Dolar Menguat di Tengah Api Perang, Tapi Harapan Damai Mulai Menggerus Dominasi
Dolar tetap kuat secara bulanan meski sempat melemah, didukung konflik geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Harapan de-eskalasi perang menekan dolar sementara, tetapi ketidakpastian masih menjaga permintaan safe haven.
Dolar AS sempat melemah 0,6% ke level 99,96 pada Selasa, namun tetap berada di jalur penguatan bulanan terbesar sejak Juli 2025, didorong statusnya sebagai aset safe haven di tengah konflik AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan, terutama dari penutupan Selat Hormuz, memicu kekhawatiran inflasi global dan perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat investor cenderung mencari perlindungan pada dolar, terlebih dengan ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama.
Meski demikian, sentimen pasar sempat membaik setelah muncul indikasi de-eskalasi konflik. Laporan menyebutkan Presiden Donald Trump mempertimbangkan penghentian operasi militer, sementara Iran juga menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang dengan jaminan keamanan. Harapan ini mendorong investor kembali ke aset berisiko seperti saham, sehingga menekan dolar dalam jangka pendek, meskipun ketidakpastian geopolitik masih tinggi.
Di sisi lain, ekspektasi kebijakan moneter tetap menjadi faktor kunci. Lonjakan harga minyak meningkatkan potensi inflasi, membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga bahkan membuka peluang kenaikan. Data ekonomi menunjukkan kepercayaan konsumen meningkat, namun pasar tenaga kerja mulai melemah. Ketidakpastian arah konflik dan kondisi ekonomi membuat dolar tetap kuat secara fundamental, didukung permintaan safe haven dan posisi AS sebagai eksportir energi.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk Dollar AS: Meskipun ada harapan damai, dominasi sentimen masih dipengaruhi ketidakpastian konflik, ancaman inflasi tinggi, dan potensi perlambatan ekonomi global yang menjaga pasar dalam kondisi waspada.
Emas Bangkit Sesaat, Tapi Tertekan Berat oleh Inflasi dan Suku Bunga Tinggi
Emas naik sementara karena harapan de-eskalasi konflik, tetapi tetap mencatat penurunan bulanan tajam.
Inflasi tinggi dan ekspektasi suku bunga naik menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding.
Harga emas naik pada Selasa seiring kembalinya minat investor ke aset safe haven di tengah reli saham global. Emas spot melonjak 3,8% ke $4.682/oz, didorong harapan meredanya konflik AS-Iran setelah muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan menghentikan operasi militer. Optimisme ini memberi dorongan jangka pendek bagi logam mulia, meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Namun di balik kenaikan tersebut, emas justru berada di jalur penurunan bulanan terburuk dalam hampir dua dekade, anjlok sekitar 11,3% sepanjang Maret. Lonjakan harga minyak akibat konflik memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Selain itu, pasar mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral global.
Kondisi ini diperparah oleh sinyal hawkish dari bank sentral seperti The Fed, ECB, dan BoJ yang berupaya meredam inflasi berbasis energi. Kenaikan yield obligasi semakin menekan emas dan logam mulia lainnya, meskipun terjadi rebound teknikal jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik tetap menopang emas, tetapi tekanan fundamental dari suku bunga tinggi menjadi faktor dominan yang menahan kenaikan lebih lanjut.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Kenaikan emas bersifat sementara, sementara tekanan utama berasal dari inflasi tinggi dan kebijakan moneter hawkish yang secara fundamental melemahkan prospek emas.
Minyak Terseret Harapan Damai, Tapi Risiko Global Masih Membara
Harga minyak turun karena harapan de-eskalasi konflik AS-Iran dan pergeseran ke aset berisiko.
Risiko pasokan global tetap tinggi akibat ketidakpastian Selat Hormuz dan eskalasi konflik regional.
Harga minyak turun pada Selasa seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Brent melemah 2,5% ke $104,75 per barel, sementara WTI turun 0,6% ke $102,27 per barel. Sentimen positif dipicu laporan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan menghentikan operasi militer terhadap Iran, serta pernyataan Iran yang siap mengakhiri konflik jika mendapat jaminan keamanan. Hal ini mendorong investor beralih ke aset berisiko seperti saham dan menekan harga minyak.
Namun, penurunan harga sempat tertahan setelah insiden serangan terhadap kapal tanker minyak di Dubai yang diduga melibatkan Iran, memicu lonjakan harga sementara. Meski demikian, harga kembali melemah setelah sinyal damai menguat. Walau ada optimisme, pasar tetap mencermati ketidakpastian terkait Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan berkepanjangan tetap menjadi ancaman serius terhadap stabilitas suplai global.
Secara keseluruhan, harga minyak masih mencatat lonjakan besar secara bulanan akibat gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Brent tercatat naik sekitar 43,8% dan WTI melonjak 52,6% sepanjang Maret. Konflik yang meluas, termasuk keterlibatan kelompok Houthi dan ancaman terhadap infrastruktur energi, menjaga premi risiko tetap tinggi. Meski ada harapan damai, ketidakpastian geopolitik dan risiko pasokan masih menjadi faktor dominan di pasar minyak.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Walaupun ada harapan damai, pasar masih dibayangi risiko besar dari gangguan pasokan dan ketidakpastian geopolitik yang menjaga volatilitas tinggi dan outlook tidak stabil.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
ADP Nonfarm Employment Change (Mar) – USD
Penambahan lapangan kerja sektor swasta diprediksi melambat signifikan menjadi 41K dari angka sebelumnya 63K. Penurunan ini sering dianggap sebagai indikator awal sebelum rilis data resmi pemerintah (NFP) hari Jumat nanti.
Dampak:
Berpotensi Bearish USD jika rilis aktual lebih rendah dari 41K, karena menandakan pendinginan pasar tenaga kerja.
- Retail Sales & Core Retail Sales (Feb) – USD
Data penjualan ritel diperkirakan bangkit kembali ke zona positif, yaitu 0.5% untuk Retail Sales dan 0.3% untuk Core Retail Sales. Ini menunjukkan ketahanan daya beli konsumen AS setelah sempat mengalami kontraksi di bulan sebelumnya.
Dampak:
Berpotensi Bullish USD jika rilis aktual kuat, mengonfirmasi ekonomi domestik masih bertenaga.
- ISM Manufacturing PMI & Prices (Mar) – USD
Meskipun ISM Manufacturing PMI diprediksi stabil di level 52.3, perhatian utama tertuju pada Manufacturing Prices yang melonjak tajam ke angka 73.8 dari sebelumnya 70.5.
Dampak:
Berpotensi Bullish USD akibat kenaikan komponen harga (biaya input) yang memicu kekhawatiran inflasi kembali memanas di sektor produksi.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
