Dolar AS Menguat Jelang Data Penting, Pound Tertekan dan Pasar Global Bersiap Hadapi Arah Kebijakan Bank Sentral

  • Dolar AS menguat menjelang rilis risalah The Fed dan data ekonomi utama yang berpotensi menggerakkan pasar.

  • Pound Inggris dan dolar Kanada melemah akibat perlambatan ekonomi dan penurunan inflasi, memperkuat ekspektasi kebijakan moneter longgar.

Nilai dolar AS menguat pada Selasa seiring kembalinya aktivitas pasar setelah libur panjang di Amerika Serikat. Indeks dolar naik 0,3% ke level 97,24, memperpanjang penguatan dari sesi sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh minat investor yang kembali meningkat menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk risalah pertemuan The Fed. Analis menilai dolar masih berada dalam kondisi undervalued secara jangka pendek, sehingga wajar mendapatkan dukungan di tengah perdagangan yang relatif tenang.

Fokus pasar tertuju pada risalah pertemuan Federal Reserve bulan Januari yang akan dirilis, diikuti data tenaga kerja ADP, indeks manufaktur Empire State, serta indeks inflasi PCE—indikator inflasi favorit The Fed. Rangkaian data ini akan memberikan gambaran lanjutan mengenai arah suku bunga AS setelah The Fed mempertahankan kebijakan moneternya dan memperingatkan bahwa risiko inflasi dan pasar tenaga kerja masih ada.

Di pasar global, pound sterling melemah setelah data menunjukkan tingkat pengangguran Inggris naik ke level tertinggi sejak 2021, memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Bank of England. Sementara itu, dolar Kanada tertekan tipis setelah inflasi melambat, meski prospek jangka panjang dinilai masih stabil. Di Asia, yen Jepang sedikit pulih meski data PDB yang lemah meningkatkan spekulasi stimulus tambahan dari pemerintah.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat, seperti pasar tenaga kerja yang solid dan inflasi yang masih cukup tinggi

Emas Tertekan Tajam, Dolar Menguat di Tengah Harapan Damai AS–Iran

  • Data NFP yang sangat kuat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama.

  • Meredanya risiko geopolitik global mengurangi permintaan emas sebagai aset safe haven.

Harga emas dunia (XAU/USD) anjlok lebih dari 3% pada Selasa setelah dolar AS menguat menyusul kabar kemajuan dalam pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Mengutip pejabat senior Gedung Putih melalui Axios, negosiasi tersebut menunjukkan tanda-tanda positif, yang meredakan ketegangan geopolitik dan mengurangi permintaan aset safe haven. Emas sempat menyentuh level tertinggi harian di $5.000 sebelum merosot ke sekitar $4.869.

Tekanan terhadap emas semakin besar karena penguatan dolar AS dan stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Indeks Dolar (DXY) naik ke 97,25, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,05%. Data ekonomi AS yang solid, termasuk laporan Nonfarm Payrolls dan peningkatan aktivitas manufaktur di wilayah New York, mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Ekspektasi pelonggaran suku bunga kini turun dari 62 bps menjadi 57 bps.

Dari sisi geopolitik, AS dan Iran sepakat atas prinsip dasar dalam putaran kedua perundingan nuklir di Jenewa, sementara pembicaraan damai AS–Rusia–Ukraina dijadwalkan ulang. Pejabat The Fed, termasuk Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee, menyatakan bahwa penurunan inflasi sebagian dipengaruhi efek basis, namun pelonggaran tetap mungkin jika tekanan harga terus mereda. Ke depan, pasar akan mencermati data perumahan AS, GDP kuartal IV 2025, serta rilis inflasi inti PCE.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk emas: Karena kombinasi penguatan dolar, data ekonomi AS yang kuat, dan meredanya ketegangan geopolitik.

Harga Minyak Melemah di Tengah Diplomasi Global dan Potensi Lonjakan Pasokan

  • Kemajuan diplomasi AS–Iran dan Rusia–Ukraina meredakan premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.

  • Potensi kenaikan pasokan, termasuk ekspor Saudi ke China dan proyek energi baru di AS, menambah tekanan terhadap harga.

Harga minyak dunia turun pada Selasa seiring perhatian pasar tertuju pada perkembangan diplomasi di dua titik geopolitik utama, yakni hubungan Amerika Serikat–Iran dan konflik Rusia–Ukraina. Kontrak berjangka Brent untuk April turun 1,8% ke level USD 67,39 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,8% ke USD 62,22 per barel. Pergerakan WTI turut dipengaruhi libur nasional di AS dan masih tutupnya sejumlah bursa Asia, termasuk China.

Di Jenewa, pertemuan antara pejabat AS dan Iran menunjukkan kemajuan setelah kedua pihak menyepakati prinsip dasar untuk melanjutkan perundingan nuklir. Bloomberg melaporkan bahwa kesepakatan awal tersebut membuka jalan bagi penyusunan rancangan perjanjian baru. Pada saat yang sama, pembicaraan yang dimediasi AS antara Rusia dan Ukraina juga kembali berlangsung. Meskipun pasar masih memasang premi risiko terhadap pasokan minyak akibat potensi gangguan geopolitik, optimisme atas jalur diplomasi justru menekan harga karena meredakan kekhawatiran eskalasi konflik.

Dari sisi fundamental, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana investasi besar Jepang di AS senilai USD 550 miliar, termasuk proyek energi di Texas dan Ohio. Sementara itu, analis ING menyebut ekspor minyak Saudi ke China berpotensi meningkat bulan depan setelah pemangkasan harga, dengan volume diperkirakan mencapai 56–57 juta barel, naik dari 48 juta barel sebelumnya. Kombinasi potensi kenaikan pasokan dan meredanya ketegangan geopolitik membuat ruang kenaikan harga minyak menjadi terbatas dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk OIL: Karena optimisme diplomasi dan prospek pasokan yang meningkat mengurangi kekhawatiran gangguan suplai global.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi NZD, GBP dan USD:

  • RBNZ Interest Rate Decision (NZD)

Suku bunga yang diperkirakan tetap di 2.25% mengindikasikan bahwa RBNZ masih menahan kebijakan moneter di level ketat namun tidak agresif. Hal ini menunjukkan bank sentral memilih menunggu perkembangan inflasi dan pertumbuhan sebelum mengambil langkah lanjutan.

Dampak:
➡️ NZD berpotensi bergerak sideways, karena tidak ada perubahan kebijakan.

  • CPI (YoY) UK (GBP)

Inflasi yang diperkirakan turun ke 3.0% dari 3.4% mengindikasikan tekanan harga mulai mereda. Hal ini menunjukkan ruang bagi BoE untuk melunak dalam kebijakan moneternya.

Dampak:
➡️ GBP berpotensi melemah, karena ekspektasi suku bunga lebih rendah.

  • Durable Goods Orders (USD)

Angka yang diperkirakan turun -1.7% mengindikasikan perlambatan permintaan sektor manufaktur AS. Hal ini menunjukkan aktivitas ekonomi mulai melambat.


Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah, karena sinyal perlambatan ekonomi.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: