Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran Picu Eskalasi Regional dan Guncang Stabilitas Energi Global
Serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran menandai eskalasi militer besar yang berpotensi berkembang menjadi konflik regional berkepanjangan.
Ketegangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak, yang dapat memicu tekanan inflasi dunia.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi terhadap Iran yang menargetkan kantor Pemimpin Tertinggi Iran serta sejumlah instalasi militer strategis. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah tewas dalam operasi tersebut dan menyebutnya sebagai “keadilan bagi rakyat Iran.” Serangan ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir dan pengembangan rudal balistik Iran. Media pemerintah Iran melaporkan puluhan korban jiwa, termasuk korban di fasilitas sipil di Teheran.
Trump menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlangsung “selama diperlukan” untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. Ia menyatakan langkah militer diambil setelah diplomasi dinilai gagal, khususnya karena Iran menolak membongkar fasilitas nuklirnya dan terus mengembangkan rudal jarak jauh. Dalam pernyataan publiknya, Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka, sembari berjanji menghancurkan industri rudal Iran demi mencegah ancaman terhadap Eropa, pangkalan AS, dan wilayah Amerika Serikat.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah wilayah Teluk, termasuk area yang menjadi lokasi aset militer AS. Ledakan dan sirene serangan udara terdengar di beberapa negara kawasan, memicu kekhawatiran meluasnya konflik regional.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Karena mencerminkan peningkatan risiko geopolitik, potensi perang regional yang meluas, serta ancaman terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.
Emas Melonjak di Tengah Gejolak Global” – XAU/USD Terus Naik di Tengah Ketidakpastian Pasar
Harga XAU/USD bertahan di atas USD 5.200 per ounce dan mencapai level tertinggi satu bulan terakhir karena meningkatnya permintaan safe-haven di tengah ketegangan geopolitik dan data inflasi AS yang kuat.
Kegagalan pembicaraan antara AS dan Iran serta ketidakpastian kebijakan ekonomi global memperpanjang tren kenaikan harga emas jangka menengah hingga jangka panjang.
Harga emas (XAU/USD) bertahan di atas level penting USD 5.200 per ounce, mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kegagalan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan harga ini juga didukung oleh data inflasi AS yang menunjukkan angka indeks harga produsen (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan, yang menahan ekspektasi penurunan suku bunga di masa dekat sementara memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap risiko makro. Situasi geopolitik yang tak menentu, termasuk ketegangan Timur Tengah dan ketidakpastian terhadap kebijakan tarif AS, turut memperpanjang tren naik multi-bulan harga emas.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor global terus mengalihkan alokasi modal mereka dari aset berisiko ke instrumen yang lebih defensif. Harga emas menembus level USD 5.260 per ounce, mencapai tertinggi dalam satu bulan terakhir dan memperpanjang tren keuntungan selama tujuh bulan berturut-turut, didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven akibat ketegangan geopolitik. Pembicaraan antara Washington dan Teheran yang tidak menunjukkan kemajuan berarti dapat memperburuk sentimen pasar, mempertahankan daya tarik bullion sebagai instrumen lindung nilai utama.
Selain itu, data inflasi AS yang kuat, termasuk kenaikan PPI inti yang melampaui ekspektasi, turut mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve, mempersempit kemungkinan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi ini mendorong investor untuk tetap berada di posisi emas dan aset defensif lainnya menjelang beberapa rilis data ekonomi utama AS pekan depan, seperti PMI, klaim pengangguran, dan Nonfarm Payrolls.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Karena menunjukkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, yang mendorong pergeseran investor ke aset defensif seperti emas di tengah tekanan pasar global.
Ketegangan Hormuz Lumpuhkan Pengiriman Energi Global, 20% Pasokan Minyak Dunia Terancam
Penutupan atau gangguan pelayaran di Selat Hormuz mengancam sekitar 20% pasokan minyak dunia serta ekspor LNG utama dari Qatar.
Peringatan keamanan dari otoritas militer internasional memperkuat kekhawatiran atas risiko keselamatan pelayaran dan potensi krisis energi global.
Sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang energi menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair (LNG) melalui Strait of Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Teheran menyatakan telah menutup jalur pelayaran tersebut. Citra satelit menunjukkan kapal-kapal tanker menumpuk di dekat pelabuhan utama seperti Fujairah dan tidak melanjutkan pelayaran melalui selat strategis itu.
Sumber pelayaran menyebutkan sejumlah kapal menerima transmisi radio dari Garda Revolusi Iran yang melarang kapal melintasi Hormuz. Misi angkatan laut Uni Eropa, EUNAVFOR Aspides, mengonfirmasi adanya pesan tersebut. Namun Angkatan Laut Inggris menyatakan perintah Iran tidak memiliki kekuatan hukum internasional dan menyarankan kapal tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi. Asosiasi kapal tanker global, INTERTANKO, juga mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS memperingatkan risiko keamanan di seluruh kawasan Teluk, termasuk Teluk Oman dan Laut Arab Utara.
Sekitar 20% pasokan minyak global dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran melewati Hormuz, selain volume besar LNG dari Qatar. Konsultan energi Kpler melaporkan sedikitnya 14 kapal LNG memperlambat laju, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat tersebut, dengan potensi peningkatan jumlah dalam waktu dekat. Situasi ini menimbulkan risiko serius terhadap stabilitas pasokan energi global serta potensi lonjakan harga minyak dan gas di pasar internasional. Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan rantai pasok energi global. Analis memperkirakan harga minyak Brent berpotensi melonjak ke kisaran USD 80 per barel dalam skenario konflik terbatas, dan mendekati USD 100 jika gangguan pasokan berlangsung lama, dengan implikasi signifikan terhadap inflasi global.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Karena menunjukkan gangguan serius terhadap jalur distribusi energi global yang dapat memicu lonjakan harga, ketidakstabilan pasar, dan tekanan ekonomi internasional.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- S&P Global Manufacturing PMI (Feb) – USD
Data ini diperkirakan berada di level 51.2, sama seperti sebelumnya, yang mengindikasikan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi namun tanpa percepatan signifikan. Stabilitas ini mengindikasikan kondisi industri relatif solid, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi katalis penguatan USD yang agresif.
- Dampak:
➡️ USD cenderung netral, pergerakan terbatas kecuali terjadi deviasi signifikan dari forecast.
- ISM Manufacturing PMI (Feb) – USD
Angka diperkirakan turun ke 51.7 dari 52.6, yang mengindikasikan perlambatan moderat dalam aktivitas manufaktur. Meskipun masih berada di atas level 50 (ekspansi), penurunan ini mengindikasikan momentum pertumbuhan mulai melemah, yang bisa menekan ekspektasi pertumbuhan ekonomi kuartal berjalan.
- Dampak:
USD berpotensi melemah moderat jika realisasi sesuai atau lebih rendah dari forecast.
- ISM Manufacturing Prices (Feb) – USD
Indeks harga diperkirakan naik ke 60.6 dari 59.0, yang mengindikasikan tekanan biaya produksi kembali meningkat. Kenaikan ini mengindikasikan potensi tekanan inflasi masih bertahan, yang dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat.
- Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat jika kenaikan harga memperkuat narasi inflasi dan sikap hawkish The Fed.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
