Dolar Kehilangan Tenaga Saat Harapan Akhir Perang Iran Muncul

  • Dolar AS melemah setelah muncul harapan konflik Iran dapat segera berakhir.

  • Ancaman gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz masih menjadi risiko utama bagi pasar global.

Reli penguatan dolar AS berhenti pada Selasa setelah investor mulai mempertimbangkan kemungkinan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. US Dollar Index turun sekitar 0,3% ke level 98,91 setelah sebelumnya menguat tajam akibat kekhawatiran gangguan energi global. Pernyataan Donald Trump yang memperkirakan perang Iran bisa berakhir dalam waktu dekat memicu pelemahan dolar karena pasar mulai mengurangi posisi safe haven.

Meski demikian, situasi geopolitik masih jauh dari stabil. Serangan udara besar yang dilancarkan AS terhadap Iran pada hari yang sama menunjukkan konflik belum mereda sepenuhnya. Risiko terbesar tetap berada di jalur energi strategis Strait of Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, di mana Iran mengancam akan menghentikan pengiriman minyak jika serangan militer terus berlanjut.

Analis menilai pelemahan dolar saat ini masih bersifat sementara karena ketidakpastian pasokan energi global tetap tinggi. Selama aliran minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal, pasar akan terus dibayangi risiko inflasi energi dan volatilitas pasar keuangan global.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Dolar AS melemah karena turunnya harga minyak mengurangi tekanan inflasi energi, sehingga pasar kembali membuka peluang pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve. Selain itu, meredanya kekhawatiran konflik di Strait of Hormuz juga mengurangi permintaan safe haven terhadap dolar.

Emas Menguat Saat Minyak Ambruk: Harapan Redanya Perang Iran Mengubah Arah Pasar

  • Harga emas naik karena penurunan tajam harga minyak melemahkan dolar AS.

  • Pasar menunggu data inflasi AS yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Harga emas naik sekitar 0,50% ke level $5.187 per ons pada Selasa setelah harga minyak dunia jatuh tajam hampir 14%. Penurunan minyak terjadi karena pasar mulai berspekulasi konflik Iran dapat mereda setelah pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan operasi militer AS di Iran berpotensi segera berakhir. Pelemahan minyak turut menekan dolar AS sehingga memberi ruang bagi emas untuk menguat.

Di pasar mata uang, US Dollar Index (DXY) stabil di sekitar 98,86 meskipun sempat tertekan oleh penurunan harga energi. Sementara itu, pasar keuangan memperkirakan sekitar 40 basis poin pelonggaran kebijakan dari Federal Reserve hingga akhir tahun. Ekspektasi suku bunga yang lebih longgar serta pelemahan dolar menjadi faktor yang mendukung kenaikan emas.

Pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi AS melalui Consumer Price Index (CPI) yang diperkirakan berada di sekitar 2,4% secara tahunan dengan inflasi inti sekitar 2,5%. Data tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed dan berpotensi memicu volatilitas baru pada harga emas dan dolar dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif: Pelemahan dolar AS akibat turunnya harga minyak serta ekspektasi pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Minyak Anjlok 11%, Harapan Akhir Perang Iran Mengguncang Pasar Energi Dunia

  • Harapan berakhirnya perang Iran dan pengawalan kapal tanker oleh militer AS membuka kemungkinan jalur energi global kembali stabil.

  • Harga minyak jatuh tajam lebih dari 11% setelah sebelumnya melonjak ke level tertinggi empat tahun akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Harga minyak dunia jatuh tajam lebih dari 11% pada Selasa setelah pernyataan Donald Trump yang memperkirakan perang melawan Iran dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan. Penurunan ini terjadi sehari setelah harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi empat tahun akibat kekhawatiran gangguan pasokan global dari kawasan Timur Tengah. Minyak Brent ditutup di sekitar $87,80 per barel sementara WTI turun ke $83,45 per barel, mencatat penurunan harian terbesar sejak 2022.

Tekanan pada harga minyak juga muncul setelah militer Amerika Serikat berhasil mengawal kapal tanker melewati Strait of Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Langkah tersebut memicu optimisme bahwa aliran energi global masih dapat dipertahankan meskipun konflik militer masih berlangsung. Selain itu, pembicaraan antara Trump dan Vladimir Putin mengenai kemungkinan penyelesaian konflik turut menambah harapan pasar akan de-eskalasi.

Meski pasar merespons dengan penurunan tajam harga minyak, situasi geopolitik masih jauh dari stabil. Serangan udara antara Israel dan Iran terus berlanjut, sementara fasilitas energi di kawasan Teluk mengalami gangguan akibat konflik dan serangan drone. Para analis memperingatkan bahwa bahkan jika perang berakhir, pemulihan rantai pasokan energi global dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga produksi kembali normal.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Harga minyak melemah karena pasar melihat peluang meredanya konflik Iran sehingga risiko gangguan pasokan di Strait of Hormuz berkurang. Harapan stabilitas suplai energi global menekan premi risiko yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • German CPI (MoM) (Feb) – EUR

Inflasi Jerman diperkirakan naik tipis menjadi 0.2%. Peningkatan ini menunjukkan tekanan harga konsumen di ekonomi terbesar Eropa tersebut masih merayap naik, yang dapat mendukung kebijakan moneter ketat dari ECB.

Dampak:
EUR berpotensi menguat (Bullish) jika angka aktual sesuai atau lebih tinggi dari forecast.

  • US Consumer Price Index (CPI) – USD

Data inflasi konsumen AS diperkirakan meningkat menjadi 0.3% secara bulanan (MoM), sementara angka tahunan (YoY) diprediksi tetap stabil di 2.4%. Fokus pasar tertuju pada apakah inflasi menunjukkan tanda-tanda mendingin secara konsisten atau justru kembali memanas.

Dampak:
USD cenderung Bullish jika angka MoM sesuai ekspektasi atau lebih tinggi, karena memperkuat narasi inflasi yang membandel dan sikap hawkish The Fed.

  • Core CPI (MoM) (Feb) – USD

Indeks harga inti, yang mengecualikan sektor makanan dan energi, diperkirakan melambat ke 0.2%. Perlambatan ini sering dianggap sebagai indikator bahwa inflasi struktural mulai mereda.

Dampak:
USD berpotensi melemah (Bearish) jika data ini rilis lebih rendah dari perkiraan, karena mengurangi urgensi pengetatan moneter lebih lanjut.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: