Ancaman Tarif Trump ke Eropa Picu Risiko Perang Dagang, Dolar AS Tertekan

Analisa Fundamental Magnetfx 10 Agustus
  • Kejatuhan saham Microsoft menekan indeks utama AS dan menyeret sektor teknologi.

  • The Fed menahan suku bunga dengan nada relatif optimistis terhadap ekonomi, menjaga stabilitas pasar.

Wall Street ditutup melemah pada Kamis, meski berhasil bangkit dari tekanan tajam di awal sesi. Kejatuhan saham Microsoft lebih dari 12% pasca laporan keuangan menjadi pemicu utama pelemahan, terutama di sektor perangkat lunak. Indeks S&P 500 turun 0,2% ke 6.963, Nasdaq melemah 0,7% ke 23.685, sementara Dow Jones masih naik tipis 0,1% ke 49.071. Di sisi lain, emas menghentikan reli bersejarahnya di dekat USD 5.600 per ounce seiring aksi ambil untung.

Sentimen pasar juga dipengaruhi kebijakan pemerintah AS terkait mata uang global. Departemen Keuangan AS memperketat pengawasan terhadap praktik nilai tukar negara mitra dagang, meski tidak menuduh adanya manipulasi. Thailand ditambahkan ke daftar pemantauan, bergabung dengan China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Vietnam, Jerman, Irlandia, dan Swiss. Kebijakan ini menunjukkan AS kini memantau lebih luas upaya negara menahan depresiasi mata uang, bukan hanya menahan penguatan.

Dari sisi moneter, Federal Reserve menahan suku bunga di 3,50%–3,75% setelah tiga kali pemangkasan beruntun. The Fed menilai ekonomi masih solid, pasar tenaga kerja stabil, dan tekanan inflasi mulai mereda. Meski tidak memberi panduan waktu penurunan berikutnya, pasar menilai masih ada peluang 1–2 kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, sehingga mengurangi risiko guncangan kebijakan terhadap pasar saham.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen lemah untuk indeks saham AS: Karena tekanan dari sektor teknologi masih membayangi, meski kebijakan Fed yang stabil membantu menahan pelemahan lebih dalam.

Aksi Ambil Untung Hentikan Reli Emas, Namun Tren Jangka Menengah Tetap Kuat

  • Emas terkoreksi akibat aksi ambil untung setelah reli tajam, seiring gelombang risk-off di pasar global.

  • Prospek jangka menengah tetap kuat, didukung ekspektasi pelonggaran kebijakan dan proyeksi harga lebih tinggi dari bank besar.

Harga emas dunia terkoreksi pada Kamis setelah menyentuh rekor tertinggi di dekat USD 5.600 per ounce. Tekanan muncul akibat aksi ambil untung menyusul reli parabola dalam beberapa pekan terakhir. XAU/USD sempat jatuh ke area USD 5.098 sebelum pulih ke sekitar USD 5.315, turun 1,83% pada hari itu. Koreksi ini terjadi bersamaan dengan aksi jual di pasar saham, logam, dan kripto, mencerminkan pengurangan risiko jangka pendek oleh investor.

Meski terkoreksi, performa emas sepanjang tahun tetap sangat kuat dengan kenaikan lebih dari 23% secara year-to-date, dan berpeluang mencetak kinerja bulanan terbaik sejak era 1980-an. Federal Reserve yang menahan suku bunga memberi sedikit dampak ke pasar, sementara dolar yang relatif stabil dan aksi profit taking menjadi pemicu utama koreksi. Data ekonomi AS yang menunjukkan klaim pengangguran meningkat serta defisit perdagangan melebar turut memperkuat ketidakpastian pasar.

Dari sisi prospek, UBS menaikkan target harga emas menjadi USD 6.200 per ounce untuk beberapa bulan ke depan dan memperkirakan emas akan bertahan di kisaran tinggi hingga akhir tahun. Penurunan imbal hasil obligasi AS membatasi tekanan jual, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap terbuka. Dengan kondisi ini, koreksi dinilai lebih sebagai jeda teknikal daripada perubahan tren utama.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Karena koreksi bersifat sementara dalam tren naik yang masih kuat.

 

Ancaman Iran dan Pelonggaran Sanksi Venezuela Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi Lima Bulan

  • Ketegangan AS–Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan global dan menaikkan premi geopolitik harga minyak.

  • Pelonggaran sanksi Venezuela membuka peluang tambahan pasokan, namun belum cukup menahan lonjakan harga.

Harga minyak melonjak tajam pada Kamis setelah kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan global. Brent naik 3,4% ke USD 70,71 per barel, sementara WTI menguat 3,5% ke USD 65,42, membawa keduanya ke level tertinggi lima bulan. Lonjakan ini terjadi di tengah laporan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan langkah militer terhadap Iran, yang berpotensi mengancam jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari.

Di saat yang sama, pemerintahan Trump melonggarkan sebagian sanksi terhadap industri minyak Venezuela dengan memberikan izin umum untuk transaksi terkait ekspor dan pengolahan minyak oleh perusahaan AS. Langkah ini bertujuan meningkatkan produksi Venezuela pasca pergantian kekuasaan di negara tersebut. Meski berpotensi menambah pasokan, pasar menilai risiko geopolitik jauh lebih dominan, terutama karena Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga OPEC pada 2025.

Dari sisi lain, beberapa faktor berpotensi menahan reli harga, seperti peluang peningkatan ekspor Rusia jika tercapai kesepakatan damai dengan Ukraina, pemulihan produksi Kazakhstan, serta pulihnya produksi AS setelah badai musim dingin. Namun, dolar AS yang melemah dan ekspektasi suku bunga lebih rendah tetap memberi dukungan pada harga minyak. Dengan premi Brent atas WTI mencapai level tertinggi sejak April 2024, sentimen pasar tetap mengarah pada pasokan global yang ketat.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish: Meski data stok minyak mentah AS bersifat positif, prospek peningkatan pasokan Venezuela dan lemahnya permintaan hilir memberikan tekanan nyata pada pasar minyak dalam jangka pendek hingga menengah.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • German GDP (QoQ) (Q4)

Produk Domestik Bruto Jerman diperkirakan tumbuh 0,2%, membaik dari stagnasi sebelumnya. Ini memberi sinyal awal pemulihan ekonomi zona euro setelah tekanan resesi teknis.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ EUR berpotensi menguat (Bullish) jika rilis sesuai/di atas forecast.

  • German CPI (MoM) (Jan)

Inflasi bulanan Jerman diperkirakan 0,0%, menunjukkan tekanan harga yang masih lemah. Hal ini memperkuat alasan ECB untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar lebih lama.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ EUR cenderung lemah jika inflasi tetap datar atau turun.

  • PPI (MoM) (Dec) – USD

Producer Price Index diperkirakan 0,2%, sama dengan bulan sebelumnya. Ini mengindikasikan tekanan harga di tingkat produsen masih stabil dan belum cukup kuat mendorong inflasi naik signifikan.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ Netral ke Bullish ringan untuk USD jika sesuai forecast.

  • Chicago PMI (Jan)

Indeks manufaktur Chicago diperkirakan 43,5, masih di bawah 50 yang mengindikasikan kontraksi sektor industri AS. Angka rendah ini mencerminkan perlambatan ekonomi regional.

  • Kesimpulan Dampak:

➡️ USD berpotensi melemah (Bearish) jika PMI tetap di zona kontraksi.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: