Dolar AS Terpuruk Jelang The Fed, Pasar Global Beralih ke Aset Berisiko

  • Spekulasi intervensi Yen memicu aksi jual besar Dolar AS, menekan DXY ke level terendah sejak 2025.

  • Mata uang utama dan saham global menguat karena pergeseran sentimen dari Dolar ke aset berisiko.

Dolar AS anjlok tajam pada awal pekan setelah muncul laporan bahwa Federal Reserve menanyakan posisi USD/JPY kepada bank-bank di New York. Langkah ini memicu spekulasi adanya koordinasi AS–Jepang untuk menahan pelemahan Yen, sehingga memicu aksi jual besar-besaran pada Dolar. Indeks Dolar (DXY) jatuh ke sekitar 97,00—level terendah sejak September 2025—di tengah ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed dan proses penunjukan Ketua Fed baru oleh Presiden Donald Trump.

Pelemahan Dolar mendorong penguatan tajam pada mata uang utama. EUR/USD naik ke area 1,1880 meski data IFO Jerman mengecewakan, sementara GBP/USD bertahan di kisaran 1,3690. AUD/USD menguat di atas 0,6930 seiring reli emas, sedangkan USD/JPY merosot ke sekitar 154,00 setelah pemerintah Jepang menegaskan akan bertindak terhadap pergerakan spekulatif. Di pasar saham, Wall Street menguat moderat dengan dukungan saham teknologi besar menjelang musim laporan kinerja.

Di sisi politik, pasar tetap dibayangi ketegangan akibat ancaman tarif baru Trump terhadap Kanada serta isu Greenland, meski kekhawatiran eskalasi mereda. Risiko kebijakan fiskal dan potensi penutupan pemerintahan AS juga menjadi perhatian. Investor kini fokus pada keputusan The Fed pekan ini, yang diperkirakan menahan suku bunga, namun pernyataan Jerome Powell akan menjadi penentu arah Dolar selanjutnya.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen lemah untuk USD: Faktor kebijakan dan intervensi.

Emas Menuju Era Supercycle: BMO Ramal Harga Tembus $6.000 di Tengah Gejolak Dunia

  • Geopolitik & Perang Dagang: Ketegangan global (Greenland, Venezuela, tarif Trump) mempercepat arus dana ke emas.

  • Permintaan Institusional & Digital: Pembelian besar bank sentral dan Tether memperkuat fondasi reli emas.

Harga emas mencetak rekor baru di atas $5.100 per ons, seiring BMO Capital Markets merilis skenario bullish ekstrem yang memproyeksikan emas berpotensi melonjak hingga di atas $6.000 pada kuartal IV tahun ini. Dalam skenario bull case, BMO bahkan melihat emas mencapai $6.350 pada akhir 2026 dan $8.650 pada 2027. Kinerja emas telah mencatat reli historis, naik +67,5% pada 2025 dan bertambah hampir +17% sepanjang 2026, menunjukkan minat kuat terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Menurut BMO, reli besar ini dipicu oleh kombinasi risiko geopolitik, perang dagang baru yang dipicu Presiden Donald Trump, ketegangan di Greenland, serta ancaman tarif 100% terhadap Kanada. Situasi ini mendorong investor melakukan rotasi besar-besaran ke logam mulia sebagai pelindung nilai terhadap risiko runtuhnya sistem moneter global dan melemahnya mata uang fiat. Sentimen ini juga diperkuat oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, pembelian agresif bank sentral, serta keterbatasan pasokan.

Gelombang permintaan emas juga datang dari sektor kripto. Tether menambah sekitar 27 ton emas pada kuartal IV 2025 untuk mendukung stablecoin USDT dan XAUT, menjadikannya setara dengan pembeli emas skala negara. Sementara itu, perak melonjak ke rekor baru di atas $109/oz, dan platinum menembus $2.900/oz. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar sedang memasuki fase “supercycle” logam mulia, di mana emas tidak lagi hanya berfungsi sebagai safe haven, tetapi juga sebagai aset strategis global.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Kombinasi krisis geopolitik, ekspektasi pelonggaran The Fed, serta lonjakan permintaan institusional dan digital membentuk supercycle baru emas dengan potensi kenaikan jangka panjang yang sangat agresif.

 

Venezuela Dibuka, AS Membeku: Pasar Energi Global Diguncang Dua Arah

  • Peluang Venezuela: Pembukaan kembali sektor minyak Venezuela membuka potensi besar bagi perusahaan jasa energi global.

  • Gangguan Produksi AS: Badai musim dingin memangkas jutaan barel produksi minyak dan menekan pasokan gas serta listrik.

Baker Hughes melihat peluang pendapatan yang signifikan di Venezuela seiring dibukanya kembali akses bagi perusahaan energi internasional setelah perubahan politik yang didukung Amerika Serikat. Perusahaan jasa ladang minyak asal Houston itu menilai bahwa peningkatan produksi Venezuela membutuhkan investasi besar pada infrastruktur, integritas sumur, peralatan, dan pasokan energi. CEO Baker Hughes, Lorenzo Simonelli, menyebut peluang ini bersifat jangka panjang dan akan berkembang secara bertahap. Sejumlah pesaing seperti SLB dan Halliburton juga menyatakan minat kembali ke Venezuela dengan syarat kepastian hukum, keamanan, dan pembayaran.

Di sisi lain, badai musim dingin ekstrem melanda Amerika Serikat dan memicu gangguan besar pada produksi minyak dan gas. Produksi minyak AS sempat turun hingga 2 juta barel per hari, terutama di Permian Basin, sebelum mulai pulih. Beberapa perusahaan besar seperti ConocoPhillips, Chevron, Occidental, dan Targa Resources melaporkan gangguan operasional akibat suhu ekstrem. Kilang di Texas, Ohio, dan Louisiana juga terdampak, sementara produksi gas alam turun signifikan.

Dampak cuaca ekstrem ini turut mengguncang sektor kelistrikan AS. Lebih dari 800 ribu pelanggan kehilangan listrik, sementara harga listrik grosir melonjak tajam. Produksi gas yang terhenti mendorong lonjakan harga gas berjangka hampir 30% ke level tertinggi sejak 2022. Meski demikian, harga minyak mentah AS justru melemah dan ditutup di $60,63 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan jangka pendek dan ketidakpastian pemulihan produksi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Positif: Gangguan besar pada pasokan AS dan prospek investasi baru di Venezuela memperketat keseimbangan pasar energi, yang berpotensi mendorong harga kembali naik setelah tekanan jangka pendek.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • CB Consumer Confidence (Jan)

Indeks kepercayaan konsumen AS diperkirakan meningkat ke 90,1 dari 89,1, mengindikasikan sentimen rumah tangga membaik dan potensi belanja konsumen meningkat. Karena konsumsi merupakan pendorong utama ekonomi AS, kenaikan ini mencerminkan prospek pertumbuhan yang lebih kuat.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish) karena mendukung narasi ekonomi AS yang tetap solid.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: