Dolar AS Tertekan Tajam, Pasar Bersiap Hadapi Era Suku Bunga Lebih Rendah dan Volatilitas Global

  • Pelemahan dolar AS dipicu ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih dovish dan perbedaan arah suku bunga global.

  • Citi tetap optimistis pada saham AS di 2026, dengan fokus pada pertumbuhan laba, AI, dan kebijakan moneter yang mendukung.

Dolar AS menuju penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir setelah Bloomberg Dollar Spot Index tercatat turun sekitar 8,1% sepanjang 2025. Pelemahan ini dipicu ekspektasi pasar bahwa kepemimpinan Federal Reserve berikutnya akan lebih dovish dan membuka ruang pemangkasan suku bunga lanjutan. Tekanan terhadap dolar semakin kuat sejak kebijakan tarif “Liberation Day” Donald Trump pada April, serta meningkatnya spekulasi arah kebijakan moneter yang lebih longgar ke depan.

Pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026, menciptakan perbedaan kebijakan dengan sejumlah negara maju lain yang justru mengarah ke pengetatan. Kondisi ini mengurangi daya tarik dolar, sementara euro menguat didukung inflasi yang lebih terkendali dan prospek belanja pertahanan Eropa. Di sisi lain, Kanada, Swedia, dan Australia bahkan mulai memprice-in potensi kenaikan suku bunga.

Di tengah pelemahan dolar, Citi menilai pasar saham AS masih berpeluang melanjutkan tren naik pada 2026 meski dengan volatilitas tinggi. Citi menargetkan S&P 500 di level 7.700 sebagai skenario dasar, dengan potensi naik hingga 8.300 jika pertumbuhan laba lebih kuat. Bank ini menekankan bahwa kinerja indeks tidak sepenuhnya mencerminkan ekonomi riil AS, dengan dukungan utama datang dari pertumbuhan laba yang meluas, produktivitas berbasis AI, serta kebijakan moneter yang cenderung akomodatif.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish untuk Dollar AS: Sentimen pasar cenderung positif untuk aset berisiko dan negatif untuk dolar AS, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

Emas Terkoreksi di Akhir Tahun, Sentimen Geopolitik Jaga Daya Tarik Safe Haven

  • Risalah FOMC yang terpecah menekan harga emas dalam jangka pendek akibat ketidakpastian arah suku bunga AS.

  • Ketegangan geopolitik global dan pembelian bank sentral tetap menopang prospek emas sebagai safe haven.

Harga emas (XAU/USD) melemah tipis pada perdagangan terakhir 2025, bergerak di kisaran USD 4.310 per troy ounce, setelah risalah rapat FOMC bulan Desember menunjukkan perpecahan pandangan di internal Federal Reserve. Sejumlah pejabat The Fed menilai suku bunga sebaiknya ditahan setelah tiga kali pemangkasan tahun ini, sementara lainnya masih membuka peluang penurunan lanjutan jika inflasi terus melandai. Sikap yang belum solid ini menekan emas sebagai aset tanpa imbal hasil dalam jangka pendek.

Meski terkoreksi, emas tetap mencatatkan kinerja tahunan terkuat sepanjang 2025 dengan kenaikan lebih dari 64%. Reli harga dipercepat sejak akhir April, dipicu oleh kebijakan tarif global Presiden AS Donald Trump, pembelian agresif bank sentral, serta meningkatnya kepemilikan ETF berbasis emas. Faktor-faktor ini mencerminkan kuatnya permintaan struktural terhadap emas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global berpotensi kembali mengerek permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Meredupnya harapan perdamaian Rusia–Ukraina, konflik di Timur Tengah, serangan udara Saudi di Yaman, serta pernyataan Iran terkait “perang skala penuh” meningkatkan risiko geopolitik global. Kondisi ini membatasi ruang penurunan harga emas meski tekanan jangka pendek masih ada

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Meski terjadi koreksi jangka pendek, fundamental jangka menengah hingga panjang emas masih kuat didukung risiko geopolitik dan permintaan struktural

Harga Minyak Tertekan Sepanjang 2025, Kekhawatiran Oversupply Bayangi Pasar

  • Harga minyak mencatat penurunan tahunan terdalam sejak 2020 akibat kelebihan pasokan dan prospek permintaan yang lemah.

  • Peningkatan produksi OPEC+ dan rekor produksi AS menekan harga, meski risiko geopolitik tetap ada

Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan terakhir 2025 dan mencatatkan penurunan tahunan hampir 20%, seiring meningkatnya ekspektasi kelebihan pasokan global. Brent crude anjlok sekitar 19% sepanjang 2025—penurunan tahunan terbesar sejak 2020 dan penurunan tiga tahun berturut-turut—sementara WTI turun hampir 20%. Tekanan datang meski tahun ini diwarnai konflik geopolitik, sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela, serta tarif perdagangan yang lebih tinggi.

Pasar semakin tertekan setelah OPEC+ mempercepat peningkatan produksi dan kekhawatiran melemahnya pertumbuhan permintaan akibat dampak tarif AS. Sejumlah analis memperkirakan pasokan akan melampaui permintaan pada 2026, dengan surplus diperkirakan 2–3,8 juta barel per hari. BNP Paribas bahkan memproyeksikan Brent turun ke area USD 55 per barel pada kuartal pertama sebelum pulih terbatas, mencerminkan tekanan jangka pendek yang masih dominan.

Data EIA menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS, namun kenaikan tajam stok bensin dan distilat menandakan permintaan yang melemah, terutama pasca musim liburan. Produksi minyak AS yang mencetak rekor juga memperkuat kekhawatiran oversupply. Meski risiko geopolitik—termasuk konflik Ukraina, Timur Tengah, dan kebijakan keras AS—masih berpotensi memberi premi risiko, fundamental pasar tetap membatasi ruang kenaikan harga minyak.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish: Tekanan oversupply dan lemahnya permintaan global masih mendominasi arah harga minyak ke depan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD

  • USD – S&P Global Manufacturing PMI (Des)
    Forecast turun ke 51,8 dari 52,2 mengindikasikan perlambatan aktivitas manufaktur, meski masih berada di zona ekspansi. Jika rilis sesuai atau lebih rendah, USD berpotensi melemah terbatas. Sebaliknya, hasil di atas forecast dapat memberi dukungan penguatan USD secara terbatas.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: