga, gangguan pasokan besar akibat konflik geopolitik membuat pasar tetap khawatir terhadap lonjakan harga energi dan risiko inflasi global yang lebih tinggi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Initial Jobless Claims – USD
Klaim pengangguran mingguan diprediksi naik tipis ke 214K. Meskipun kenaikannya kecil, tren yang stabil di atas angka sebelumnya menunjukkan adanya pelonggaran bertahap pada pasar tenaga kerja AS.
Dampak:
USD berpotensi melemah (Bearish) jika angka aktual melampaui forecast, karena memperkuat narasi perlambatan ekonomi yang dapat memicu pelonggaran kebijakan moneter.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
