Saham AI Melejit, Tarif Trump Cuma Jadi Bayangan!.
Lonjakan saham chip mendorong Nasdaq dan S&P 500 ke rekor tertinggi baru, didukung oleh optimisme terhadap pertumbuhan AI.
Ketegangan tarif Trump terhadap Brasil dan tembaga meningkatkan risiko ketidakpastian dagang, tapi belum mengguncang pasar.
S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada Kamis, dipimpin oleh reli saham chip setelah Taiwan Semiconductor melaporkan lonjakan penjualan 40% di kuartal II. Permintaan berbasis AI mendorong lonjakan saham teknologi seperti AMD dan Nvidia, membuat Nasdaq ditutup di 20.630,67 dan S&P 500 di 6.280,39. Dow Jones juga naik 190 poin seiring sentimen pasar yang tetap optimis terhadap sektor teknologi.
Meski sentimen chip kuat, ketidakpastian dari kebijakan tarif Presiden Trump masih membayangi. Trump mengumumkan tarif 50% terhadap impor dari Brasil dan tembaga mulai 1 Agustus sebagai bentuk protes terhadap perlakuan terhadap sekutunya, Jair Bolsonaro. Presiden Brasil Lula merespons keras, memicu kekhawatiran potensi perang dagang antara AS dan Brasil.
Sementara itu, data pengangguran AS lebih baik dari perkiraan, dengan klaim awal pengangguran tercatat 227.000, di bawah estimasi 236.000. Namun, risalah FOMC menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih berhati-hati, hanya segelintir yang mendukung pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, karena inflasi dari tarif tetap menjadi risiko utama.
Kesimpulan Sentimen:
Bullish — pasar saham tetap kuat didukung sektor teknologi dan data tenaga kerja yang solid, meskipun bayang-bayang tarif tetap ada.
Emas Tertahan! Dolar Kuat, Tarif Trump & Drama Powell Belum Cukup!
Emas tertahan di kisaran $3.300 karena kekuatan dolar AS mengimbangi sentimen geopolitik akibat tarif baru Trump.
Ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed menambah tekanan politik, tapi belum cukup mengubah arah kebijakan suku bunga.
Harga emas nyaris tidak berubah pada Kamis meski Presiden AS Donald Trump kembali menggempur pasar dengan tarif baru. Spot gold hanya naik tipis 0,1% ke $3.317,44 per ounce, karena penguatan dolar AS sebesar 0,2% menekan daya tarik logam mulia. Trump mengumumkan tarif 50% atas impor tembaga dan produk dari Brasil, memicu kekhawatiran geopolitik, namun belum cukup kuat untuk mendorong emas menembus $3.400.
Daya tarik emas tetap tinggi bagi negara-negara berkembang yang menganggapnya sebagai aset bebas risiko di tengah ketidakpastian global. Namun, risalah pertemuan The Fed menunjukkan mayoritas pejabat masih khawatir inflasi akan meningkat akibat tarif, sehingga pemangkasan suku bunga belum disepakati secara luas. Sementara itu, klaim pengangguran AS turun secara tak terduga, memperkuat ketahanan pasar tenaga kerja.
Dari sisi politik, Gedung Putih melancarkan serangan baru terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. Direktur Anggaran Gedung Putih menuduh Powell salah kelola dan menyia-nyiakan dana untuk renovasi kantor pusat bank sentral. Kritik ini memperkuat tekanan politik agar suku bunga segera dipangkas, meski pasar tetap ragu akan arah kebijakan Fed dalam waktu dekat.
Kesimpulan Sentimen:
Netral cenderung Bullish — Harga emas bertahan di zona atas berkat permintaan safe haven dari negara berkembang, namun penguatan dolar masih menjadi penghambat utama untuk breakout lebih tinggi.
Harga Minyak Terseret Drama Tarif Trump: Pasar Ketakutan, Permintaan Terancam!
Rencana tarif besar Trump terhadap negara-negara mitra dagang menimbulkan kekhawatiran perlambatan global dan menekan harga minyak.
Rencana OPEC+ menaikkan pasokan menambah tekanan, sementara prospek pemangkasan suku bunga The Fed masih tidak pasti.
Harga minyak turun lebih dari 2% pada Kamis, setelah pasar dikhawatirkan oleh potensi perlambatan ekonomi global akibat rencana tarif baru Presiden AS Donald Trump. Brent ditutup di $68,64 per barel (-2,21%) dan WTI di $66,57 (-2,65%), menandai aksi jual tajam yang dipicu oleh ancaman tarif 50% terhadap Brasil, serta rencana tarif tambahan untuk komoditas penting seperti tembaga, semikonduktor, dan farmasi.
Trump mengincar negara-negara pemasok utama AS, termasuk Filipina, Irak, Jepang, dan Korea Selatan, yang meningkatkan kekhawatiran investor soal ketegangan dagang global. Sentimen pasar semakin rapuh karena notulen rapat The Fed menunjukkan hanya sedikit pejabat yang siap memangkas suku bunga dalam waktu dekat, sebab inflasi tetap menjadi ancaman akibat efek tarif. Di sisi lain, OPEC+ berencana menaikkan produksi pada September, meski mengindikasikan potensi jeda kenaikan di Oktober jika permintaan mencapai puncaknya.
Penguatan dolar, kekhawatiran inflasi, dan potensi pelonggaran permintaan global akibat ketidakpastian kebijakan Trump menciptakan tekanan ganda bagi harga minyak. Analis memperingatkan bahwa investor kini bersikap menunggu di tengah kebijakan dagang Trump yang tidak konsisten dan cenderung berubah-ubah.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen dominan: Bearish — harga minyak berpeluang lanjut turun akibat kombinasi kekhawatiran permintaan global dan suplai yang melimpah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP:
GDP (MoM) (GBP): Perkiraan pemulihan dari kontraksi sebelumnya (-0.3% ke 0.1%) mengindikasikan perbaikan ekonomi Inggris, berpotensi mendukung GBP (Naik).
