Wall Street Melonjak Usai Trump Batalkan Ancaman Tarif Eropa

  • Pembatalan tarif Eropa oleh Trump memicu reli kuat di Wall Street.

  • Kinerja emiten beragam, dengan sektor energi, transportasi, dan asuransi menjadi penopang utama.

Indeks saham utama AS ditutup menguat tajam pada Rabu setelah Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan mengenakan tarif baru terhadap negara-negara Eropa. Keputusan ini diambil setelah tercapainya kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland, menyusul pertemuan Trump dengan Sekjen NATO Mark Rutte. Sentimen risiko membaik, mendorong Dow Jones naik 588 poin atau 1,2%, sementara S&P 500 dan Nasdaq sama-sama menguat 1,2%.

Dalam pernyataannya di World Economic Forum Davos, Trump menyebut kesepakatan tersebut mencakup kerja sama mineral dan sistem pertahanan berlapis “Golden Dome” untuk AS. Ia menyatakan bahwa kerangka ini telah memenuhi tuntutan Washington sehingga tidak lagi memerlukan tekanan tarif terhadap Eropa. Berita ini langsung menekan imbal hasil obligasi AS, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.

Di sisi korporasi, Netflix melemah setelah prospek kuartalannya mengecewakan meski laba melampaui ekspektasi. Sebaliknya, United Airlines, Halliburton, dan Travelers menguat berkat kinerja dan panduan yang solid. Namun, saham Kraft Heinz dan Johnson & Johnson tertekan oleh isu kepemilikan dan tekanan harga obat. Pasar kini menantikan laporan keuangan emiten besar seperti Procter & Gamble, GE Aerospace, Intel, dan Abbott untuk arah selanjutnya.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen kuat untuk indeks saham AS: Didorong oleh meredanya risiko perdagangan global dan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.

Emas Bertahan Dekat Rekor Saat Trump Melunak, Pasar Tetap Pegang Aset Aman

  • Pelunakan sikap Trump meredakan risiko geopolitik, tetapi ketidakpastian politik AS tetap menopang permintaan emas.

  • Turunnya yield obligasi AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga mendukung emas, meski dolar yang menguat membatasi kenaikan.

Harga emas menguat tipis pada sesi Amerika Utara Rabu, naik sekitar 0,25% ke area USD 4.772 per troy ounce, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru di USD 4.888. Kenaikan terbatas ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melunak terkait isu Greenland, dengan menegaskan bahwa opsi militer tidak dipertimbangkan. Sikap ini meredakan sebagian risiko geopolitik, namun belum cukup kuat untuk menghapus permintaan terhadap aset safe haven.

Dalam pidatonya di World Economic Forum Davos, Trump juga menahan diri untuk tidak menyinggung tarif atau ancaman militer, meski tetap memberi sinyal tekanan terhadap Eropa jika tuntutannya tidak dipenuhi. Di sisi lain, ketidakpastian politik AS tetap tinggi setelah Mahkamah Agung menunda keputusan terkait upaya Trump memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, memicu kekhawatiran atas independensi bank sentral. Kondisi ini menjaga minat investor terhadap emas meski ketegangan global sedikit mereda.

Dari sisi makro, pasar kini menunggu rilis data penting AS seperti PDB, Klaim Pengangguran, dan inflasi inti PCE untuk arah selanjutnya. Sementara imbal hasil obligasi AS melemah, menopang harga emas, penguatan terbatas dolar AS menahan laju kenaikan. Di tengah ekspektasi pasar akan pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, emas tetap berada dalam tren kuat meski menghadapi koreksi jangka pendek.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif untuk emas: karena permintaan safe haven masih kuat di tengah ketidakpastian politik dan prospek pelonggaran kebijakan moneter AS.

Gangguan Pasokan Global Dorong Harga Minyak Naik, Pasar Fokus pada Risiko Geopolitik

  • Gangguan produksi Kazakhstan dan masalah terminal CPC memperketat pasokan minyak global.

  • Proyeksi permintaan global direvisi naik oleh IEA, sementara pemulihan pasokan Venezuela masih tertahan.

Harga minyak dunia ditutup menguat pada Rabu, didorong oleh optimisme pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global. Kenaikan ini terjadi setelah dua ladang besar di Kazakhstan—Tengiz dan Korolev—menghentikan sementara produksinya akibat gangguan distribusi listrik. Brent ditutup naik 0,5% ke level USD 65,24 per barel, sementara WTI menguat 0,4% ke USD 60,62 per barel.

Tekanan pasokan semakin besar setelah operator ladang Tengiz, TCO, menyatakan force majeure atas pengiriman minyak ke sistem pipa CPC. Selain itu, minyak dari ladang raksasa Kashagan dialihkan ke pasar domestik karena kerusakan serius pada terminal CPC di Laut Hitam akibat serangan drone. Produksi di dua ladang utama Kazakhstan tersebut diperkirakan masih dapat terhenti selama 7–10 hari ke depan, memperkuat kekhawatiran pasar akan gangguan suplai.

Di sisi lain, ekspor minyak Venezuela masih bergerak lambat meski ada kesepakatan pasokan senilai USD 2 miliar dengan AS, menunjukkan bahwa pemulihan produksi belum berjalan optimal. Sementara itu, IEA merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan global minyak 2026, menandakan surplus pasar yang lebih sempit. Meski ketegangan geopolitik dan risiko tarif memicu sentimen risk-off, pasar tetap fokus pada potensi defisit pasokan dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif: Karena kombinasi gangguan pasokan utama dan prospek permintaan global yang lebih kuat.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • US GDP QoQ (Q3)

Pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan meningkat ke 4,3% dari 3,8%, mengindikasikan ketahanan konsumsi dan aktivitas bisnis yang tetap solid. Kinerja ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih kuat meski berada dalam fase suku bunga tinggi.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish) karena menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

  • US Initial Jobless Claims

Klaim pengangguran diperkirakan naik ke 209K, mengindikasikan mulai munculnya pelemahan pasar tenaga kerja.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah (Bearish) karena membuka ruang kebijakan moneter lebih dovish.

  • US Core PCE Price Index (MoM)

Inflasi inti bulanan diperkirakan stagnan di 0,2%, mengindikasikan tekanan harga tidak meningkat.

Kesimpulan Dampak:
➡️ Dampak netral ke USD, karena tidak mengubah ekspektasi kebijakan.

  • US Core PCE Price Index (YoY)

Inflasi inti tahunan diproyeksikan turun ke 2,7% dari 2,8%, mengindikasikan tekanan inflasi mulai mereda secara bertahap.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD cenderung melemah (Bearish) karena mendukung prospek penurunan suku bunga.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: