Bursa Saham AS Kunci Penguatan Kuartal II, Wall Street Catat Rekor Paruh Pertama Terbaik

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • Rekor Historis Sektor Teknologi dan AI: Wall Street sukses membukukan keuntungan kuartalan terbaiknya dalam enam tahun terakhir, ditopang oleh lonjakan fantastis saham-saham semikonduktor yang diuntungkan oleh tren infrastruktur AI.

  • Ketahanan Tenaga Kerja Hambat Pelonggaran Fed: Lonjakan tak terduga pada data lowongan kerja JOLTS menegaskan berakhirnya kelesuan pasar tenaga kerja, sekaligus memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pasar saham AS ditutup menguat pada akhir Kuartal II, dengan S&P 500 naik 0,8%, NASDAQ menguat 1,5%, dan Dow Jones bertambah 0,3% hingga mencetak rekor penutupan baru. Penguatan didorong oleh data ketenagakerjaan yang solid serta reli berlanjut pada saham-saham teknologi.

Sepanjang Kuartal II, S&P 500 dan NASDAQ masing-masing melonjak 14,8% dan 21,4%, didukung optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Indeks Semikonduktor Philadelphia bahkan mencatat kenaikan kuartalan terbesar sepanjang sejarah berkat tingginya permintaan chip AI.

Di sisi lain, data JOLTS yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tangguh. Kondisi ini mengurangi kekhawatiran resesi, namun juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk indeks saham AS: Penutupan akhir kuartal dan paruh pertama tahun ini memberikan dorongan moral yang kuat bagi pasar ekuitas berkat pertumbuhan profitabilitas sektor teknologi yang luar biasa. Walaupun investor harus mengantisipasi potensi suku bunga tinggi akibat kuatnya data ekonomi makro AS, gairah pasar terhadap ekspansi sektor AI terbukti jauh lebih dominan dalam menyetir sentimen beli di Wall Street.

Harga Emas Dekati Kinerja Kuartalan Terburuk dalam 13 Tahun Akibat Tekanan Suku Bunga Fed

  • Keterpurukan Kuartalan Terparah Sejak 2013: Harga emas spot anjlok hingga 14,1% sepanjang kuartal ini dan sempat menembus ke bawah level psikologis $4.000/oz akibat ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif.

  • Data Tenaga Kerja Kokohkan Sikap Hawkish: Lonjakan mengejutkan pada data lowongan kerja JOLTS AS mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan, mendorong penguatan dolar dan yield obligasi yang membebani komoditas emas.

Harga emas ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa di $4.011,82 per ons, memperpanjang tren negatifnya. Sepanjang Juni, emas turun lebih dari 11% dan mencatat penurunan bulanan keempat berturut-turut, menjadikannya salah satu kinerja kuartalan terburuk dalam lebih dari satu dekade.

Tekanan terhadap emas meningkat setelah data JOLTS AS menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS yang membebani harga emas.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik belum mampu menopang permintaan safe haven karena pasar lebih fokus pada prospek kebijakan moneter. Sejumlah analis bahkan mulai menurunkan proyeksi harga emas seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Kombinasi dari data ekonomi AS yang tetap kuat (seperti sektor tenaga kerja) dan bergesernya ekspektasi pasar ke arah kenaikan suku bunga lanjutan menciptakan iklim investasi yang sangat menekan (bearish) bagi logam mulia. Emas kehilangan daya tariknya karena investor lebih memilih beralih ke aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi di tengah penguatan dolar AS.

Harga Minyak Cetak Rekor Penurunan Kuartalan Terburuk Sejak Pandemi, Trump Ancam Pengecer Bensin
  • Kejatuhan Bersejarah Kuartal II: Harga minyak mentah Brent anjlok hingga 38% di Kuartal II, menghapus hampir seluruh keuntungan besar dari lonjakan konflik awal tahun setelah Selat Hormuz kembali dibuka.

  • Intervensi Keras Donald Trump: Presiden AS mendesak penurunan harga bensin ritel secara instan menuju target $2,50 per galon demi menyesuaikan kejatuhan harga minyak mentah internasional.

Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa, dengan Brent turun 0,7% ke $73,42 per barel dan WTI terkoreksi 1% ke $70,05 per barel. Penurunan ini menutup Kuartal II dengan kinerja terburuk sejak awal pandemi, dipicu oleh pulihnya pasokan global setelah meredanya konflik AS–Iran.

Sentimen bearish semakin kuat setelah pembukaan kembali Selat Hormuz dan meningkatnya ekspor minyak Iran. Perbaikan arus logistik di Timur Tengah mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan, sehingga menekan harga minyak sepanjang kuartal kedua.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mendesak perusahaan energi dan pengecer segera menurunkan harga bensin domestik seiring turunnya harga minyak dunia. Ia juga memperingatkan akan mengambil langkah hukum jika ditemukan praktik penahanan harga di pasar.

.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk harga OIL: Kembalinya pasokan minyak mentah dari Iran secara masif serta pulihnya jalur pelayaran Selat Hormuz menghilangkan premi risiko geopolitik yang selama ini melambungkan harga. Ditambah dengan tekanan politik dari Gedung Putih agar harga bensin eceran diturunkan, sentimen pasar saat ini sangat menekan (bearish) pergerakan harga komoditas minyak ke depan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR, dan USD

  • CPI (YoY) (Jun) P (EUR)

Diperkirakan ada penurunan tingkat inflasi tahunan dari data sebelumnya 3.2% menjadi 3.0%.

Dampak:
Berpotensi EUR melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.

  • ADP Nonfarm Employment Change (Jun) (USD)

Diperkirakan ada penurunan penambahan jumlah tenaga kerja dari data sebelumnya 122K menjadi 118K.

Dampak:
Berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.

  • S&P Global Manufacturing PMI (Jun) (USD)

Diperkirakan ada kenaikan aktivitas manufaktur dari data sebelumnya 55.1 menjadi 55.7.

Dampak:
Berpotensi USD menguat jika data dirilis lebih besar dari forecast.

  • ISM Manufacturing PMI (Jun) (USD)

Diperkirakan ada penurunan aktivitas manufaktur dari data sebelumnya 54.0 menjadi 53.8.

Dampak:
Berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.

  • ISM Manufacturing Prices (Jun) (USD):

Diperkirakan ada penurunan indeks harga di sektor manufaktur dari data sebelumnya 82.1 menjadi 77.7.

Dampak:
Berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.

Disclaimer:
Analisis ini disusun semata-mata sebagai referensi dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi. Keputusan trading harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, profil risiko, serta strategi masing-masing individu. Perdagangan berjangka merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi, sehingga seluruh keputusan dan konsekuensi transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: