Dolar AS Menguat di Tengah Ancaman Perang: Hormuz Memanas, Pasar Lari ke Safe Haven
Dolar menguat karena meningkatnya permintaan safe haven di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz.
Data ekonomi AS yang solid dan ekspektasi suku bunga tinggi turut mendukung penguatan dolar.
Dolar AS menguat pada Kamis seiring meningkatnya permintaan aset safe haven akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Indeks dolar naik 0,3% ke level 98,77, didorong oleh memburuknya sentimen risiko meskipun gencatan senjata antara AS dan Iran telah diperpanjang. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta retorika keras antara kedua negara membuat pasar kembali waspada terhadap potensi konflik yang lebih luas.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump memerintahkan militer AS untuk menindak tegas kapal yang menanam ranjau di Selat Hormuz. Aksi militer dan penyitaan kapal dari kedua belah pihak mempertegas risiko gangguan pasokan energi global, mengingat jalur tersebut mengalirkan sekitar 20% minyak dunia. Sementara itu, negosiasi damai masih menemui jalan buntu meski upaya mediasi internasional terus dilakukan.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga didukung data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama. Lonjakan harga minyak di atas $100 per barel meningkatkan risiko inflasi, yang dapat mendorong kebijakan moneter tetap ketat. Di sisi lain, ekonomi Eropa menunjukkan pelemahan, menambah tekanan terhadap mata uang euro dan semakin memperkuat posisi dolar secara global.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk Dollar AS: Kombinasi ketidakpastian geopolitik, permintaan safe haven, dan ekspektasi kebijakan moneter ketat mendorong penguatan dolar AS.
Emas Melejit di Tengah Damai Semu: Hormuz Dibuka, Risiko Belum Usai
Emas turun akibat penguatan dolar dan ketidakpastian negosiasi AS–Iran.
Lonjakan harga minyak memicu risiko inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi yang menekan emas.
Harga emas melemah pada Kamis di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Emas spot turun 1,1% ke $4.690 per ons, sementara kontrak berjangka terkoreksi 1%. Meski gencatan senjata telah diperpanjang oleh Presiden Donald Trump, pasar tetap diliputi ketidakpastian terkait kelanjutan negosiasi damai yang belum menunjukkan kemajuan berarti.
Kebuntuan antara Washington dan Teheran semakin memperburuk sentimen, dengan Iran menuntut pencabutan blokade sebagai syarat negosiasi, sementara AS mendesak pembukaan penuh Selat Hormuz. Konflik ini turut mendorong harga minyak kembali melampaui $100 per barel, memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, yang menjadi tekanan bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Di sisi lain, penguatan dolar sebagai aset safe haven semakin membebani harga emas karena membuatnya lebih mahal bagi investor global. Logam mulia lain seperti perak dan platinum juga ikut tertekan, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung defensif. Dalam jangka pendek, arah emas masih sangat bergantung pada pergerakan dolar dan perkembangan konflik geopolitik yang belum menemukan titik terang.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif jangka menengah: Dominasi penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih kuat dibanding faktor safe haven, sehingga menekan harga emas.
Minyak Meledak di Tengah ‘Roulette’ Geopolitik: Konflik Iran Dorong Harga ke Level Berbahaya
Lonjakan harga minyak dipicu eskalasi konflik Iran dan gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Ketidakpastian negosiasi damai meningkat setelah pengunduran diri negosiator utama Iran dan sikap keras kedua pihak.
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis setelah laporan aktivitas pertahanan udara di Teheran serta meningkatnya konflik internal di Iran antara kubu garis keras dan moderat. Minyak Brent ditutup naik 3,1% ke $105,07 per barel, sementara WTI menguat 3,11% ke $95,85. Lonjakan sempat lebih tinggi sebelum terkoreksi, mencerminkan pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik terbaru.
Ketegangan semakin meningkat setelah pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang dinilai memperkuat pengaruh kelompok garis keras dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai dengan AS. Di sisi lain, konflik di Selat Hormuz kian memanas dengan aksi penyitaan kapal oleh Iran dan perintah tegas Presiden Donald Trump untuk menyerang kapal yang menanam ranjau. Meskipun gencatan senjata diperpanjang, kedua negara tetap membatasi jalur pelayaran, menciptakan kebuntuan yang mengancam pasokan energi global.
Selat Hormuz yang biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia kini hampir lumpuh, memicu kekhawatiran krisis energi yang lebih dalam. Meski sebagian pelaku pasar masih optimistis situasi akan mereda, volatilitas tinggi akibat “headline roulette” membuat risiko lonjakan harga lebih lanjut tetap terbuka. Di tengah kondisi ini, pasar energi berada dalam tekanan antara harapan diplomasi dan realitas eskalasi konflik.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Eskalasi konflik, gangguan pasokan energi, dan ketidakpastian diplomasi meningkatkan risiko krisis energi dan inflasi global, meskipun harga minyak sendiri naik (bullish secara harga, tapi negatif untuk stabilitas ekonomi).
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
