Wall Street Pecah Rekor: Trump-Xi Picu Euforia, Nvidia Terbang di Tengah Bayang-Bayang Iran
Optimisme pertemuan Trump-Xi dan peluang kerja sama AI mendorong Wall Street serta saham teknologi mencetak rekor baru.
Konflik Iran dan terganggunya Selat Hormuz tetap menjaga risiko inflasi energi global dan suku bunga tinggi AS.
Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis setelah optimisme pasar terhadap kunjungan Presiden Donald Trump ke China mendorong reli saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan. Indeks S&P 500 naik 0,8% dan menembus level psikologis 7.500 untuk pertama kalinya dalam sejarah, sementara Nasdaq menguat 0,9% ke rekor baru. Dow Jones juga naik 0,8% mendekati all time high. Kenaikan dipimpin saham teknologi, terutama Nvidia yang melonjak 4,4% ke level tertinggi sepanjang masa setelah muncul laporan bahwa AS mulai membuka akses penjualan chip AI H200 ke perusahaan China.
Sentimen positif semakin kuat setelah Trump menyebut pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping berlangsung “sangat positif dan konstruktif.” Kedua pemimpin membahas perdagangan, kecerdasan buatan, Taiwan, hingga konflik Iran. Trump bahkan menyatakan Xi ingin membantu membuka kembali Selat Hormuz dan mendukung tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Pasar juga menyambut positif potensi pembelian 200 pesawat Boeing oleh China, meski saham Boeing justru ditutup melemah hampir 5%. Di sisi lain, isu Taiwan masih menjadi perhatian besar karena Xi menegaskan hubungan AS-China dapat terganggu jika masalah Taiwan tidak ditangani dengan hati-hati.
Meski sentimen risk-on mendominasi pasar saham, kekhawatiran inflasi masih membayangi investor. Harga minyak Brent bertahan di atas USD106 per barel akibat konflik Iran yang membuat Selat Hormuz masih terganggu. Kondisi ini terus memicu tekanan inflasi global dan memperkuat kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data inflasi produsen AS sebelumnya menunjukkan lonjakan terbesar sejak 2022, sementara Ketua The Fed baru Kevin Warsh diperkirakan menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan tekanan harga tanpa melemahkan pertumbuhan ekonomi.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk indeks saham AS: Euforia pasar dipicu optimisme hubungan AS-China, potensi kerja sama perdagangan dan AI, serta reli saham teknologi seperti Nvidia. Namun, ancaman inflasi akibat konflik Iran dan tingginya harga minyak masih menjadi risiko jangka menengah bagi market global.
Emas Tersungkur di Tengah Euforia Trump-Xi: Dolar dan Suku Bunga Tinggi Hantam Safe Haven
Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed menekan harga emas dan logam mulia lainnya.
Optimisme pertemuan Trump-Xi mengurangi permintaan safe haven di tengah harapan meredanya ketegangan global.
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Kamis setelah penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menekan minat investor terhadap aset safe haven. Spot gold turun 0,9% ke USD4.652,46 per ons, sementara emas berjangka melemah 1,1% ke USD4.655,35 per ons. Tekanan juga melanda logam mulia lainnya, dengan perak anjlok 4,8% dan platinum turun 5,5%. Pasar menilai lonjakan inflasi AS akibat harga minyak yang tinggi semakin memperkecil peluang pemangkasan suku bunga tahun ini.
Data ekonomi AS memperkuat tekanan terhadap emas setelah inflasi konsumen dan produsen mencatat kenaikan lebih panas dari perkiraan. Penjualan ritel April memang tumbuh 0,5%, namun melambat dibanding bulan sebelumnya. Investor kini semakin yakin The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan bunga tambahan. Pengangkatan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve baru juga memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat di tengah lonjakan inflasi energi akibat perang Iran. Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat dan mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.
Di sisi geopolitik, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Kedua negara dikabarkan mulai menunjukkan kemajuan dalam negosiasi perdagangan dan pembahasan konflik Iran. Trump menyebut Xi ingin membantu membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat perang. Sentimen pasar juga didorong kabar bahwa AS mulai membuka akses penjualan chip AI Nvidia ke beberapa perusahaan China serta potensi pembelian 200 pesawat Boeing oleh China. Harapan terhadap stabilitas geopolitik dan kerja sama ekonomi global membuat investor beralih dari aset safe haven seperti emas menuju aset berisiko.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Kenaikan inflasi AS, penguatan dolar, dan meningkatnya peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama membuat emas kehilangan daya tarik. Selain itu, optimisme diplomasi AS-China dan potensi stabilisasi konflik Iran mendorong investor masuk ke aset berisiko dan keluar dari safe haven.
Minyak Bertahan di Atas USD100: Selat Hormuz Mulai Bergerak, Tapi Ancaman Iran Belum Usai
Iran mulai membuka sebagian akses Selat Hormuz, tetapi risiko gangguan pasokan minyak global masih tinggi.
Pertemuan Trump-Xi memunculkan harapan diplomasi Iran, namun pasar tetap waspada terhadap ketidakpastian geopolitik.
Harga minyak dunia bergerak terbatas pada perdagangan Kamis setelah Iran mengizinkan 30 kapal melintas di Selat Hormuz di bawah pengawasan Garda Revolusi Iran (IRGC). Brent crude ditutup turun tipis 0,1% ke USD106,52 per barel, sementara WTI naik 1% ke USD102,02 per barel. Meski jalur strategis tersebut mulai kembali dilalui kapal, pasar tetap berhati-hati karena Selat Hormuz masih menjadi pusat ketegangan geopolitik terbesar dunia sejak konflik AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Pasar juga memantau intensif pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Trump menyebut Xi ingin membantu membuka kembali Selat Hormuz dan mendukung tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. China sendiri merupakan importir utama minyak Iran dan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap arah diplomasi konflik. Namun analis memperingatkan pasar mungkin terlalu berharap pada hasil pertemuan tersebut, mengingat negosiasi AS-Iran masih menemui jalan buntu dan isu Taiwan juga membayangi hubungan Washington-Beijing.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, harga minyak tetap bertahan jauh di atas level pra-perang sekitar USD70 per barel. Data persediaan minyak AS turut menopang harga setelah stok minyak mentah turun 4,3 juta barel, lebih besar dari perkiraan pasar. Penurunan stok bensin juga menunjukkan permintaan energi masih kuat meski harga tinggi mulai membebani ekonomi global. Sementara itu, IEA dan OPEC telah memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun ini akibat dampak konflik dan volatilitas pasar energi.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Meski ada sedikit tanda pelonggaran di Selat Hormuz, harga minyak tetap didukung oleh risiko geopolitik, gangguan pasokan global, dan penurunan stok minyak AS yang menunjukkan permintaan energi masih kuat.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
