Dolar Tertahan, Pound Tertekan, Yen Menguat: Pasar Global Menanti Arah Suku Bunga The Fed

  • Pasar menunggu data NFP dan CPI AS untuk memastikan apakah The Fed akan lebih dovish, di tengah lemahnya data ekonomi dan turunnya yield obligasi.

  • Ketidakstabilan politik Inggris melemahkan pound, sementara yen menguat berkat dukungan kebijakan domestik dan potensi intervensi pemerintah Jepang.

Dolar AS bergerak datar namun bertahan di dekat level terendah satu pekan pada Selasa, di tengah penantian pasar terhadap rangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat. Indeks Dolar tercatat stabil di 96,82, sementara investor bersikap hati-hati menjelang rilis Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi AS (CPI) yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Ketidakpastian juga meningkat setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell, yang memicu spekulasi perubahan sikap bank sentral.

Di Eropa, pound sterling melemah akibat tekanan politik terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, seiring meningkatnya spekulasi perubahan kepemimpinan dan pelonggaran kebijakan fiskal. EUR/USD juga terkoreksi tipis setelah lonjakan tajam sehari sebelumnya. Di sisi lain, yen Jepang menguat signifikan, didukung oleh peringatan pemerintah Jepang terkait potensi intervensi valuta asing dan hasil pemilu yang memberi kekuatan politik bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mendorong reformasi fiskal.

Dari sisi makro, data penjualan ritel AS yang stagnan dan imbal hasil obligasi pemerintah yang turun memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini. Yield obligasi AS tenor 10 tahun turun ke 4,138%, sementara tenor 2 tahun merosot ke 3,452%. Pasar kini menilai bahwa pelemahan data ekonomi justru meningkatkan peluang pelonggaran moneter, yang menjadi katalis bagi pergerakan aset berisiko sekaligus menekan dolar dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Karena pelemahan data ekonomi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed terus menekan mata uang tersebut.

 
 

Emas Tergelincir di Tengah Data AS yang Melemah, Pasar Menanti Sinyal Tenaga Kerja

  • Penguatan dolar AS dan aksi profit-taking menekan emas, meskipun data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan signifikan.

  • Nada hawkish The Fed dan divergensi kebijakan bank sentral global memperkuat dolar dan mengurangi daya tarik emas.

Harga emas melemah pada perdagangan Selasa meski data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan, dengan XAU/USD turun 0,72% ke kisaran USD 5.022. Pelemahan ini terjadi karena pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi terhadap dolar AS, meskipun penjualan ritel yang mengecewakan dan biaya tenaga kerja yang melunak memperkuat sinyal perlambatan ekonomi. Data penjualan ritel AS stagnan, sementara kelompok kontrol yang menjadi acuan PDB justru terkontraksi, mencerminkan melemahnya konsumsi rumah tangga.

Indeks Biaya Tenaga Kerja (Employment Cost Index/ECI) juga melambat pada kuartal IV 2025, mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih agresif pada 2026, dengan pasar kini memproyeksikan pelonggaran hingga 58,5 basis poin. Namun, fokus jangka pendek tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls Februari yang akan datang, yang diperkirakan menunjukkan penambahan 70 ribu tenaga kerja dengan tingkat pengangguran tetap di 4,4%.

Meski dolar relatif stabil dan membatasi kenaikan emas, imbal hasil obligasi AS justru turun tajam, dengan yield US Treasury 10 tahun merosot ke 4,149%. Dalam jangka menengah, prospek emas tetap ditopang oleh tren “debasement trade” dan pembelian fisik oleh bank sentral, khususnya People’s Bank of China yang menambah cadangan emas untuk bulan ke-15 berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa minat struktural terhadap emas masih kuat meski pergerakan harian cenderung fluktuatif.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Positif: Walaupun data AS melemah, pelaku pasar justru menutup posisi jual dolar (short covering). Investor tidak berani agresif beli emas sebelum tahu apakah data tenaga kerja & inflasi benar-benar melemah.

Minyak Tertahan di Tengah Diplomasi Global dan Bayang-Bayang Perlambatan Ekonomi AS

  • Pasar minyak tertahan karena belum ada gangguan pasokan nyata meski ketegangan geopolitik tinggi, terutama di kawasan Selat Hormuz.

  • Kekhawatiran perlambatan ekonomi AS dan potensi kenaikan stok minyak menekan prospek permintaan energi.

Harga minyak dunia bergerak relatif datar pada Selasa karena pelaku pasar menahan diri sambil menunggu arah yang lebih jelas dari perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina, serta rilis data ekonomi AS dan persediaan minyak. Brent turun 0,3% ke USD 68,80 per barel, sementara WTI melemah 0,6% ke USD 63,96 per barel. Analis menilai pasar masih enggan mengambil posisi besar hingga ada bukti nyata gangguan pasokan global, bukan sekadar ancaman geopolitik.

Perhatian utama tertuju pada ketegangan di Timur Tengah, khususnya jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Iran menyatakan bahwa pembicaraan nuklir dengan AS masih berlanjut, sementara Washington sebelumnya meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Namun, pasar mulai menilai bahwa tanpa eskalasi nyata yang mengganggu aliran minyak, harga justru berpotensi melemah. Di sisi lain, Eropa menekan Rusia melalui rencana konsesi politik, India mulai mengurangi pembelian minyak Rusia, dan Venezuela diperkirakan meningkatkan produksi kembali setelah pelonggaran lisensi AS.

Dari sisi makro, data penjualan ritel AS yang stagnan memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan melemahkan prospek permintaan energi. Investor kini menanti laporan tenaga kerja dan inflasi AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed, yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan konsumsi energi. Sementara itu, pasar juga menunggu data persediaan minyak mingguan AS, dengan perkiraan kenaikan stok tipis, yang menambah tekanan pada harga dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Karena risiko geopolitik belum berdampak langsung pada pasokan, sementara faktor ekonomi dan potensi kenaikan stok memberi tekanan ke bawah.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Average Hourly Earnings (MoM) (Jan)

Kenaikan yang diperkirakan tetap di 0.3% mengindikasikan tekanan upah masih stabil dan belum menunjukkan tanda penurunan signifikan. Ini berarti risiko inflasi dari sisi tenaga kerja masih terjaga, memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ USD berpotensi menguat ringan, karena inflasi upah belum mereda.

  • Nonfarm Payrolls (Jan)

Lonjakan ke 66K dari 50K mengindikasikan pasar tenaga kerja AS tetap solid meskipun laju ekonomi melambat. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS belum cukup lemah untuk mendorong pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ USD berpotensi menguat (Bullish)

  • Unemployment Rate (Jan)

Tingkat pengangguran yang diperkirakan tetap di 4.4% mengindikasikan stabilitas pasar tenaga kerja. Tidak ada sinyal pelemahan signifikan yang dapat mengubah arah kebijakan moneter.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ USD cenderung netral

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: