Wall Street Cetak Rekor di Tengah Konflik: Pasar Abaikan Risiko, Optimisme Kembali Menguat

  • Wall Street mencetak rekor tertinggi didorong optimisme gencatan senjata dan kuatnya earnings.

  • Pasar mulai mengabaikan risiko geopolitik meski konflik dan lonjakan harga minyak masih berlangsung.

Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi pada Rabu setelah sentimen pasar membaik בעקבות perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran oleh Presiden Donald Trump. Indeks S&P 500 naik 1% ke level 7.137, sementara NASDAQ Composite melonjak 1,6% dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,7%, semuanya ditutup di level tertinggi sepanjang masa. Optimisme ini didorong oleh harapan kelanjutan negosiasi damai meski sebelumnya sempat muncul keraguan terkait perundingan.

Pelaku pasar mulai mengalihkan fokus dari konflik geopolitik ke musim laporan keuangan kuartal pertama yang menunjukkan kinerja solid. Ekspektasi terhadap perusahaan teknologi besar, termasuk kelompok “Magnificent 7”, turut memperkuat sentimen positif. Data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan serta proyeksi pertumbuhan laba yang tetap tinggi juga menjadi pendorong utama reli pasar, memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek jangka menengah.

Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan blokade yang masih berlangsung menunjukkan risiko geopolitik tetap tinggi. Lonjakan harga minyak di atas $100 per barel juga memicu kekhawatiran inflasi global. Namun, pasar tampaknya mulai mengabaikan risiko tersebut, dengan keyakinan bahwa dampak terburuk konflik telah diperhitungkan sebelumnya dan tidak akan menggagalkan tren kenaikan saham dalam waktu dekat.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Optimisme terhadap earnings, data ekonomi yang kuat, dan meredanya kekhawatiran konflik mendorong investor kembali ke aset berisiko dan mengangkat pasar ke level tertinggi baru.

Emas Bangkit Tipis di Tengah Konflik Memanas: Safe Haven Belum Kehilangan Taring

  • Emas naik tajam pada hari Jumat dipicu pembukaan Selat Hormuz dan turunnya harga minyak.

  • Pelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran The Fed memperkuat kenaikan emas.

Harga emas menguat tipis pada Rabu meski dolar AS cenderung menguat, di tengah tarik-menarik sentimen antara perpanjangan gencatan senjata AS–Iran dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Emas spot naik 0,4% ke $4.740 per ons, sementara kontrak berjangka menguat 0,8%. Pergerakan ini mencerminkan posisi emas yang masih mencari arah di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Sejak mengalami tekanan tajam pada Maret, emas perlahan pulih meski tertinggal dari reli pasar saham seperti S&P 500. Pelemahan sebelumnya lebih dipicu oleh aksi likuidasi dan peralihan dana ke dolar serta aset berimbal hasil tinggi, bukan karena hilangnya fungsi emas sebagai safe haven. Namun, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi hambatan utama bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih tinggi meskipun Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak di atas $100 per barel meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, yang pada akhirnya membatasi kenaikan emas meski permintaan safe haven masih ada.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen Positif: Kombinasi penurunan inflasi, pelemahan dolar, dan harapan penurunan suku bunga menjadi pendorong utama kenaikan emas, meskipun risiko geopolitik masih membatasi stabilitas jangka panjang.

Minyak Tembus $100 Lagi: Serangan di Hormuz dan Krisis Pasokan Picu Lonjakan Tajam

 

  • Harga minyak melonjak akibat penurunan stok bahan bakar AS dan gangguan pasokan di Selat Hormuz.

  • Ketegangan geopolitik dan mandeknya negosiasi damai memperbesar risiko krisis energi global.

Harga minyak melonjak lebih dari $3 pada Rabu, didorong oleh kombinasi data stok AS yang mengejutkan dan eskalasi konflik di Selat Hormuz. Minyak Brent ditutup naik 3,48% ke $101,91 per barel, sementara WTI menguat 3,67% ke $92,96. Kenaikan ini dipicu oleh penurunan tajam persediaan bensin dan distilat di Amerika Serikat, yang mengindikasikan permintaan energi tetap kuat di tengah kondisi pasar yang ketat.

Di sisi geopolitik, ketegangan meningkat setelah serangan terhadap beberapa kapal kontainer di Selat Hormuz serta penyitaan kapal oleh Iran. Jalur vital yang biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global kini mengalami gangguan serius, diperparah oleh pembatasan pelayaran dari kedua pihak. Meski Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, negosiasi damai masih mandek dan belum menunjukkan kemajuan berarti.

Situasi semakin kompleks dengan potensi pengalihan pasokan minyak Rusia serta meningkatnya kekhawatiran kekurangan energi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz anjlok drastis, memicu kekhawatiran krisis pasokan terburuk dalam sejarah. Dengan permintaan global tetap kuat dan pasokan terganggu, pasar minyak menghadapi tekanan kenaikan harga yang signifikan di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Gangguan pasokan global yang serius ditambah permintaan kuat menciptakan tekanan naik yang dominan pada harga minyak.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

  • Initial Jobless Claims – USD

Klaim pengangguran mingguan diprediksi naik menjadi 212K dari angka sebelumnya 207K.

 

Dampak:

Potensi Bearish USD. Kenaikan jumlah klaim menunjukkan adanya sedikit pelonggaran di pasar tenaga kerja, yang dapat memberikan tekanan jual pada Dolar AS jika angka aktual rilis lebih tinggi dari perkiraan.

 

  • S&P Global PMI (Services & Manufacturing) – USD

Aktivitas sektor jasa diprediksi naik tipis ke ambang batas ekspansi di 50.1. Sementara itu, sektor manufaktur diperkirakan menguat ke 52.5 dari sebelumnya 52.3.

 

Dampak:

Potensi Bullish USD. Jika kedua data PMI ini rilis di atas angka 50.0 (zona ekspansi), hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi AS di sektor produksi dan jasa, yang mendukung penguatan nilai tukar Dolar.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: