Ancaman Tarif Trump ke Eropa Picu Risiko Perang Dagang, Dolar AS Tertekan
Ancaman tarif AS terhadap Eropa dan potensi aksi balasan Uni Eropa memicu kembali kekhawatiran perang dagang global.
Ketidakpastian politik dan perdagangan menekan dolar AS, sementara Euro dan Poundsterling menguat
Pasar keuangan global dibuka dengan nada hati-hati setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 10% terhadap barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari, dengan ancaman kenaikan hingga 25% pada Juni jika AS gagal mencapai kesepakatan pembelian Greenland. Langkah ini memicu kembali kekhawatiran perang dagang lintas Atlantik dan mendorong sentimen risk-off di pasar global, meski bursa saham dan obligasi AS tutup pada Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day.
Respons dari Eropa memperburuk tekanan terhadap dolar AS. Uni Eropa dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk menyiapkan paket tarif balasan senilai €93 miliar terhadap produk AS, sementara sejumlah pejabat tinggi Eropa menegaskan bahwa opsi pembalasan tetap terbuka. Ketidakpastian ini melemahkan daya tarik Greenback, tercermin dari pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) di sekitar level 99,00, sementara Euro dan Poundsterling justru menguat seiring arus keluar dari aset dolar.
Di sisi makro, data inflasi Zona Euro yang relatif stabil menjaga ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan tetap bersikap wait-and-see, memberikan dukungan tambahan bagi Euro. Sementara itu, tekanan terhadap dolar juga diperkuat oleh meningkatnya ketidakpastian politik domestik AS, termasuk isu legalitas penggunaan kewenangan darurat tarif oleh Trump dan spekulasi pergantian pimpinan Federal Reserve. Investor kini menanti rangkaian data ekonomi penting AS dan pidato Trump di Davos sebagai katalis arah pasar berikutnya.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen lemah untuk USD: Meningkatnya risiko perang dagang dan ketidakpastian politik membuat sentimen terhadap dolar AS condong melemah dalam jangka pendek.
Emas Melonjak Kembali, Eskalasi Perang Dagang AS–Eropa Dorong Permintaan Safe Haven
Eskalasi perang dagang AS–Eropa menekan Dolar AS dan mendorong arus masuk ke emas sebagai aset safe haven.
Ketidakpastian geopolitik mengalahkan pengaruh data ekonomi AS, menjaga daya tarik emas di level tinggi.
Harga emas dunia (XAU/USD) menguat tajam pada awal pekan setelah sempat menyentuh level terendah empat hari pada Jumat lalu. Logam mulia naik lebih dari 1,5% dan kembali bergerak di dekat area USD 4.700, didorong meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Pada saat penulisan, XAU/USD diperdagangkan di kisaran USD 4.672, mencerminkan kembalinya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Sentimen risk-off menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, dengan ancaman kenaikan hingga 25% pada Juni jika tidak tercapai kesepakatan terkait isu Greenland. Langkah ini menekan Dolar AS dan memicu lonjakan permintaan terhadap emas, perak, serta mata uang safe haven seperti Yen Jepang dan Franc Swiss. Situasi diperburuk oleh rencana Uni Eropa untuk menunda ratifikasi perjanjian dagang dan menyiapkan langkah balasan berupa tarif terhadap produk AS.
Di sisi kebijakan moneter, pelemahan Dolar juga dipengaruhi oleh dinamika internal The Fed, termasuk ketidakpastian terkait suksesi Ketua The Fed dan penyesuaian ekspektasi suku bunga. Meski data ekonomi AS sebelumnya cukup solid dan memangkas peluang pemangkasan suku bunga jangka pendek, faktor geopolitik saat ini menjadi pendorong utama pergerakan emas. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk PCE Inflation, yang berpotensi memengaruhi volatilitas lanjutan harga emas.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish: Harga emas mendapatkan dukungan kuat dari meningkatnya risiko geopolitik dan pelemahan Dolar AS, sehingga sentimen pasar terhadap XAUUSD saat ini tetap kuat.
Minyak Dunia Bergerak Sideways, Risiko Iran Mereda Namun Bayang-Bayang Perang Dagang AS–Eropa Membatasi Arah
Meredanya ketegangan Iran mengurangi premi risiko pasokan minyak global.
Ancaman perang dagang AS–Eropa terkait Greenland menekan sentimen risiko dan prospek permintaan energi.
Harga minyak global bergerak relatif stabil pada awal pekan seiring meredanya ketegangan geopolitik di Iran, yang mengurangi kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen utama dunia. Presiden AS Donald Trump dinilai telah melunakkan sikapnya terkait kemungkinan intervensi militer, sehingga premi risiko geopolitik berangsur memudar. Brent diperdagangkan di kisaran USD 64 per barel, sementara WTI bertahan di area USD 59 per barel, dengan volume transaksi cenderung tipis akibat libur federal di Amerika Serikat.
Perhatian pasar kini bergeser ke meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait sengketa Greenland. Ancaman tarif baru dari Washington terhadap sejumlah negara Eropa memicu kekhawatiran meluasnya perang dagang lintas Atlantik, yang berpotensi menekan prospek permintaan energi global. Meskipun Greenland tidak memiliki keterkaitan langsung dengan produksi minyak, eskalasi konflik politik ini memicu sikap risk-off di pasar keuangan, tercermin dari pelemahan bursa saham global dan pergeseran investor ke aset safe haven.
Di sisi fundamental, pasar minyak masih menghadapi tarik-menarik antara faktor pendukung dan penekan harga. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari Rusia dan cuaca dingin ekstrem di Amerika Utara serta Eropa memberikan dukungan terbatas. Namun, prospek peningkatan pasokan minyak Venezuela ke Pantai Teluk AS serta risiko kelebihan pasokan global membatasi ruang penguatan harga. Dengan latar belakang tersebut, analis menilai harga minyak berpotensi bergerak mendatar dalam jangka pendek, terjebak di antara sentimen geopolitik dan dinamika fundamental.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish: Meski data stok minyak mentah AS bersifat positif, prospek peningkatan pasokan Venezuela dan lemahnya permintaan hilir memberikan tekanan nyata pada pasar minyak dalam jangka pendek hingga menengah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang karena beberapa negara besar masih libur. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
