Dolar AS Terjun ke Level Terendah 4 Tahun, Pasar Siaga The Fed dan Isu Intervensi Yen
Indeks Dolar anjlok ke level terendah sejak 2022, dipicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan The Fed dan ketidakpastian geopolitik.
Spekulasi intervensi yen oleh AS–Jepang mempercepat tekanan jual terhadap dolar dan meningkatkan volatilitas pasar valuta asing.
Nilai dolar AS jatuh ke level terendah dalam hampir empat tahun pada Selasa, seiring investor bersikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve dan meningkatnya spekulasi potensi intervensi mata uang antara AS dan Jepang. Indeks Dolar merosot 1,3% ke 96,22, level terendah sejak Februari 2022, setelah empat hari berturut-turut mengalami tekanan jual. Presiden Donald Trump menanggapi pelemahan ini dengan mengatakan dolar “sedang mencari level wajarnya” dan dapat bergerak naik-turun secara alami.
Pelemahan dolar juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap independensi The Fed, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta risiko geopolitik yang kembali meningkat. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dalam pertemuan kali ini, namun tetap waspada terhadap sinyal arah kebijakan ke depan. Di Asia, yen menjadi sorotan setelah laporan “rate-check” oleh New York Fed memicu spekulasi bahwa otoritas AS dan Jepang tengah menyiapkan langkah intervensi untuk menahan pelemahan yen.
Di Eropa, euro menguat ke level tertinggi sejak 2021 di kisaran 1,2040 terhadap dolar, sementara pound sterling bertahan kuat meski sempat terkoreksi tipis. Tekanan terhadap dolar juga terlihat di mata uang Asia lainnya, termasuk won Korea, setelah Trump mengancam kenaikan tarif impor. Secara keseluruhan, pergeseran global dari dolar menuju mata uang lain mencerminkan menurunnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan AS.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen kuat untuk Dollar AS: Tekanan fundamental dan geopolitik yang meningkat membuat dolar kehilangan daya tarik, membuka ruang bagi penguatan mata uang lain dan aset safe haven seperti emas.
Emas Menyala di Tengah Perang Dagang dan Anjloknya Dolar AS
Perang dagang dan spekulasi intervensi Yen menekan dolar AS dan mendorong lonjakan harga emas.
Melemahnya data ekonomi AS dan ekspektasi pelonggaran The Fed memperkuat permintaan terhadap aset safe haven.
Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menguat untuk hari ketujuh berturut-turut pada Selasa, naik lebih dari 0,60% dan diperdagangkan di sekitar $5.091 setelah sempat menyentuh level terendah harian di $4.990. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik akibat eskalasi perang dagang serta spekulasi intervensi valuta asing guna memperkuat Yen Jepang, yang menekan nilai dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Tekanan terhadap dolar semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap barang dari Korea Selatan, memperluas konflik dagang global. Di saat yang sama, kekhawatiran akan potensi penutupan pemerintahan AS pada 30 Januari serta ancaman intervensi terkoordinasi di pasar valas turut mendorong arus dana ke emas. Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak 17,72%, dengan target melampaui kinerja 2025 yang hampir menyentuh 60%.
Dari sisi fundamental, melemahnya kepercayaan konsumen AS menjadi katalis tambahan. Indeks Kepercayaan Konsumen versi Conference Board anjlok ke 84,5, terendah sejak 2014, mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan lapangan kerja. Sementara itu, indeks dolar (DXY) jatuh ke level terendah empat tahun di 96,14, memperkuat momentum emas meskipun imbal hasil obligasi AS sedikit naik. Fokus pasar kini tertuju pada keputusan kebijakan The Fed dan pernyataan Jerome Powell, dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga sekitar 45 basis poin hingga akhir tahun.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif untuk emas: Kombinasi tekanan dolar, risiko geopolitik, dan prospek penurunan suku bunga membuat tren emas tetap sangat positif dalam jangka pendek hingga menengah.
Badai Musim Dingin dan Geopolitik Dorong Harga Minyak Melonjak 3%
Produksi minyak AS terganggu besar-besaran akibat badai musim dingin, memangkas hingga 2 juta bpd dan sempat menghentikan ekspor.
Ketegangan geopolitik dan kebijakan OPEC+ memperkuat kekhawatiran pasokan global yang ketat.
Harga minyak dunia ditutup melonjak sekitar 3% pada Selasa setelah badai musim dingin ekstrem di Amerika Serikat memangkas produksi dan sempat menghentikan ekspor dari kawasan Teluk Meksiko. Brent menguat 3,02% ke $67,57 per barel, sementara WTI naik 2,9% ke $62,39 per barel. Para analis memperkirakan produsen AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total produksi nasional akibat gangguan infrastruktur dan jaringan listrik.
Kondisi ini memperketat pasokan global dalam jangka pendek. Meski ekspor AS mulai pulih setelah pelabuhan dibuka kembali, kekhawatiran pasokan tetap tinggi karena pemulihan ladang minyak Tengiz di Kazakhstan berjalan lebih lambat dari perkiraan. Selain itu, penguatan harga juga didukung oleh melemahnya dolar AS serta potensi penurunan stok minyak dalam beberapa pekan ke depan jika cuaca dingin berlanjut.
Risiko pasokan semakin meningkat di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah AS mengerahkan armada militer ke kawasan tersebut sebagai sinyal keras terhadap Iran. Di sisi lain, belum adanya kemajuan dalam konflik Rusia–Ukraina dan keputusan OPEC+ untuk menahan kenaikan produksi pada Maret ikut memperkuat sentimen pasar bahwa pasokan global akan tetap ketat dalam waktu dekat.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Gangguan pasokan yang signifikan, risiko geopolitik, dan terbatasnya peningkatan produksi global mendorong harga minyak cenderung tetap menguat dalam jangka pendek.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- U.S. President Trump Speaks
Pidato Presiden AS berpotensi memuat pernyataan terkait kebijakan fiskal, perdagangan, atau geopolitik yang dapat mengubah ekspektasi pasar secara cepat. Pasar biasanya bereaksi sensitif terhadap nada pidato.
Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi sangat volatil, arah tergantung isi pernyataan.
- BoC Interest Rate Decision
Suku bunga diperkirakan tetap di 2,25%, mencerminkan sikap stabil sambil menilai tekanan inflasi dan pertumbuhan.
Kesimpulan Dampak:
➡️ CAD netral hingga bullish ringan, jika pernyataan bernada hawkish.
- Crude Oil Inventories
Stok minyak AS sebelumnya meningkat tajam, menunjukkan kelebihan pasokan yang masih membebani pasar energi.
Kesimpulan Dampak:
➡️ Harga minyak cenderung tertekan, dan USD bisa volatil melalui sektor energi.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
