Trump Nominasi Stephen Miran di Fed, Pasar Saham Pangkas Kerugian di Tengah Gelombang Tarif.
Kenaikan tarif terbesar sejak 1933 berisiko memperlambat ekonomi global dan menekan pasar saham.
Nominasi Stephen Miran memberi sinyal kebijakan moneter lebih longgar, tetapi efeknya tertahan oleh ketidakpastian perdagangan.
Pasar saham AS memangkas kerugian pada Kamis (7/8) setelah Presiden Donald Trump menominasikan Stephen Miran, Ketua Council of Economic Advisors, untuk duduk di Dewan Gubernur Federal Reserve hingga 31 Januari 2026, menggantikan Adriana Kugler yang mundur. Namun, sentimen pasar tetap tertekan oleh berakhirnya tenggat kesepakatan tarif, yang memicu kenaikan bea impor 10–50% pada hampir 200 negara. Menurut Yale Budget Lab, tarif efektif rata-rata kini melonjak ke 18,6% — tertinggi sejak 1933.
Tarif baru tersebut mulai berlaku Kamis dini hari waktu AS, memukul prospek perdagangan global. Sementara itu, pencalonan Miran menyoroti manuver Trump dalam mencari Ketua The Fed berikutnya, dengan nama Christopher Waller disebut sebagai favorit tim Trump. Namun, persetujuan Senat untuk Miran bisa memakan waktu karena anggota parlemen sedang reses.
Pelaku pasar kini menaruh 90% ekspektasi pemangkasan suku bunga pada September, didorong data ketenagakerjaan yang lemah pekan lalu. Laporan inflasi bulanan Selasa depan menjadi sorotan utama untuk memandu langkah kebijakan moneter selanjutnya. Meski nominasi Miran memberi sinyal kebijakan lebih dovish, tekanan tarif besar-besaran menambah risiko perlambatan ekonomi dan menahan optimisme pasar saham.
Kesimpulan Sentimen:
Potensi Bearish — Lonjakan tarif global mengalahkan sentimen positif dari prospek pemangkasan suku bunga.
Tarif Emas AS & Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Harga ke Rekor Baru.
Tarif emas batangan AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga menopang harga emas di dekat rekor tertinggi.
Peningkatan klaim pengangguran memperkuat sinyal pelemahan ekonomi AS, memicu permintaan aset lindung nilai.
Harga emas di pasar spot stabil di level $3.397, sementara kontrak berjangka di New York mencetak rekor $3.534 setelah laporan bahwa Amerika Serikat memberlakukan tarif pada emas batangan seberat satu kilo. Selisih harga spot dan futures melebar lebih dari $100, memicu kekhawatiran gangguan arus perdagangan emas global, khususnya dari Swiss. Meski tertahan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, pasar tetap mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada September, di tengah data ketenagakerjaan dan aktivitas bisnis yang melemah.
Data makro AS terbaru menunjukkan peningkatan klaim pengangguran lanjutan ke level tertinggi sejak 2021, memperkuat keyakinan bahwa pasar tenaga kerja mulai retak. Investor kini menunggu rilis data inflasi pekan depan yang akan menjadi penentu arah kebijakan Fed selanjutnya. Di tengah ketidakpastian geopolitik, Presiden Donald Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus di Alaska untuk membahas potensi gencatan senjata di Ukraina.
Tarif emas ini menjadi langkah proteksionis baru AS yang dapat mengubah dinamika perdagangan logam mulia, sementara ekspektasi pelonggaran moneter memberikan dukungan tambahan bagi emas. Kombinasi faktor fundamental dan geopolitik menciptakan latar belakang yang kondusif bagi harga emas untuk tetap kuat di level tinggi, meski volatilitas diperkirakan meningkat menjelang rilis data inflasi.
Kesimpulan Sentimen:
Potensi Bullish — Kombinasi tarif emas, ekspektasi pemangkasan suku bunga, dan risiko geopolitik mengangkat prospek harga emas.
Tarif AS, Output OPEC+, dan Rencana Pertemuan Trump–Putin Tekan Harga Minyak.
Kombinasi kenaikan produksi OPEC+ dan kebijakan tarif AS memicu kekhawatiran kelebihan pasokan dan pelemahan permintaan minyak.
Potensi kesepakatan damai Ukraina dapat melonggarkan sanksi Rusia, berisiko menambah pasokan global.
Harga minyak stabil pada Jumat (8/8) menjelang rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump, namun mencatat penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni akibat prospek ekonomi yang tertekan tarif. Brent ditutup naik tipis 0,2% di $66,59 per barel, sementara WTI tidak berubah di $63,88. Sepanjang pekan, Brent anjlok 4,4% dan WTI turun 5,1%. Kekhawatiran perlambatan permintaan dipicu oleh tarif baru AS terhadap berbagai negara serta ancaman tarif tambahan untuk pembeli minyak Rusia seperti India dan China.
Di sisi pasokan, OPEC+ menyetujui kenaikan produksi 547.000 barel per hari pada September, melanjutkan percepatan peningkatan output untuk merebut pangsa pasar. Kenaikan ini melengkapi pembalikan penuh pemangkasan sukarela 2,2 juta barel per hari. Data Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak AS naik menjadi 411 unit, menandakan potensi tambahan pasokan. Sentimen pasar juga tertekan oleh laporan bahwa AS dan Rusia tengah membahas kesepakatan damai Ukraina yang berpotensi melonggarkan sanksi terhadap Moskow, sehingga pasokan global bisa bertambah.
Meskipun Trump mengisyaratkan kebijakan moneter yang lebih dovish melalui penunjukan Stephen Miran di The Fed, yang secara teori dapat mendukung permintaan energi, kekuatan tekanan dari sisi pasokan dan risiko perlambatan ekonomi akibat tarif membuat harga minyak sulit rebound signifikan. Investor kini mengantisipasi perkembangan diplomasi Rusia–AS dan dampak lanjutan dari kebijakan perdagangan AS terhadap permintaan minyak global.
Kesimpulan Sentimen:
Potensi Bearish — Tekanan dari sisi pasokan dan risiko permintaan akibat tarif membuat prospek harga minyak melemah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Tidak ada laporan data ekonomi yang dapat mempengaruhi sentimen terhadap pasar forex, indeks saham AS dan komoditi.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
