Wall Street Bangkit di Tengah Ancaman Perang: Pasar Abaikan Blokade Hormuz

  • Wall Street rebound kuat didorong sektor teknologi dan harapan negosiasi AS–Iran tetap berlanjut.

  • Blokade Hormuz dan lonjakan minyak picu risiko inflasi, namun pasar menilai dampaknya masih terkendali.

Wall Street ditutup menguat pada Senin setelah sempat dibuka melemah, dengan indeks utama naik sekitar 1% didorong oleh rebound saham teknologi dan fokus investor pada musim laporan keuangan. Indeks S&P 500 berhasil menghapus seluruh kerugian sejak konflik Timur Tengah dimulai, sementara Nasdaq dan Dow Jones juga mencatat kenaikan solid. Optimisme pasar muncul meski negosiasi AS–Iran belum menghasilkan kesepakatan final.

Di tengah penguatan pasar, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi dimulainya blokade militer di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global. Meski demikian, pasar merespons relatif tenang karena langkah tersebut dinilai sebagai strategi negosiasi. Bahkan, laporan peningkatan lalu lintas kapal memberi harapan bahwa gangguan suplai energi tidak separah yang dikhawatirkan sebelumnya.

Harga minyak tetap tinggi mendekati $100 per barel akibat konflik yang berkepanjangan, memicu kekhawatiran inflasi global. Namun, sentimen pasar tetap positif didukung harapan kelanjutan negosiasi dan kuatnya kinerja sektor teknologi. Investor kini juga mengalihkan fokus ke musim earnings sebagai pendorong utama arah pasar berikutnya, meski risiko geopolitik masih membayangi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Pasar menunjukkan resiliensi tinggi dengan tetap naik meski ada risiko geopolitik besar, didukung optimisme negosiasi dan fokus pada kinerja perusahaan, sehingga sentimen risk-on masih dominan.

 

Emas Tertahan Tekanan Inflasi: Lonjakan Minyak & Sikap The Fed Tahan Kenaikan

  • Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi → menekan emas karena peluang suku bunga tinggi lebih lama.

  • Komentar Trump & pelemahan dolar menahan penurunan emas di tengah ketidakpastian geopolitik.

Harga emas (XAU/USD) melemah di awal pekan, turun sekitar 0,20% ke kisaran $4.734 setelah sempat menyentuh $4.750. Pelemahan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi lebih tinggi, sehingga mengurangi peluang bank sentral, termasuk The Fed, untuk menurunkan suku bunga. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menambah posisi emas.

Meski demikian, penurunan emas sempat tertahan setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran yang membuka peluang negosiasi, sehingga menekan penguatan dolar AS. Di sisi lain, langkah AS memblokade Selat Hormuz menambah ketidakpastian geopolitik, namun belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan signifikan pada harga emas karena tekanan dari sisi inflasi masih dominan.

Dari sisi kebijakan moneter, data inflasi AS yang tetap tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama. Imbal hasil obligasi yang cenderung tinggi menjadi hambatan tambahan bagi emas. Pelaku pasar kini menantikan rilis data PPI AS, pidato pejabat The Fed, serta data tenaga kerja sebagai petunjuk arah pergerakan selanjutnya.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Tekanan utama berasal dari kenaikan minyak + ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, yang menjadi faktor negatif bagi emas. Namun, risiko geopolitik dan pelemahan dolar masih menahan penurunan lebih dalam

Minyak Bergejolak di Tengah Blokade Hormuz: Pasar Terjebak antara Harapan dan Ancaman Perang

  • Blokade AS di Selat Hormuz dan gagalnya negosiasi memicu ketidakpastian besar pada pasar minyak global.

  • Harga minyak tetap tinggi meski terkoreksi, didorong risiko gangguan pasokan dan eskalasi konflik.

Harga minyak dunia sempat melonjak tajam pada awal pekan sebelum memangkas sebagian kenaikannya, menyusul pernyataan Donald Trump terkait meningkatnya jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Brent sempat menyentuh di atas $103 per barel sebelum turun ke kisaran $99, sementara WTI juga terkoreksi dari puncaknya di atas $105. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar energi global di tengah dinamika geopolitik yang cepat berubah.

Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat resmi menerapkan blokade terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, menyusul kegagalan negosiasi damai selama 21 jam di Pakistan. Pembicaraan antara Washington dan Teheran buntu pada isu utama seperti program nuklir Iran, pembukaan jalur Hormuz, dan dukungan terhadap kelompok proksi. Bahkan, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi, sementara Trump menyatakan tidak peduli jika Iran kembali ke meja perundingan.

Situasi semakin kompleks dengan ancaman balasan dari Iran yang menyebut blokade sebagai tindakan perang, serta laporan bahwa AS tengah mempertimbangkan serangan terbatas. Meski ada upaya diplomasi lanjutan dari negara-negara Timur Tengah, risiko gangguan pasokan tetap tinggi karena Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% suplai minyak dunia—masih belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga dan ketidakstabilan energi global.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Ketegangan geopolitik meningkat, negosiasi gagal, dan ancaman gangguan suplai energi masih tinggi, yang berpotensi mendorong volatilitas pasar serta tekanan inflasi global.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • PPI (MoM) (Mar) – USD

Indeks Harga Produsen (PPI) mengukur perubahan harga barang di tingkat produsen. Data ini diproyeksikan melonjak signifikan ke angka 1.2% dari sebelumnya 0.7%.Kenaikan tajam pada tingkat produsen biasanya akan diteruskan ke tingkat konsumen (CPI), sehingga data ini sering dianggap sebagai indikator awal inflasi masa depan.

Dampak:
Potensi Bullish USD. Jika rilis aktual sesuai atau lebih tinggi dari forecast 1.2%, pasar akan melihatnya sebagai sinyal kuat bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat masih sangat panas. Hal ini mendukung kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed untuk waktu yang lebih lama, yang berpotensi memperkuat nilai tukar Dolar AS terhadap rival-rivalnya.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: