Wall Street Terguncang: Penutupan Hormuz Picu Lonjakan Minyak dan Aksi Jual Besar

  • Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan risiko inflasi.

  • Pasar saham AS jatuh tajam karena investor menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik.

Pasar saham Amerika Serikat jatuh tajam pada Kamis setelah harga minyak melonjak akibat keputusan Iran mempertahankan penutupan jalur energi strategis dunia. Indeks S&P 500 turun 1,5% ke 6.672,77, sementara Nasdaq Composite merosot 1,8% dan Dow Jones Industrial Average melemah 1,6%. Penurunan ini memperdalam kinerja negatif indeks utama sepanjang tahun, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah.

Sentimen pasar memburuk setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Strait of Hormuz akan tetap ditutup. Jalur sempit ini merupakan titik vital perdagangan energi global yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Serangan terhadap kapal dagang di kawasan tersebut serta penghentian pelayaran oleh perusahaan logistik memperparah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Badan energi dunia International Energy Agency memperingatkan bahwa konflik ini telah menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 10% hingga sekitar $101 per barel, memicu kekhawatiran inflasi baru dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan bank sentral seperti Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga, sehingga menambah tekanan pada pasar saham.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk pasar saham AS: Lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memperburuk risiko inflasi serta kebijakan suku bunga tinggi, sehingga menekan pasar saham dan mendorong investor beralih ke aset perlindungan nilai.

Selat Hormuz Ditutup, Minyak Meledak: Emas Tersungkur di Tengah Dolar Perkasa

  • Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

  • Penguatan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga menekan harga emas.

Harga emas melemah tajam pada Kamis setelah kekhawatiran inflasi global meningkat akibat lonjakan harga minyak di tengah konflik Iran yang belum mereda. Emas spot (XAU/USD) turun sekitar 1,5% ke $5.099 per ons, sementara kontrak berjangka emas melemah 1,4% ke sekitar $5.105. Tekanan pada emas muncul saat pasar menghadapi ketidakpastian geopolitik sekaligus penguatan dolar AS yang lebih menarik bagi investor.

Lonjakan harga minyak dipicu pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menegaskan bahwa jalur energi strategis Strait of Hormuz akan tetap ditutup. Jalur sempit tersebut mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga penutupannya memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Harga minyak Brent bahkan mendekati $100 per barel, memicu kekhawatiran lonjakan inflasi di berbagai negara.

Di sisi lain, penguatan dolar AS dan kenaikan ekspektasi suku bunga menambah tekanan pada emas. Investor mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve jika inflasi kembali meningkat akibat lonjakan energi. Indeks dolar naik sekitar 0,3%, sementara pasar menanti data inflasi berbasis konsumsi atau PCE—indikator inflasi favorit bank sentral AS—yang dapat memberikan arah baru bagi kebijakan moneter.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen negatif: Lonjakan harga energi memperkuat dolar dan meningkatkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi dalam jangka pendek.

 
 

Pasar Energi di Ambang Krisis: Peringatan “Bencana Alkitabiah” Saat Perang Iran Picu Lonjakan Minyak

  • CEO CME memperingatkan intervensi pemerintah di pasar minyak dapat merusak kepercayaan pasar dan memicu krisis besar.

  • Penutupan Selat Hormuz dan serangan kapal tanker memperparah gangguan pasokan minyak global.

Kepala eksekutif CME Group, Terry Duffy, memperingatkan pemerintah AS agar tidak melakukan intervensi pada pasar derivatif minyak untuk menekan harga selama perang dengan Iran. Ia menilai campur tangan pemerintah dalam penentuan harga komoditas dapat merusak kepercayaan investor terhadap mekanisme pasar. Menurutnya, jika pasar kehilangan kepercayaan pada sistem penetapan harga energi global, dampaknya bisa memicu “bencana besar” bagi stabilitas pasar keuangan.

Peringatan tersebut muncul di tengah lonjakan harga minyak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa jalur energi strategis dunia, Strait of Hormuz, akan tetap ditutup. Jalur sempit ini menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas global. Penutupan tersebut memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar minyak menurut International Energy Agency, dengan harga minyak Brent sempat menembus $100 per barel.

Situasi semakin memburuk setelah beberapa kapal tanker minyak diserang di sekitar Irak, Kuwait, dan dekat Dubai, yang memicu penutupan terminal minyak di beberapa negara kawasan. Di sisi lain, pemerintah AS melalui Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan kemungkinan pembentukan koalisi internasional untuk mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Namun pasar tetap diliputi ketidakpastian karena konflik berkepanjangan berpotensi memperparah gangguan pasokan energi global.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Lonjakan harga energi, gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, serta ketidakpastian geopolitik meningkatkan risiko inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • GDP (MoM) – GBP

Pertumbuhan ekonomi Inggris diprediksi naik tipis ke 0.2%. Rebound moderat ini memberikan sinyal bahwa ekonomi Inggris mulai keluar dari fase stagnasi awal tahun.

Dampak:
GBP berpotensi menguat (Bullish) jika data aktual mendukung pemulihan aktivitas ekonomi.

  • Core PCE Price Index (Jan) – USD

Indikator inflasi favorit The Fed diprediksi naik secara tahunan (YoY) ke 3.1%. Jika inflasi inti tetap membandel di atas target, ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin tertutup.

Dampak:
USD berpotensi menguat tajam (Bullish) jika angka YoY melampaui forecast, karena memperkuat narasi kebijakan moneter ketat.

  • JOLTS Job Openings – USD

Pembukaan lapangan kerja diprediksi naik ke 6.760M. Penambahan lowongan kerja menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih sangat ketat dan resilien.

Dampak:
USD Bullish, karena permintaan tenaga kerja yang tinggi dapat memicu kenaikan upah dan inflasi lanjutan.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: