Dolar Mulai Kehabisan Tenaga: Pasar Menahan Napas Menanti Data Inflasi AS

  • Setelah reli tajam selama enam minggu, Indeks Dolar AS mulai melemah menjelang rilis data inflasi penting minggu ini.

  • Pasar kini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini akibat risiko inflasi yang masih tinggi.

Indeks Dolar AS (DXY) melemah sekitar 0,20% pada awal pekan setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 15 minggu di sekitar 99,70. Meski sempat dibuka lebih tinggi, tekanan jual mendorong indeks kembali turun mendekati area 99,00 dan membentuk pola pembalikan bearish pada grafik harian. Pelemahan ini muncul setelah reli kuat sejak akhir Januari, ketika dolar menguat hampir empat poin dalam enam minggu terakhir berkat permintaan safe haven dan perubahan ekspektasi suku bunga.

Penguatan dolar sebelumnya banyak dipicu oleh krisis Selat Hormuz yang mendorong investor mencari aset aman, sementara Amerika Serikat dinilai relatif terlindungi dari guncangan pasokan energi karena kemandirian energinya. Namun pasar kini mulai menyesuaikan kembali ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Investor memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga satu kali sebesar 25 basis poin tahun ini, kemungkinan pada September, jauh lebih sedikit dibandingkan perkiraan sebelum konflik geopolitik memanas.

Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat pekan ini. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) Februari diperkirakan naik 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diprediksi meningkat 0,2% bulanan dan 2,5% tahunan. Selain itu, pasar juga menantikan data Core PCE, pertumbuhan GDP kuartal keempat, serta indeks sentimen konsumen Michigan yang diperkirakan melemah, yang semuanya berpotensi menentukan arah kebijakan moneter dan pergerakan dolar selanjutnya.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen positif untuk Dollar AS: Ekspektasi bahwa suku bunga Federal Reserve akan tetap tinggi lebih lama akibat risiko inflasi yang meningkat dari lonjakan harga energi memperkuat daya tarik dolar

Minyak Meledak, Dolar Perkasa: Emas Tertekan di Tengah Krisis Hormuz

  • Gangguan pengiriman di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik lebih dari 30% dan memperkuat dolar AS, menekan harga emas.

  • Serangan Israel, penunjukan pemimpin baru Iran, serta ketidakpastian kebijakan AS meningkatkan risiko geopolitik global.

Harga emas turun lebih dari 1,5% ke sekitar $5.090 setelah lonjakan tajam harga minyak dan penguatan dolar AS menekan daya tarik logam mulia. Gangguan pengiriman di Selat Hormuz — jalur yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia — mendorong harga minyak WTI melonjak lebih dari 30% hingga mendekati $113 per barel. Kenaikan harga energi ini justru memperkuat dolar AS yang naik mendekati level tertinggi tiga bulan, sehingga menekan harga emas yang dihargai dalam mata uang tersebut.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga terus meningkat setelah Israel melancarkan serangan ke Iran tengah dan Beirut. Iran bahkan menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, yang memudarkan harapan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa terlalu dini membahas kemungkinan penyitaan minyak Iran dan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat merusak hubungan AS dengan China.

Sementara itu, negara-negara G7 dilaporkan mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menahan lonjakan harga energi global. Di sisi kebijakan moneter, pasar kini memperkirakan Federal Reserve hanya akan memangkas suku bunga sekitar 36 basis poin hingga akhir 2026 karena risiko inflasi yang dipicu lonjakan harga energi. Fokus investor selanjutnya tertuju pada data inflasi AS dan indeks Core PCE yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen negatif: Lonjakan harga minyak memperkuat dolar AS dan meningkatkan ekspektasi inflasi, sehingga mengurangi daya tarik emas dan menekan harga logam mulia dalam jangka pendek.

 

Minyak Meledak Lalu Tergelincir: Pasar Energi Terseret Drama Perang dan Diplomasi

  • Penutupan jalur energi utama dunia dan pemangkasan produksi OPEC mendorong harga minyak melonjak hingga mendekati $120 per barel.

  • Wacana pelonggaran sanksi minyak Rusia dan kemungkinan pelepasan cadangan strategis global memicu koreksi harga setelah reli tajam.

Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal pekan dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2022 di tengah eskalasi perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Gangguan pasokan dari negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar serta hampir tertutupnya Selat Hormuz mendorong harga Brent naik hingga sekitar $98,96 per barel dan WTI ke $94,77. Bahkan selama sesi perdagangan, harga sempat melonjak hingga mendekati $120 per barel, mencerminkan kekhawatiran besar terhadap pasokan energi global.

Namun reli minyak mulai kehilangan tenaga setelah muncul kabar percakapan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Laporan bahwa Washington mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia untuk menstabilkan harga energi memicu aksi jual tajam setelah penutupan pasar. Rusia juga menyatakan kesiapannya memasok minyak dan gas ke Eropa, yang semakin menekan harga minyak dalam perdagangan lanjutan.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik tetap tinggi setelah kelompok garis keras Iran menunjukkan dukungan terhadap pemimpin tertinggi baru Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengindikasikan konflik Timur Tengah belum akan berakhir cepat. Negara-negara G7 juga mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menahan lonjakan harga energi yang berisiko memicu inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi global yang dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi JPY dan USD:

  • GDP (QoQ) (Q4) – JPY

Ekonomi Jepang diperkirakan tumbuh positif sebesar 0.1% setelah sebelumnya mengalami kontraksi tajam di -0.6%. Rebound ini menunjukkan bahwa Jepang berhasil menghindari resesi teknis, yang memberikan angin segar bagi kebijakan moneter BoJ.

Dampak:
JPY berpotensi menguat (Bullish) jika angka aktual mengonfirmasi pertumbuhan positif, karena meningkatkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan ekonomi domestik.

  • Existing Home Sales (Feb) – USD

Penjualan rumah yang ada diprediksi turun tipis ke angka 3.89M dari sebelumnya 3.91M. Penurunan ini mencerminkan pasar properti yang masih tertekan oleh tingginya suku bunga hipotek dan keterbatasan stok rumah.

Dampak:
USD cenderung melemah (Bearish) jika data menunjukkan perlambatan pasar perumahan yang lebih dalam, karena ini merupakan indikator melemahnya daya beli dan aktivitas ekonomi secara luas.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: