Dolar Goyah di Tengah Ultimatum Perang: Iran Menolak, Ketegangan Memuncak

  • Eskalasi geopolitik meningkat: Iran menolak ceasefire, Trump ancam serangan besar → risiko konflik makin tinggi.

  • Dolar ditopang fundamental kuat: Data NFP solid memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.

Dolar AS melemah tipis setelah Iran menolak proposal gencatan senjata, sementara Presiden Donald Trump meningkatkan ancaman terhadap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Meski indeks dolar turun marginal, mata uang ini tetap didukung statusnya sebagai safe haven di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda. Di sisi lain, pasar saham AS sempat menguat karena harapan de-eskalasi, meski retorika keras masih mendominasi.

Negosiasi antara AS, Iran, dan mediator regional terus berlangsung dengan skenario gencatan senjata sementara sebelum kesepakatan permanen. Namun, Iran menegaskan penolakannya terhadap solusi jangka pendek dan menuntut akhir permanen konflik serta jaminan keamanan, termasuk akses aman di Selat Hormuz. Trump menetapkan tenggat waktu tegas, mengancam serangan besar terhadap infrastruktur energi Iran jika tidak ada kesepakatan.

Di sisi makro, data Nonfarm Payroll AS menunjukkan hasil jauh di atas ekspektasi, memperkuat pandangan bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Hal ini mendukung dolar dalam jangka menengah, meskipun ketidakpastian pasar tenaga kerja dan lonjakan inflasi akibat harga minyak masih menjadi perhatian. Fokus pasar kini beralih ke data inflasi (CPI) untuk melihat dampak langsung konflik terhadap ekonomi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Ketegangan geopolitik meningkat dan ketidakpastian negosiasi memperbesar risiko global, meskipun dolar masih ditopang data ekonomi yang kuat

 

Emas Melemah di Tengah Ancaman Perang: Ultimatum AS Picu Ketidakpastian Global

  • Eskalasi meningkat: Iran tolak ceasefire, AS keluarkan ultimatum keras → risiko konflik tinggi.

  • Tekanan makro: Lonjakan minyak → inflasi naik → suku bunga tinggi menekan emas.

Harga emas terkoreksi tipis setelah Iran menolak proposal gencatan senjata dan ketegangan dengan AS kembali meningkat. Presiden Donald Trump memperkeras ancaman dengan ultimatum pembukaan Selat Hormuz, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Meskipun emas sempat menguat pekan sebelumnya, tekanan geopolitik yang tidak pasti justru memicu aksi profit taking.

Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya mendorong ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Di saat yang sama, pasar saham justru menguat karena masih adanya harapan tercapainya kesepakatan damai, meskipun negosiasi antara kedua pihak masih jauh dari titik temu.

Situasi di Timur Tengah semakin memanas dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil, balasan militer dari Iran, serta meningkatnya korban dan kerusakan. Ketidakpastian tinggi membuat pergerakan pasar menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan berita. Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah konflik mereda atau justru semakin eskalatif.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar lebih dominan dibandingkan dorongan safe haven dari geopolitik.

 

Minyak Meledak: Ancaman AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Global

  • Eskalasi konflik: Ancaman serangan AS & penolakan ceasefire oleh Iran → risiko gangguan suplai tinggi.

  • Supply vs Risiko: OPEC+ naikkan produksi, tapi belum mampu menutupi potensi gangguan Hormuz.

Harga minyak melonjak ke level tertinggi sesi setelah Presiden Donald Trump mengancam Iran dengan serangan besar jika tidak membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu. Penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata semakin memperburuk ketegangan, memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.

Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar 20% pasokan minyak dunia masih terancam tertutup, memperkuat lonjakan harga minyak. Meskipun ada rencana peningkatan produksi dari OPEC+, pasar menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup untuk mengimbangi risiko gangguan distribusi dalam waktu dekat.

Lonjakan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang dapat berdampak luas pada sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi. Ketidakpastian geopolitik yang tinggi membuat pasar energi sangat sensitif terhadap perkembangan berita, dengan potensi volatilitas yang terus berlanjut.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Risiko geopolitik dan potensi gangguan suplai lebih dominan dibandingkan tambahan produksi, mendorong harga minyak naik.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Durable Goods Orders (MoM) (Feb) – USD

Pesanan barang tahan lama diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar -1.0% dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0.0%. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur dan investasi bisnis di Amerika Serikat sedang mengalami perlambatan.
Dampak:
Berpotensi Bearish USD. Jika rilis aktual sesuai atau lebih rendah dari forecast -1.0%, ini akan memberikan tekanan tambahan pada USD karena menunjukkan melemahnya permintaan ekonomi sektor riil.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: