Data Tenaga Kerja AS Kuat, Dolar Tertahan di Tengah Revisi Ekspektasi Suku Bunga
Laporan NFP yang kuat memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, namun tekanan politik membatasi penguatan dolar.
Perbedaan arah kebijakan bank sentral global mendorong volatilitas mata uang, dengan yen dan dolar Australia mencatat penguatan signifikan.
Nilai tukar dolar AS bergerak relatif datar hingga sedikit melemah pada Rabu, meski pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve setelah laporan tenaga kerja Januari menunjukkan kinerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Indeks dolar (DXY) naik tipis 0,1% ke level 96,87, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya.
Data Nonfarm Payrolls (NFP) mencatat penambahan 130 ribu lapangan kerja, hampir dua kali lipat dari estimasi pasar, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Angka tersebut mendorong investor menyesuaikan kembali proyeksi kebijakan The Fed, dengan peluang pemangkasan suku bunga yang lebih agresif semakin berkurang. Namun, tekanan politik dari Presiden Donald Trump yang mendorong biaya pinjaman lebih rendah dinilai menahan penguatan dolar lebih lanjut, meski imbal hasil obligasi AS cenderung naik.
Di pasar mata uang global, yen Jepang terus menguat pasca kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi, menekan USD/JPY ke kisaran 153. Sementara itu, dolar Australia melonjak ke level tertinggi tiga tahun setelah bank sentral Australia mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan guna meredam inflasi yang masih tinggi. Fokus pasar kini tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI) AS pada Jumat, yang akan menjadi katalis utama arah dolar dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk Dollar AS: Meski data ekonomi AS solid, faktor politik dan ekspektasi kebijakan yang belum pasti membuat dolar sulit menguat signifikan dalam jangka pendek.
Emas Tetap Perkasa di Atas $5.000 Meski Data Tenaga Kerja AS Mengguncang Pasar
Data NFP AS yang kuat tidak mampu menjatuhkan emas, karena aksi beli dan permintaan safe haven tetap dominan.
Risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan AS menjadi faktor utama yang menopang harga emas di atas $5.000.
Harga emas (XAU/USD) bertahan kuat di atas level psikologis $5.000 pada Rabu, meskipun data Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan mendorong pasar untuk memangkas ekspektasi kebijakan moneter yang terlalu dovish dari Federal Reserve. NFP Januari melonjak 130 ribu, jauh di atas estimasi 70 ribu, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Reaksi awal pasar sempat menekan emas ke $5.018, namun aksi beli di area rendah mendorong harga kembali naik ke sekitar $5.054.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan menguatnya dolar seharusnya menjadi tekanan bagi emas. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,168%, sementara indeks dolar (DXY) menguat tipis ke 96,95. Namun, dukungan datang dari pembelian emas oleh bank sentral, tren diversifikasi cadangan global, serta ketidakpastian politik dan perdagangan yang kembali meningkat. Pernyataan hawkish dari Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, yang menentang pemangkasan suku bunga terlalu cepat, turut menahan spekulasi agresif terhadap pelonggaran kebijakan.
Di sisi geopolitik, wacana Presiden Donald Trump untuk menarik AS dari perjanjian dagang USMCA serta perkembangan konflik Ukraina menambah sentimen risiko global, mendorong investor tetap mempertahankan emas sebagai aset lindung nilai. Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi AS (CPI) yang diperkirakan melandai. Jika tren disinflasi berlanjut, peluang penurunan suku bunga The Fed tetap terbuka, yang berpotensi memperkuat reli emas dalam waktu dekat.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen Positif: Meskipun yield dan dolar menguat, kombinasi pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, serta potensi pelonggaran kebijakan The Fed menjaga emas tetap dalam tren naik.
Minyak Bangkit karena Risiko Geopolitik Iran, Namun Tertekan Prospek Oversupply
Ketegangan geopolitik Iran–AS menopang harga minyak karena meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
Lonjakan stok minyak AS menjadi faktor penahan kenaikan karena mengindikasikan pasokan domestik masih sangat melimpah.
Harga minyak dunia ditutup menguat pada Jumat, berbalik dari pelemahan sebelumnya setelah pelaku pasar menilai perundingan AS–Iran belum cukup meredakan risiko konflik militer. Brent menguat 0,74% ke US$68,05 per barel, sementara WTI naik 0,41% ke US$63,55 per barel. Meski sempat turun di sesi Asia, kedua kontrak naik lebih dari US$1 saat sesi AS sebelum memangkas kenaikan menjelang penutupan.
Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama, mengingat sekitar 20% konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz. Perbedaan agenda antara Washington dan Teheran—di mana AS ingin membahas isu misil dan Iran membatasi pada nuklir—membuat pasar waspada. Walau Iran menyebut pembicaraan sebagai “awal yang baik” dan akan berlanjut, investor masih menimbang risiko gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
Namun, secara mingguan harga minyak tetap tertekan oleh aksi ambil untung, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran oversupply. Saudi Arabia kembali memangkas harga jual resmi ke Asia ke level terendah hampir lima tahun, sementara ekspor Kazakhstan berisiko turun hingga 35% bulan ini. Di tengah sinyal permintaan yang belum kuat, pasar menilai bahwa tanpa eskalasi geopolitik, minyak akan sulit mempertahankan reli.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Sentimen pasar masih condong bullish karena faktor geopolitik dan ekonomi AS yang kuat, namun kenaikan harga dibatasi oleh suplai berlebih dan risiko penurunan permintaan global.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP dan USD:
- GBP – GDP (YoY) Q4
Penurunan dari 1.3% ke 1.2% mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Inggris melambat. Ini memperkuat tekanan bagi Bank of England untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan di tahun berjalan.
- Dampak:
➡️ GBP berpotensi melemah, pertumbuhan melambat → tekanan ekonomi → risiko pelonggaran BoE.
- GBP – GDP (MoM) (Dec)
Perlambatan dari 0.3% ke 0.1% mengindikasikan konsumsi dan produksi mulai melemah, mengindikasikan ekonomi Inggris kehilangan momentum di akhir tahun.
- Dampak:
➡️ GBP berpotensi cenderung bearish. Aktivitas bulanan melemah → ekonomi kehilangan momentum
- GBP – GDP (QoQ) (Q4)
Kenaikan dari 0.1% ke 0.2% mengindikasikan adanya stabilisasi ekonomi meski masih rapuh. Ini menjadi satu-satunya data yang memberi sedikit dukungan pada GBP.
- Dampak:
➡️ GBP berpotensi netral–bullish ringan, namun berpeluang tertahan oleh data YoY & MoM yang lemah.
- USD – Initial Jobless Claims
Penurunan dari 231K ke 222K mengindikasikan pasar tenaga kerja tetap kuat. Ini memperkuat argumen bahwa ekonomi AS masih solid, sehingga The Fed tidak terburu-buru memangkas suku bunga.
- Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat, karena peluang penurunan suku bunga The Fed makin tertunda
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
