Euro Terpukul Data Lemah, EUR/USD Tergelincir di Tengah Perlambatan Zona Euro
PMI jasa Eurozone melemah dan inflasi Jerman turun ke 2%, menekan prospek ekonomi dan mata uang Euro.
Dolar AS stabil meski data AS mixed, sementara sikap The Fed belum cukup dovish untuk melemahkan USD secara signifikan.
Pasangan EUR/USD melemah lebih dari 0,28% pada perdagangan Selasa, seiring data ekonomi Zona Euro yang menunjukkan perlambatan aktivitas, khususnya di sektor jasa. Indeks PMI jasa Eurozone turun, menandakan momentum ekonomi yang melemah, sementara EUR/USD terkoreksi ke area 1,1690 setelah sempat menyentuh 1,1742.
Tekanan pada Euro diperparah oleh data inflasi Jerman yang turun ke level 2% secara tahunan, tepat di target Bank Sentral Eropa (ECB). Kondisi ini memperkuat pandangan pasar bahwa siklus pelonggaran kebijakan ECB sudah mendekati akhir, kecuali jika pertumbuhan ekonomi memburuk lebih dalam. Di sisi lain, meredanya risiko geopolitik membuat investor kembali fokus pada fundamental ekonomi, yang saat ini kurang mendukung Euro.
Dari Amerika Serikat, data ekonomi menunjukkan hasil yang beragam. PMI AS melemah namun masih berada di zona ekspansi, sementara pernyataan pejabat Federal Reserve cenderung netral hingga dovish. Meski demikian, Dolar AS mampu memangkas pelemahan sebelumnya, membuat EUR/USD tetap tertekan. Pasar kini menanti data inflasi Uni Eropa serta rilis data penting AS seperti ADP Employment Change, ISM Services PMI, dan JOLTS untuk arah pergerakan selanjutnya.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk EUR: Karena pelemahan data ekonomi Zona Euro dan meredanya risiko geopolitik membuat Euro berada di bawah tekanan dibanding Dolar AS.
Emas Tembus Rekor Baru, Geopolitik Venezuela dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Permintaan Safe Haven
Ketegangan geopolitik Venezuela dan retorika agresif AS meningkatkan permintaan emas dan perak sebagai aset lindung nilai.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap kuat meski data ekonomi AS relatif stabil dan yield obligasi meningkat.
Harga emas dan perak kembali mencetak rekor baru seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Ketegangan di Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro, ditambah retorika Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan operasi lanjutan di Amerika Latin, mendorong lonjakan permintaan aset lindung nilai. Harga emas (XAU/USD) menguat untuk hari keempat berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar USD 4.487 per ons, meski dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sama-sama menguat.
Penguatan emas juga didukung oleh data ekonomi AS yang relatif stabil namun mengindikasikan perlambatan. Indeks PMI versi S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis yang masih ekspansif tetapi kehilangan momentum, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga ke depan. Pernyataan bernada dovish dari Gubernur The Fed Stephen Miran turut memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekonomi.
Pasar kini memproyeksikan hampir 56 basis poin pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, menjelang rilis data tenaga kerja dan sektor jasa AS. Menariknya, reli emas tetap berlanjut meski dolar AS menguat dan yield obligasi AS naik, menunjukkan kuatnya faktor safe haven dan ekspektasi kebijakan moneter sebagai pendorong utama pergerakan harga logam mulia.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish:Â Kombinasi risiko geopolitik tinggi dan ekspektasi penurunan suku bunga AS memberikan dukungan fundamental yang solid bagi kelanjutan reli harga emas.
Minyak Tertekan Meski Stok AS Turun, Bayang-Bayang Pasokan Venezuela Membebani Pasar
Penurunan stok minyak mentah AS tidak mampu mengangkat harga karena lonjakan stok bensin dan distilat serta kekhawatiran permintaan.
Potensi kembalinya ekspor minyak Venezuela ke AS meningkatkan risiko kelebihan pasokan global dan menekan harga minyak.
Harga minyak mentah AS kembali melemah meski data American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan tak terduga stok minyak mentah AS. Kontrak WTI turun ke area USD 56,9 per barel setelah sebelumnya ditutup melemah sekitar 2%. Penurunan stok minyak mentah sebesar 2,8 juta barel gagal menopang harga karena pasar lebih fokus pada lonjakan persediaan bensin dan distilat, yang mengindikasikan lemahnya permintaan hilir.
Tekanan harga semakin kuat seiring berkembangnya pembicaraan antara Washington dan Caracas terkait kemungkinan ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat. Jika kesepakatan tercapai, jutaan barel minyak Venezuela yang selama ini tertahan akibat blokade AS berpotensi masuk kembali ke pasar global. Hal ini meningkatkan kekhawatiran kelebihan pasokan, terutama karena Venezuela memiliki kapasitas produksi besar meski infrastrukturnya masih terbatas.
Prospek peningkatan pasokan ini juga berdampak lintas negara. Minyak berat Venezuela berpotensi menggantikan impor dari Kanada dan mengurangi pasokan ke China, menekan harga minyak Kanada dan membebani kilang independen China. Di sisi lain, kilang AS—khususnya di Gulf Coast—akan diuntungkan karena mampu memproses minyak berat dengan biaya lebih rendah, meski dampak penuh peningkatan produksi Venezuela diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish:Â Meski data stok minyak mentah AS bersifat positif, prospek peningkatan pasokan Venezuela dan lemahnya permintaan hilir memberikan tekanan nyata pada pasar minyak dalam jangka pendek hingga menengah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi EUR dan USD
-
EUR – CPI (YoY) (Des)
Forecast turun ke 2,0% dari 2,1% menegaskan inflasi zona euro terus melandai.
Rilis sesuai atau lebih rendah berpotensi melemahkan EUR karena ekspektasi pelonggaran ECB menguat.
Sebaliknya, angka di atas forecast bisa memberi penguatan sementara pada EUR. -
USD – ADP Nonfarm Employment Change (Des)
Forecast naik ke 50K dari -32K menandakan pemulihan tenaga kerja sektor swasta. Rilis sesuai atau lebih tinggi mendukung penguatan USD. Data lemah berpotensi menekan USD.
-
USD – ISM Non-Manufacturing PMI (Des)
Forecast turun ke 52,2 dari 52,6, menunjukkan perlambatan ringan sektor jasa namun masih ekspansif.
Rilis sesuai atau lebih rendah cenderung melemahkan USD secara terbatas. -
USD – ISM Non-Manufacturing Prices (Des)
Forecast stabil di 65,4 menandakan tekanan harga jasa masih tinggi. Rilis sesuai atau lebih tinggi mendukung USD dan yield.
-
USD – JOLTS Job Openings (Nov)
Forecast turun tipis ke 7,640M, mengindikasikan pendinginan pasar tenaga kerja. Rilis lebih rendah berpotensi melemahkan USD. Kenaikan JOLTS bisa memberi dukungan pada USD.
-
USD – Crude Oil Inventories
Forecast -1,200M, lebih kecil dari sebelumnya, menunjukkan perlambatan permintaan. Stok turun lebih kecil atau naik berpotensi menekan harga minyak. Penurunan lebih besar dari forecast dapat mendorong minyak naik jangka pendek.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
