Dolar AS Terpeleset di 101,42: Gertakan Trump dan Tekanan Inflasi yang Mereda

Analisa Fundamental Magnetfx 19 Juli
  • Inflasi Jinak Redakan Tekanan Suku Bunga: CPI AS Juni melandai melebihi ekspektasi pasar, memberikan angin segar bagi bursa saham dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.

  • Trump Tukar Tarif dengan Investasi: Pembatalan tarif proteksi 20% di Selat Hormuz diganti dengan komitmen investasi raksasa dari negara Teluk, sukses meredakan kecemasan ekstrem atas disrupsi pasokan minyak dunia.

Indeks Dolar AS (DXY) merosot 0,1% ke level 101,42 pada perdagangan Selasa, keluar dari puncaknya seiring melandainya harga minyak. Penurunan harga energi meredakan ketakutan inflasi pasar pasca berlanjutnya jeda serangan militer antara AS dan Iran. Kini, perhatian investor tertuju penuh pada pengumuman suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada hari Rabu.

Donald Trump kembali mengklaim kemajuan diplomasi dengan Iran, meski tetap melemparkan ancaman keras akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik jika negosiasi gagal. Pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dengan probabilitas 69%. Namun, kepemimpinan baru Kevin Warsh yang hawkish membuat spekulasi pengetatan kejutan tetap berada di angka 31%.

Di pasar valuta asing, Euro menguat tipis ke $1,1388 terdorong sinyal hawkish Bank Sentral Eropa (ECB), sementara Poundsterling stabil jelang rapat Bank of England. Sebaliknya, Yen Jepang terus terpuruk di level terendah dekat 163,81 per dolar. Pelaku pasar kini menanti langkah Bank of Japan pada Jumat untuk melihat sinyal normalisasi kebijakan moneter.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk indeks saham AS: Meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah masih tegang dan saham IBM anjlok, pasar merespons sangat positif penurunan inflasi AS yang signifikan serta langkah taktis Trump membatalkan tarif keamanan Selat Hormuz. Hal ini berhasil memicu optimisme investor bahwa tekanan suku bunga tinggi akan mereda dan stabilitas ekonomi global dapat terjaga..

Emas Terpeleset ke $4.028: Bayang-Bayang Hawkish The Fed Matikan Kilau Logam Mulia

  • Emas Anjlok 1,2% ke $4.028,64: Harga emas merosot akibat kehati-hatian investor menghadapi Rapat Keputusan Suku Bunga The Fed.

  • Spekulasi Ketat Kevin Warsh: Pasar memperkirakan suku bunga bertahan (peluang 69%), namun ketegasan Kevin Warsh melawan inflasi membuka risiko kenaikan suku bunga kejutan.

Harga emas spot merosot 1,2% hingga terperosok ke level $4.028,64 per ons pada perdagangan Selasa akibat aksi kehati-hatian investor jelang pengumuman suku bunga The Fed. Meski tren penurunan harga minyak berhasil meredakan ketakutan inflasi, hal tersebut gagal menopang penguatan emas. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS kini menjadi penekan utama pergerakan harga logam mulia.

Pasar memperkirakan peluang sebesar 69% bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75%. Kendati demikian, retorika keras Ketua The Fed Kevin Warsh yang sangat berkomitmen menekan inflasi memicu spekulasi kenaikan suku bunga kejutan. Analis JPMorgan menilai keputusan Warsh dapat menjadi kejutan pengetatan demi menegaskan independensinya dari pemerintah.

Dari geopolitik, Donald Trump kembali mengklaim kemajuan diplomasi dengan Iran sembari menebar ancaman akan menghancurkan infrastruktur vital jika kesepakatan gagal. Sinyal rehat perang ini terus menekan harga minyak dunia dan mengikis daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai (hedge). Volatilitas harga emas diproyeksikan bertahan hingga ada kepastian resmi dari keputusan FOMC.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Ketakutan pasar terhadap potensi kebijakan hawkish atau kenaikan suku bunga kejutan oleh Ketua The Fed Kevin Warsh menekan harga emas secara langsung. Selain itu, meredanya perang AS-Iran yang menekan harga minyak turut mengurangi fungsi emas sebagai pelindung nilai dari risiko inflasi energi.

Minyak Anjlok 5% ke Level Terendah: Pasar Taruh Harapan pada Jeda Perang AS-Iran
  • Minyak Anjlok ke $84,09: Harga Brent dan WTI jatuh hingga 5% terdorong spekulasi diplomasi AS-Iran, walau gangguan lalu lintas Selat Hormuz masih berlangsung.

  • Penolakan Iran & Respon OPEC+: Teheran menolak draf kesepakatan Oman terkait Selat Hormuz, sementara OPEC+ bersiap menahan kenaikan produksi mulai Oktober.

Harga minyak dunia merosot sekitar 5% pada Selasa hingga menyentuh level terendah dua pekan akibat harapan pasar atas jeda konflik AS-Iran. Brent anjlok 4,8% ke $84,09 per barel dan WTI jatuh 4,1% ke $79,26 per barel usai penurunan beruntun tiga hari. Meski begitu, kedua pihak dinilai masih jauh dari kata sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen.

Donald Trump mengklaim adanya “pembicaraan positif”, namun Teheran membantah meminta negosiasi dan justru menolak draf rencana pengelolaan Selat Hormuz dari Oman. Di saat bersamaan, ketegangan kawasan tetap tinggi akibat penutupan kilang Jizan milik Saudi Aramco sebesar 400.000 barel per hari pasca-serangan rudal milisi Houthi Yaman.

Dari luar Timur Tengah, rumor kebangkitan perundingan damai Rusia-Ukraina berpotensi mencabut sanksi minyak Moskow dan menambah pasokan global. Merespons ketidakpastian pasar ini, aliansi OPEC+ diproyeksikan bakal menahan rencana peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober mendatang.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk harga OIL: Terjadinya penurunan harga minyak yang signifikan (anjlok ~5%) dipicu oleh spekulasi de-eskalasi konflik dan melandainya permintaan akibat ketakutan resesi pasokan. Selain itu, potensi kembalinya minyak Rusia ke pasar global dan rencana OPEC+ menahan produksi memperkuat tekanan turun pada harga minyak.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Crude Oil Inventories (USD)

Diperkirakan ada penurunan tajam pada persediaan minyak mentah mingguan dari data sebelumnya yang mencatatkan surplus 2.010M menjadi defisit -1.700M.
Dampak:
Berpotensi menguat pada harga OIL jika dirilis lebih rendah dari forecast

 

Disclaimer:
Analisis ini disusun semata-mata sebagai referensi dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi. Keputusan trading harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, profil risiko, serta strategi masing-masing individu. Perdagangan berjangka merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi, sehingga seluruh keputusan dan konsekuensi transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: