Wall Street Terseret Nvidia, Pasar Beralih Arah di Tengah Ketegangan Geopolitik

  • Koreksi tajam Nvidia memicu tekanan luas pada sektor semikonduktor meskipun kinerja fundamental tetap kuat.

  • Ketegangan geopolitik AS–Iran menjaga harga minyak tetap tinggi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global.

Wall Street ditutup melemah pada Kamis setelah saham Nvidia terkoreksi tajam meskipun membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi. Indeks S&P 500 turun 0,4% ke 6.909,01, sementara NASDAQ Composite anjlok 1,2% ke 22.878,38. Dow Jones Industrial Average relatif stagnan di 49.499,51. Pelemahan ini terjadi setelah sesi sebelumnya pasar menguat berkat optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI), mencerminkan volatilitas tinggi pada sektor teknologi.

Nvidia melaporkan pendapatan dan laba kuartalan di atas perkiraan serta proyeksi pendapatan yang lebih kuat untuk kuartal berjalan, didorong lonjakan permintaan chip AI. Namun, kekhawatiran investor muncul terkait rendahnya pengembalian kepada pemegang saham meski perusahaan menghasilkan arus kas besar. Saham Nvidia ditutup turun 5,5% dan menyeret saham chip lain seperti Broadcom dan ASML. Di sisi lain, rotasi sektor mendorong saham perangkat lunak seperti Atlassian dan Workday menguat signifikan, sementara Salesforce naik 4% meski prospek pendapatannya di bawah estimasi pasar.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran mengakhiri putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa dengan laporan adanya “kemajuan signifikan,” meskipun Presiden Donald Trump memperingatkan potensi konsekuensi serius bila tak ada perkembangan berarti. Ketegangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global, terutama karena Iran merupakan salah satu produsen utama OPEC. Harga minyak pun bertahan di dekat level tertinggi tujuh bulan, dengan Brent naik 0,6% ke US$71,11 per barel dan WTI menguat 0,2% ke US$65,53 per barel.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Walaupun fundamental Nvidia dan prospek AI masih kuat, ekspektasi pasar yang terlalu tinggi memicu aksi ambil untung dan rotasi sektor. Ditambah ketidakpastian geopolitik, sentimen jangka pendek pasar saham condong ke arah negatif.

 

Emas Kokoh di Tengah Kebuntuan AS–Iran dan Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

  • Kebuntuan negosiasi nuklir AS–Iran dan peningkatan tekanan militer menopang permintaan safe haven terhadap emas.

  • Pasar masih mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed lebih dari 50 bps tahun ini, meskipun data tenaga kerja AS tetap kuat.

Harga emas bertahan menguat pada perdagangan Kamis sesi Amerika Utara, ditopang meningkatnya ketegangan geopolitik setelah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase krusial di Jenewa. Washington dilaporkan menuntut Teheran menghancurkan fasilitas nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan serta menyerahkan sisa uranium yang telah diperkaya. Di tengah situasi tersebut, XAU/USD diperdagangkan di level US$5.179 atau naik 0,30%. Penguatan emas terjadi meskipun data ketenagakerjaan AS menunjukkan klaim pengangguran awal hanya naik ke 212 ribu, lebih rendah dari perkiraan 215 ribu, menandakan pasar tenaga kerja tetap solid.

Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih dari 50 basis poin oleh Federal Reserve tahun ini, meskipun ekspektasi pemotongan pertama mundur dari Juni ke Juli. Penguatan US Dollar Index ke level 97,97 sempat membatasi kenaikan emas. Namun, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke sekitar 4,02% memberikan bantalan bagi logam mulia, mengingat korelasi terbalik antara yield dan harga emas.

Selain isu Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS turut membayangi sentimen pasar setelah muncul wacana kenaikan tarif hingga 15% atau lebih bagi sejumlah negara. Investor kini menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang diproyeksikan melambat secara bulanan dan tahunan. Prospek inflasi yang lebih jinak dapat memperkuat peluang pelonggaran moneter, sekaligus menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah dinamika global yang belum stabil.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen positif: Ketegangan geopolitik dan ekspektasi pelonggaran moneter menjadi faktor utama yang menopang harga emas, meskipun penguatan dolar AS membatasi kenaikan lebih lanjut.

Minyak Menguat di Tengah Progres Negosiasi Nuklir AS–Iran dan Lonjakan Stok AS

  • Negosiasi nuklir AS–Iran menunjukkan progres, namun premi risiko geopolitik masih menopang harga minyak.

  • Lonjakan tajam stok minyak mentah AS sebesar 16 juta barel menjadi tekanan fundamental bagi harga.

Harga minyak dunia ditutup menguat dalam perdagangan yang fluktuatif pada Kamis, menyusul berakhirnya putaran terbaru perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa. Kontrak Brent Oil naik 0,6% ke US$71,14 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 0,2% ke US$65,60 per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya telah menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli, mencerminkan premi risiko geopolitik yang masih melekat di pasar energi global.

Perundingan yang dimediasi Oman disebut menghasilkan “kemajuan signifikan,” meskipun Amerika Serikat dilaporkan mengajukan tuntutan ketat, termasuk penghancuran fasilitas nuklir utama Iran dan pengalihan uranium yang telah diperkaya. Presiden Donald Trump memperingatkan konsekuensi serius jika tidak tercapai kesepakatan berarti. Iran, sebagai salah satu produsen utama dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries, memiliki peran penting dalam pasokan global, terutama karena jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz berpotensi terdampak jika konflik meningkat. Analis menilai pasar saat ini masih memasukkan premi risiko sekitar US$10 per barel yang dapat terurai apabila tercapai solusi diplomatik.

Di sisi fundamental, data mingguan dari Energy Information Administration menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah AS sebesar 16 juta barel—kenaikan terbesar dalam hampir tiga tahun dan jauh melampaui ekspektasi pasar. Meski stok bensin turun sekitar 1 juta barel, kenaikan tajam stok minyak mentah serta penurunan tingkat operasional kilang memberikan tekanan dari sisi suplai. Kombinasi faktor geopolitik dan data inventori membuat pergerakan harga tetap volatil dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Ketegangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan menopang harga, namun lonjakan stok minyak AS membatasi penguatan lebih lanjut sehingga sentimen pasar masih berhati-hati.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • German CPI (MoM) (Feb) – EUR

Diperkirakan naik ke 0.5% dari sebelumnya 0.1%, mengindikasikan tekanan harga kembali meningkat di ekonomi terbesar Zona Euro. Kenaikan ini dapat mengindikasikan peluang ECB mempertahankan kebijakan yang relatif ketat lebih lama guna mengendalikan inflasi.

Dampak:
EUR berpotensi menguat jika realisasi sesuai/di atas forecast, karena pasar dapat meningkatkan ekspektasi kebijakan hawkish ECB.

  • PPI (MoM) (Jan) – USD

Diperkirakan turun ke 0.3% dari 0.5%, mengindikasikan tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda. Hal ini dapat mengindikasikan perlambatan tekanan inflasi lanjutan ke CPI dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak:
USD berpotensi melemah ringan jika data lebih rendah dari perkiraan, karena mendukung ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.

  • Chicago PMI (Feb) – USD

Chicago PMI diperkirakan turun ke 52.2 dari 54.0, namun masih berada di atas level 50 yang mengindikasikan ekspansi. Penurunan ini mengindikasikan perlambatan aktivitas manufaktur, meski belum memasuki fase kontraksi.

Dampak:
USD berpotensi sedikit tertekan jika pelemahan lebih dalam, namun dampaknya relatif terbatas selama indeks tetap di atas 50.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: