Selat Hormuz Membara: Trump Kehabisan Kesabaran, Iran Bersiap Lawan Balik?

  • Trump dan Xi sepakat Selat Hormuz harus dibuka, namun Iran tetap menolak tanpa penghentian blokade AS.

  • Harga minyak melonjak tajam karena pasar khawatir konflik AS-Iran akan memicu krisis pasokan energi global lebih besar.

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia. Namun China belum menunjukkan tanda akan menekan Tehran secara langsung. Dalam perjalanan pulang dari Beijing, Trump mengatakan dirinya mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak Iran. Di sisi lain, Iran justru menegaskan hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Tehran yang akan mendapat akses khusus melalui mekanisme baru di Selat Hormuz.

Konflik AS-Iran terus memasuki fase berbahaya setelah Tehran menolak membuka jalur pelayaran sebelum AS menghentikan blokade pelabuhan Iran. Trump bahkan mengaku mulai kehilangan kesabaran dan mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran tidak mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Meski Iran membuka peluang diplomasi dan menerima mediasi China maupun Pakistan, pemerintah Iran tetap menegaskan tidak mempercayai Washington setelah serangan udara AS-Israel sebelumnya. Situasi semakin tegang setelah Iran mengeksekusi puluhan orang yang dituduh bekerja sama dengan intelijen AS dan Israel sejak perang dimulai.

Pasar energi global langsung merespons keras kebuntuan tersebut. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 3% ke USD109,26 per barel, sementara WTI naik 4,2% ke USD105,42 per barel. Pelaku pasar menilai peluang pembukaan penuh Selat Hormuz semakin kecil dalam waktu dekat, sementara cadangan minyak global mulai menipis akibat gangguan distribusi berkepanjangan. Meski jumlah kapal yang melintas mulai meningkat dibanding beberapa minggu lalu, aktivitas masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang. Kekhawatiran akan eskalasi militer baru dan krisis pasokan energi membuat volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Kebuntuan diplomasi AS-Iran dan ancaman eskalasi militer meningkatkan risiko gangguan energi global dan tekanan inflasi dunia. Kondisi ini mendukung kenaikan harga minyak tetapi memperburuk ketidakpastian ekonomi dan sentimen aset berisiko.

 

Emas Ambruk Pekan Ini: Dolar AS Menggila, Trump-Xi Gagal Redakan Ketegangan Global

  • Data inflasi AS yang panas meningkatkan peluang suku bunga tinggi lebih lama dan mendorong penguatan dolar AS.

  • Pertemuan Trump-Xi gagal menghasilkan terobosan besar terkait perdagangan maupun konflik Iran.

Harga emas jatuh tajam pada perdagangan Jumat dan mencatat pelemahan mingguan terburuk sejak pertengahan Maret akibat lonjakan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Spot gold anjlok 2,4% ke USD4.540,14 per ons, sementara emas berjangka AS turun 3% ke USD4.543,60 per ons. Sepanjang pekan, harga emas spot melemah 3,7% dan emas futures turun 4%. Tekanan juga melanda logam mulia lain, dengan perak jatuh 9% dan platinum turun lebih dari 5%.

Pelemahan emas dipicu data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan. Kenaikan Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) menunjukkan lonjakan harga minyak akibat perang Iran mulai menghantam konsumen dan produsen AS. Pasar kini semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan bunga tambahan. Ekspektasi tersebut membuat dolar AS mencatat penguatan mingguan terbaik dalam lebih dari sembilan bulan terakhir. Kondisi ini menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding karena menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Di sisi geopolitik, kunjungan Presiden Donald Trump ke China gagal menghasilkan terobosan besar terkait perdagangan, kecerdasan buatan, maupun konflik Iran. Meski Trump mengklaim China mendukung pembukaan Selat Hormuz dan tidak akan membantu militer Iran, pasar menilai pembicaraan tersebut belum memberikan kepastian nyata. Trump juga kembali meningkatkan tekanan terhadap Tehran dengan ancaman serangan militer baru jika Iran tidak menerima kesepakatan damai. Ketidakpastian global dan penguatan dolar akhirnya membuat investor lebih memilih mata uang AS dibanding aset safe haven seperti emas.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menekan permintaan emas secara signifikan. Di saat yang sama, kegagalan diplomasi Trump-Xi menciptakan ketidakpastian tanpa mampu mengangkat kembali minat terhadap safe haven.

 

Trump-Xi Belum Tuntas: China Sebut Kesepakatan Dagang Masih Awal, Iran Siapkan Kontrol Baru Selat Hormuz

  • China menegaskan kesepakatan dagang Trump-Xi belum final meski ada rencana pemangkasan tarif dan pembelian pesawat AS.

  • Iran menyiapkan sistem kontrol dan biaya transit Selat Hormuz yang berpotensi memperburuk gangguan pasokan energi global.

China pada Sabtu menyebut kesepakatan dagang dan investasi hasil pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping masih bersifat “awal” dan belum final. Meski kedua negara sepakat membentuk dewan perdagangan dan investasi untuk membahas pemangkasan tarif serta peningkatan perdagangan pertanian dan pesawat, Beijing menegaskan detail implementasi masih terus dinegosiasikan. Trump sebelumnya mengklaim China akan membeli 200 pesawat Boeing dan meningkatkan impor produk AS, namun hingga kini belum ada rincian resmi terkait nilai, volume, maupun jadwal realisasi kesepakatan tersebut.

Di tengah optimisme diplomasi AS-China, ketegangan geopolitik tetap membayangi pasar global. China dan AS masih berselisih soal Taiwan, chip kecerdasan buatan, dan perang dagang yang memburuk sejak 2025. Trump bahkan memperingatkan Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan setelah pertemuannya dengan Xi. Sementara itu, Iran mengumumkan sedang menyiapkan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz, termasuk rencana penarikan biaya transit bagi kapal yang ingin melintas. Tehran menegaskan hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat akses melalui jalur tersebut.

Langkah Iran ini meningkatkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia masih beroperasi jauh di bawah kapasitas normal sejak konflik AS-Israel-Iran pecah pada Februari lalu. Trump terus menekan Iran agar membuka kembali jalur tersebut dan bahkan mempertimbangkan opsi militer baru setelah menolak proposal damai Tehran. Pasar kini menghadapi dua risiko besar sekaligus: ketidakpastian hubungan dagang AS-China dan ancaman krisis energi global akibat kontrol Iran di Selat Hormuz.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Ketidakpastian hasil perundingan AS-China dan meningkatnya kontrol Iran atas Selat Hormuz memperbesar risiko geopolitik serta ancaman inflasi energi global. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar dan mendukung kenaikan harga minyak dunia.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: