Dolar Kehabisan Nafas di Tengah Ketegangan Iran dan Menanti Putusan Bank Sentral Dunia
Indeks Dolar AS melemah setelah reli kuat, turun ke bawah level 100 karena pasar mengambil jeda menjelang keputusan suku bunga bank sentral global.
Konflik Iran dan gangguan Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran inflasi global dan volatilitas di pasar energi.
Indeks dolar AS melemah pada awal perdagangan Senin setelah reli kuat dalam dua pekan terakhir mulai mereda. Indeks Dolar AS turun sekitar 0,5% ke level 99,86 setelah sebelumnya menembus level psikologis 100 akibat meningkatnya permintaan safe haven selama konflik Iran. Di sisi lain, mata uang utama lainnya menguat dengan EUR/USD naik ke 1,1512 dan GBP/USD meningkat ke 1,3322.
Penguatan dolar sebelumnya dipicu oleh lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari. Lonjakan inflasi tersebut membuat pasar memperkirakan suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama, yang biasanya mendukung penguatan dolar AS. Bahkan indeks dolar sempat melonjak sekitar 2,8% sejak konflik dimulai dan mencapai level tertinggi dalam sepuluh bulan.
Namun fokus pasar kini beralih pada serangkaian keputusan suku bunga dari bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank of Japan, dan Bank of England. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz—jalur pengiriman sekitar 20% minyak dunia—masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar energi dan mata uang, sementara upaya Amerika Serikat membentuk koalisi untuk membuka kembali jalur tersebut masih menghadapi resistensi dari beberapa sekutu.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk Dollar AS: Dolar mengalami koreksi setelah reli tajam dua minggu terakhir. Pasar menunggu keputusan bank sentral dan perkembangan konflik Iran, sehingga investor sementara mengurangi posisi pada dolar.
Emas Terjebak di Ambang $5.000: Bayang-Bayang Perang Iran dan Suku Bunga Tinggi Menekan Arah Pasar
Harga emas tertahan di sekitar $5.000 karena pasar menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve dan bank sentral global.
Lonjakan harga minyak akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi dan mengurangi peluang pemangkasan suku bunga.
Harga emas bergerak datar di sekitar level psikologis $5.000 pada awal pekan meskipun dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai melemah setelah reli sebelumnya. Logam mulia ini diperdagangkan di sekitar $4.990 setelah sempat menyentuh $5.038 pada sesi perdagangan Eropa. Ketegangan geopolitik akibat perang AS-Iran yang memasuki minggu ketiga masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar.
Gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi global. Sejak konflik dimulai, harga minyak Brent telah naik sekitar 33% sementara minyak WTI melonjak sekitar 37%. Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan militer dengan serangan udara ke Pulau Kharg milik Iran dan memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur minyak jika Iran mengganggu jalur pelayaran energi.
Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global dan memicu kekhawatiran stagflasi. Kondisi ini membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Probabilitas pemotongan suku bunga pada Juni turun tajam menjadi sekitar 23,6%, sementara pasar kini hanya memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga hingga akhir tahun. Investor kini menantikan keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral utama dunia minggu ini.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif: Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi sehingga bank sentral kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi biasanya menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi dan dolar AS.
Minyak Tergelincir di Tengah Ketegangan Hormuz: Pasar Energi Mulai Tarik Napas
Harga minyak turun sekitar 3% setelah beberapa kapal tanker berhasil melintasi Selat Hormuz, meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.
IEA siap melepas cadangan minyak tambahan untuk menahan lonjakan harga energi akibat konflik Iran.
Harga minyak dunia turun sekitar 3% pada Senin setelah sejumlah kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Harga minyak Brent ditutup turun 2,8% ke $100,21 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam 5,3% ke $93,50. Penurunan ini terjadi setelah reli tajam hampir 40% sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.
Tekanan tambahan pada harga minyak datang dari faktor pasokan yang meningkat. Produksi minyak AS yang mendekati rekor tertinggi, impor dari Venezuela, serta rencana pelepasan cadangan minyak strategis AS ikut meredakan kekhawatiran pasar. Selain itu, para trader juga melakukan aksi jual menjelang jatuh tempo kontrak minyak WTI bulan April di New York Mercantile Exchange.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar energi. Presiden AS Donald Trump kembali meminta dukungan negara lain untuk membuka kembali Selat Hormuz, meskipun beberapa sekutu seperti Uni Eropa menunjukkan keengganan. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan siap melepas cadangan minyak tambahan jika diperlukan untuk menahan lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang Iran.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Mulainya kembali sebagian jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz dan kemungkinan pelepasan cadangan minyak global meningkatkan pasokan pasar, sehingga menekan harga minyak meskipun konflik geopolitik masih berlangsung.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi AUD:
RBA Interest Rate Decision (Mar) – AUD
Bank Sentral Australia (RBA) diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4.10%. Kenaikan ini merupakan langkah agresif untuk meredam inflasi domestik yang masih berada di atas target bank sentral. Fokus pasar akan tertuju pada pernyataan pendamping (rate statement) untuk melihat apakah siklus pengetatan ini akan berlanjut atau mulai mendekati puncak.
Dampak:
AUD berpotensi menguat tajam (Bullish) jika kenaikan suku bunga disertai dengan narasi yang tetap ketat (hawkish) untuk rilis data mendatang. Sebaliknya, jika RBA menaikkan bunga namun memberikan sinyal jeda (pause), penguatan AUD mungkin akan terbatas.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
