Sikap Hawkish The Fed dan Data AS Kuat Menahan Ekspektasi Penurunan Suku Bunga

  • The Fed menegaskan sikap hawkish: inflasi masih menjadi risiko utama dan pemangkasan suku bunga dinilai prematur.

  • Data ekonomi AS yang kuat menopang Dolar AS dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeffrey Schmid, menegaskan preferensinya untuk mempertahankan kebijakan moneter yang tetap modestly restrictive, dengan alasan inflasi masih terlalu tinggi. Ia menilai pemangkasan suku bunga justru berisiko memperburuk inflasi tanpa memberikan manfaat signifikan bagi pasar tenaga kerja. Data CPI Desember yang konsisten di kisaran mendekati 3% memperkuat pandangannya bahwa tidak ada ruang untuk bersikap longgar terhadap inflasi, sementara ekonomi AS masih menunjukkan momentum pertumbuhan.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh data ekonomi AS yang solid, termasuk klaim pengangguran awal yang turun menjadi 198 ribu, lebih baik dari ekspektasi. Kondisi ini menopang Dolar AS, dengan indeks DXY bertahan di area 99,35 meski memangkas sebagian penguatannya. Di tengah ketidakpastian politik terkait tekanan terhadap independensi The Fed dan isu geopolitik Iran, pasar valuta asing bergerak volatil, dengan euro dan poundsterling melemah terhadap dolar akibat ekspektasi The Fed akan menahan suku bunga lebih lama.

Secara global, pelaku pasar masih mencermati dinamika geopolitik dan politik AS, termasuk sikap Presiden Donald Trump terhadap The Fed dan Iran. Namun, dominasi data ekonomi AS yang kuat dan nada hawkish dari pejabat The Fed menjadi faktor utama yang membentuk sentimen pasar saat ini. Kondisi tersebut mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan menjaga daya tarik aset berbasis dolar.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk Dollar AS: Nada hawkish The Fed dan data ekonomi AS yang solid cenderung menekan aset safe haven seperti emas, sehingga sentimen pasar dari berita ini cenderung kuat terhadap Dollar AS

 
 

Emas Tertekan Saat Risiko Mereda dan Dolar AS Menguat

  • Meredanya risiko geopolitik dan penguatan pasar saham menurunkan permintaan emas sebagai aset safe haven.

  • Data ekonomi AS yang kuat mendorong penguatan dolar dan memangkas ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.

Harga emas (XAU/USD) melemah dari level tertinggi sepanjang masa pada Kamis setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menurunkan intensitas retorikanya terkait Iran, sehingga meningkatkan selera risiko pasar dan mendorong reli pasar saham global. Kondisi ini mengurangi permintaan aset lindung nilai seperti emas, sementara dolar AS justru mendapat dukungan.

Dari sisi data ekonomi, rilis klaim pengangguran AS yang lebih kuat dari perkiraan serta perbaikan signifikan pada indeks manufaktur regional New York dan Philadelphia menegaskan ketahanan ekonomi AS. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih solid dan aktivitas manufaktur mulai membaik, sehingga menopang penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Seiring data yang solid, pasar keuangan memangkas ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve. Saat ini, pelaku pasar hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 47 basis poin hingga akhir tahun. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang menekankan inflasi masih cukup tinggi dan kebijakan perlu tetap restriktif turut membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Karena berkurangnya risiko global, penguatan dolar AS, dan menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga menekan harga emas dalam jangka pendek.

 

AS Raup Harga Lebih Tinggi dari Minyak Venezuela, Risiko Pasokan Global Kian Kompleks

  • AS berhasil menjual minyak Venezuela dengan harga jauh lebih tinggi, mempersempit diskon terhadap Brent dan mengubah dinamika pasokan global.

  • Risiko politik dan struktural Venezuela tetap membatasi minat investasi asing, sehingga tambahan pasokan global berpotensi terbatas dalam jangka panjang.

Amerika Serikat mengungkapkan bahwa penjualan minyak mentah Venezuela kini memberikan harga sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan sebelum Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan khusus AS. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa AS telah menyelesaikan penjualan perdana minyak Venezuela senilai sekitar USD 500 juta sebagai bagian dari kesepakatan USD 2 miliar antara Washington dan Caracas. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menegaskan akan terus menjual minyak Venezuela, termasuk potensi hingga 50 juta barel dalam jangka menengah.

Kondisi ini menandai perubahan signifikan dibandingkan akhir tahun lalu, ketika minyak Venezuela dijual dengan diskon besar akibat sanksi AS, masalah kualitas, serta banjir pasokan murah dari Rusia dan Iran. Diskon minyak berat Venezuela terhadap Brent sempat mencapai sekitar USD 14 per barel di pasar Asia, khususnya China. Namun, pekan ini minyak Merey-16 ditawarkan dengan diskon yang jauh lebih sempit, sekitar USD 6 terhadap Brent, mencerminkan pergeseran struktur harga dan kendali pasokan di bawah pengawasan AS.

Meski demikian, prospek pemulihan sektor energi Venezuela masih dinilai suram. Pakar energi Baron Lamarre menilai kerusakan lingkungan, ketidakpastian politik, dan lemahnya institusi menjadi hambatan utama bagi investasi jangka panjang. Perusahaan energi global tetap memandang Venezuela sebagai wilayah berisiko tinggi, dengan kekhawatiran atas potensi perubahan rezim, sengketa hukum, dan pembalikan kebijakan di masa depan. Tanpa stabilitas politik dan reformasi menyeluruh, kembalinya investasi besar ke sektor minyak Venezuela diperkirakan masih jauh dari realisasi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Meskipun penjualan minyak Venezuela berlanjut, keterbatasan investasi dan risiko politik tinggi membuat tambahan pasokan global tidak signifikan. Faktor ini cenderung menopang harga minyak dan menjaga sentimen pasar tetap Bullish.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

German CPI (MoM) (Dec)

Inflasi Jerman diperkirakan 0.0%, membaik dari -0.2%, menandakan tekanan deflasi mulai mereda. Realisasi sesuai atau lebih tinggi berpotensi mendukung euro secara terbatas, sementara angka kembali negatif berpotensi menekan euro karena memperkuat ekspektasi kebijakan longgar ECB.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: