Wall Street Terseret Gelombang Risk-Off, Saham Teknologi dan Data Tenaga Kerja Picu Tekanan Pasar

  • Aksi jual di saham teknologi akibat kekhawatiran belanja AI yang agresif dan prospek laba yang melemah.

  • Lonjakan PHK dan melemahnya data tenaga kerja meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada Kamis seiring meningkatnya sentimen risk-off yang juga menekan aset berisiko lainnya seperti logam mulia dan Bitcoin. Indeks S&P 500 turun 1,2% ke 6.799,99, NASDAQ anjlok 1,6% ke 22.540,59, dan Dow Jones melemah 1,2% ke 48.908,41. Tekanan terbesar datang dari saham teknologi setelah laporan kinerja dan prospek yang mengecewakan dari sejumlah raksasa sektor tersebut.

Aksi jual di sektor teknologi berlanjut akibat kekhawatiran terhadap profitabilitas investasi besar di bidang kecerdasan buatan. Alphabet mengejutkan pasar dengan rencana belanja modal hingga $185 miliar pada 2026, sementara Qualcomm merosot 8,5% setelah memberikan panduan laba yang jauh di bawah ekspektasi karena krisis chip memori global. Investor mulai meragukan apakah lonjakan belanja AI akan segera menghasilkan imbal hasil yang sepadan, sehingga mendorong rotasi dana keluar dari saham teknologi berkapitalisasi besar.

Tekanan pasar diperparah oleh data tenaga kerja AS yang melemah. Challenger Job Cuts melonjak ke 108.435 pada Januari—tertinggi sejak 2009—sementara klaim pengangguran mingguan naik ke 231 ribu dan lowongan kerja turun ke 6,54 juta. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meski di sisi lain menegaskan meningkatnya risiko perlambatan ekonomi di tengah pertumbuhan yang masih tinggi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif untuk indeks saham AS: Kombinasi tekanan di sektor teknologi dan memburuknya indikator tenaga kerja mendorong investor menghindari risiko, memperkuat gelombang risk-off di pasar global.

 

Dolar AS Menguat, Harga Emas Tertekan Meski Data Tenaga Kerja Melemah

  • Penguatan dolar AS dan aksi profit-taking menekan emas, meskipun data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan signifikan.

  • Nada hawkish The Fed dan divergensi kebijakan bank sentral global memperkuat dolar dan mengurangi daya tarik emas.

Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan Kamis, turun ke area $4.880/oz, seiring penguatan dolar AS yang luas dan aksi ambil untung pelaku pasar. Tekanan ini terjadi meskipun data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan di sektor tenaga kerja, yang biasanya mendukung harga emas. Pada saat yang sama, logam mulia berada dalam fase likuidasi dua hari berturut-turut, menandakan pasar sedang melakukan reposisi setelah reli sebelumnya.

Dari sisi makro, laporan JOLTS menunjukkan penurunan tajam pada lowongan kerja, klaim pengangguran mingguan meningkat, serta laporan Challenger Job Cuts melonjak lebih dari 100% secara tahunan. Namun, pernyataan bernada hawkish dari Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, yang menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi ini menopang dolar AS, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS justru turun.

Sementara itu, kebijakan bank sentral global turut memengaruhi sentimen. Bank of England memberikan sinyal kuat akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, sedangkan ECB memilih bertahan. Perbedaan arah kebijakan ini memperkuat dolar terhadap mata uang utama lainnya. Akibatnya, US Dollar Index (DXY) kembali naik dan menjadi tekanan utama bagi emas, meski pasar mulai memproyeksikan pemangkasan suku bunga The Fed di akhir tahun.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish: Tekanan dari penguatan dolar dan sikap hawkish The Fed masih lebih dominan dibanding dukungan dari pelemahan data ekonomi AS.

Minyak Terkoreksi Tajam Usai AS–Iran Sepakati Perundingan, Pasar Masih Diliputi Ketidakpastian

  • Kesepakatan perundingan AS–Iran menekan harga minyak, meski ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

  • Perubahan arus pasokan global dari Rusia dan Amerika Latin meningkatkan tekanan pada pasar minyak.

Harga minyak dunia ditutup melemah hampir 3% pada perdagangan Kamis di tengah volatilitas tinggi, setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menggelar perundingan di Oman pada Jumat. Kesepakatan ini meredakan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan minyak Iran. Brent turun 2,75% ke $67,55 per barel, sementara WTI melemah 2,84% ke $63,29 per barel.

Meski demikian, pasar masih diliputi skeptisisme atas hasil perundingan tersebut. Analis menilai perbedaan ekspektasi antara Washington dan Teheran terkait ruang lingkup dan tujuan pembicaraan membuat ketidakpastian tetap tinggi. Situasi ini diperparah oleh pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah, sementara negara-negara regional berupaya mencegah eskalasi konflik. Ketegangan di kawasan ini sangat krusial karena sekitar 20% konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak negara-negara OPEC.

Di sisi pasokan global, tekanan juga datang dari meluasnya diskon ekspor minyak Rusia ke China akibat potensi kehilangan pasar India, menyusul kesepakatan dagang AS–India yang menghentikan pembelian minyak Rusia. Sementara itu, produksi shale Argentina dari Vaca Muerta diperkirakan mendorong surplus energi negara tersebut pada 2026. Kombinasi faktor geopolitik, perubahan arus perdagangan, serta penguatan dolar AS menambah tekanan bagi harga minyak dan sentimen komoditas secara keseluruhan.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Penurunan harga minyak dipicu oleh harapan diplomasi AS–Iran dan meningkatnya pasokan alternatif, meskipun volatilitas tetap tinggi akibat risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • U.S. President Trump Speaks

Pidato Presiden AS berpotensi memuat pernyataan terkait kebijakan fiskal, geopolitik, atau perdagangan global. Setiap komentar yang bernada proteksionis, hawkish terhadap China, atau menekan The Fed dapat mengubah ekspektasi pasar secara cepat.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi bergerak volatil
➡️ Emas & indeks saham berpotensi fluktuatif, tergantung nada pidato

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: