Dolar Tertekan Jelang Badai Data, Yen Menguat Usai Kemenangan Takaichi

  • Dolar tertekan menjelang rilis data ekonomi utama AS dan meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed.

  • Yen menguat setelah kemenangan politik di Jepang memicu ekspektasi intervensi dan kebijakan fiskal ekspansif.

Dolar AS melemah pada Senin setelah mencatat kenaikan solid pekan lalu, seiring investor menantikan rangkaian data ekonomi penting. Indeks dolar turun 0,8% ke level 96,81, meski sebelumnya menguat hampir 1% dipicu nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed. Tekanan juga datang dari laporan bahwa regulator China menyarankan lembaga keuangan membatasi eksposur pada obligasi AS, sementara euro dan dolar Australia menguat, dan yen menguat tajam.

Pasar kini fokus pada rilis data ritel, inflasi, dan laporan tenaga kerja AS yang tertunda. Analis menilai pelemahan data tenaga kerja pekan lalu dapat mendorong The Fed meninjau ulang pandangannya terhadap ekonomi. Meski peluang pemangkasan suku bunga pada Maret masih kecil, ekspektasi meningkat untuk pemangkasan pada Juni, yang berpotensi menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Warsh jika dikonfirmasi.

Di Asia, yen menguat sekitar 1% setelah kemenangan besar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu spekulasi intervensi mata uang. Pemerintah Jepang memberi sinyal siap bertindak untuk menahan pelemahan yen, di tengah rencana belanja fiskal besar yang dapat mendorong pertumbuhan. Sementara itu, IMF menegaskan dominasi dolar global masih kuat meski mengalami koreksi, didukung oleh kedalaman pasar keuangan AS dan perannya dalam sistem moneter internasional.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Karena tekanan data ekonomi dan meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

Emas Tembus US$5.000 saat China Kurangi Eksposur ke Obligasi AS

  • China mengurangi eksposur terhadap obligasi AS dan PBoC terus menambah cadangan emas, memperkuat permintaan bullion.

  • Pelemahan dolar dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menjadi katalis utama kenaikan emas

Harga emas melonjak tajam pada awal pekan setelah laporan bahwa otoritas China menganjurkan lembaga keuangannya mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah AS, yang memicu pelemahan dolar. Pada sesi Amerika Utara, XAU/USD menguat 2,16% ke level sekitar US$5.074 per ons. Tekanan pada dolar—yang turun 0,76%—langsung mengangkat emas, karena logam mulia ini dihargai dalam mata uang AS dan semakin diminati saat greenback melemah.

Penguatan emas juga didukung oleh pembelian fisik berkelanjutan dari People’s Bank of China (PBoC), yang menambah cadangan emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari. Langkah ini mencerminkan tren diversifikasi cadangan global dari aset berbasis dolar. Di tengah imbal hasil obligasi AS yang relatif stabil, emas tetap menarik sebagai lindung nilai terhadap risiko mata uang dan ketidakpastian pasar.

Perhatian pasar kini beralih ke rilis data ekonomi utama AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi (CPI), yang akan menentukan arah kebijakan The Fed. Jika data tenaga kerja dan inflasi melemah, peluang pemangkasan suku bunga akan menguat dan berpotensi mendorong emas lebih tinggi. Namun, data yang kuat dapat membatasi kenaikan, karena pasar akan kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif untuk emas: Didukung oleh arus diversifikasi global, pembelian bank sentral, dan prospek kebijakan moneter yang lebih longgar.

 

Harga Minyak Bangkit di Tengah Negosiasi AS–Iran dan Bayang-Bayang Gangguan Pasokan

  • Negosiasi AS–Iran meredakan ketegangan, tetapi risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz tetap menopang harga.

  • Data ekonomi global dan laporan energi utama minggu ini menjadi penentu arah permintaan dan volatilitas minyak.

Harga minyak dunia menguat pada Senin, memantul dari penurunan pekan lalu seiring sinyal berlanjutnya pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran konflik terbuka di Timur Tengah. Kontrak Brent naik sekitar 1,5% ke area US$69 per barel, sementara WTI menguat lebih dari 1% ke kisaran US$64 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan turun lebih dari 2%–3% pekan sebelumnya akibat aksi jual di pasar global.

Meski negosiasi disebut “konstruktif”, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Pemerintah AS mengeluarkan imbauan agar kapal berbendera AS menjauh dari wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman, menyusul insiden penyitaan kapal sebelumnya. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur strategis ini, sehingga setiap eskalasi dapat memicu gangguan pasokan dan meningkatkan premi risiko pada harga minyak.

Fokus pasar kini beralih ke data ekonomi utama dari AS dan China yang akan memengaruhi prospek permintaan, serta laporan bulanan dari EIA, OPEC, dan IEA. Di saat yang sama, sanksi baru terhadap ekspor minyak Iran, upaya Barat menekan ekspor Rusia, dan ketidakpastian pasokan dari kawasan Eurasia menjaga volatilitas tetap tinggi. Dengan latar geopolitik yang rapuh, pergerakan harga minyak diperkirakan akan lebih dipengaruhi sentimen risiko ketimbang faktor fundamental jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif: Karena premi risiko geopolitik masih dominan meskipun ada upaya diplomasi.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Retail Sales (MoM) (Dec)

Diperkirakan adanya penurunan pertumbuhan dari 0.6% ke 0.4% mengindikasikan konsumsi masyarakat mulai melambat. Kondisi ini mencerminkan tekanan suku bunga tinggi yang mulai menggerus daya beli, sehingga risiko perlambatan ekonomi semakin terlihat.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah ringan, karena pasar mulai memperkirakan ruang pengetatan moneter semakin terbatas.

  • Core Retail Sales (MoM) (Dec)

Diperkirakan turun core retail sales dari 0.5% ke 0.4% mengindikasikan pelemahan permintaan domestik inti. Data ini memperkuat sinyal bahwa momentum belanja konsumen mulai kehilangan tenaga.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah, sementara

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: