Dolar Menguat di Tengah Perang Timur Tengah: Investor Berbondong Cari Safe Haven
Eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan permintaan aset safe haven sehingga indeks dolar kembali menguat mendekati level tertinggi tiga bulan.
Kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi membuat pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Dolar AS kembali menguat pada Kamis setelah sempat melemah dari level tertinggi tiga bulan, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran. Konflik yang telah memasuki hari keenam memicu ketidakpastian global setelah Iran mengancam akan membalas serangan AS yang menenggelamkan kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Kondisi ini mendorong investor mencari aset safe haven, sehingga dolar kembali menguat terhadap mata uang utama dunia.
Indeks dolar AS naik sekitar 0,5% ke level 99,26, menekan mata uang utama seperti euro dan poundsterling yang masing-masing turun 0,4% dan 0,3%. Ketegangan geopolitik serta lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan pasar tenaga kerja tetap stabil dengan klaim pengangguran mingguan berada di 213 ribu, lebih baik dari perkiraan pasar. Pelaku pasar kini menantikan laporan Nonfarm Payrolls untuk mendapatkan sinyal lebih jelas terkait arah kebijakan moneter The Fed, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini telah dipangkas menjadi sekitar 40 basis poin.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif untuk Dollar AS: Penguatan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga meningkatkan penguatan terhadap Dollar AS meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Dolar Menguat, Yield Naik: Harga Emas Tersungkur Meski Perang Timur Tengah Memanas
Kenaikan indeks dolar dan imbal hasil obligasi AS menekan harga emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil.
Pasar tenaga kerja yang solid mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sehingga memperkuat sentimen hawkish terhadap kebijakan moneter.
Harga emas turun sekitar 1,35% dan menyentuh level terendah dua hari di sekitar $5.069 setelah penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi AS menekan pasar logam mulia. Indeks dolar AS naik di atas 99,20, sementara yield Treasury tetap tinggi sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.
Data ekonomi AS yang kuat turut memperkuat tekanan terhadap emas. Klaim pengangguran mingguan tercatat stabil di 213 ribu, lebih baik dari perkiraan pasar, sementara laporan pemutusan hubungan kerja turun tajam menjadi 48,3 ribu. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih solid dan mendukung pandangan bahwa ekonomi AS tetap kuat.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih meningkat dengan konflik yang telah memasuki hari keenam serta ancaman serangan lanjutan antara AS, Israel, dan Iran. Namun pasar lebih fokus pada ekspektasi kebijakan moneter, di mana taruhan pemangkasan suku bunga Federal Reserve menyusut menjadi sekitar 35 basis poin menjelang rilis data Nonfarm Payrolls.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Kombinasi dolar AS yang menguat, yield Treasury yang tinggi, serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed lebih dominan mempengaruhi pasar dibandingkan faktor geopolitik, sehingga menekan harga emas dalam jangka pendek.
Harga Minyak Meledak, Selat Hormuz Terancam Lumpuh dan Dunia Dibayangi Krisis Energi
Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia terancam lumpuh akibat konflik, memicu lonjakan harga minyak global.
Pemangkasan produksi minyak Irak, gangguan LNG Qatar, serta serangan terhadap kapal tanker memperketat pasokan energi dunia.
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meluas dan mengancam jalur energi global. Harga minyak Brent naik hampir 5% ke sekitar $85 per barel, sementara WTI melonjak lebih dari 8% ke $81, level tertinggi sejak pertengahan 2024. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi karena jalur strategis Selat Hormuz—yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia—terancam terhenti akibat perang dan serangan terhadap kapal tanker.
Ketegangan militer terus meningkat setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran serta balasan serangan rudal dari Teheran. Beberapa kapal tanker dilaporkan diserang di wilayah Teluk, sementara ratusan kapal minyak terjebak di sekitar Selat Hormuz karena aktivitas pelayaran hampir berhenti. Pada saat yang sama, beberapa negara produsen energi di Timur Tengah mulai memangkas produksi, termasuk Irak yang telah mengurangi output sekitar 1,5 juta barel per hari.
Gangguan pasokan juga meluas ke sektor gas alam setelah Qatar menyatakan force majeure pada ekspor LNG. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, analis memperkirakan pasokan minyak global dapat berkurang hingga 3,3 juta barel per hari dalam waktu singkat. Pemerintah AS bahkan mempertimbangkan langkah luar biasa melalui pasar finansial untuk menekan harga energi yang melonjak dan membatasi dampak ekonomi global dari krisis energi ini.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Lonjakan harga energi, risiko perang regional yang meluas, serta ancaman gangguan pasokan minyak global meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan inflasi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Nonfarm Payrolls (NFP) & Unemployment Rate – USD
NFP diperkirakan turun drastis ke angka 58K dari sebelumnya 130K, sementara tingkat pengangguran diprediksi stabil di 4.3%. Penurunan tajam pada penyerapan tenaga kerja ini mengindikasikan pendinginan ekonomi yang signifikan di sektor riil.
Dampak:
USD berpotensi melemah tajam (Bearish) jika angka aktual sesuai atau lebih rendah dari forecast, karena akan memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
- Average Hourly Earnings (MoM) – USD
Pertumbuhan upah rata-rata per jam diprediksi melambat ke 0.3%. Penurunan ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi dari sisi upah mulai mereda.
Dampak:
USD cenderung melemah, karena melambatnya pertumbuhan upah mengurangi ekspektasi inflasi berkelanjutan.
- Retail Sales (MoM) – USD
Penjualan ritel diperkirakan masuk ke zona kontraksi di -0.3%. Hal ini menunjukkan daya beli konsumen yang mulai tertekan, yang merupakan komponen utama penggerak ekonomi AS.
Dampak:
USD berpotensi melemah (Bearish), karena data ini mengonfirmasi perlambatan konsumsi domestik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
