Tekanan Berlanjut pada Dolar AS, Investor Sistematis Beralih ke Mata Uang Utama Lain

  • Investor sistematis terus menjual dolar AS seiring tren harga melemah dan imbal hasil obligasi AS menurun.

  • Dana berbasis tren memperkuat posisi pada emas dan perak, serta berpotensi menambah eksposur jika volatilitas tetap rendah.

Dolar AS kembali berada di bawah tekanan seiring investor sistematis terus melepas posisi jual menyusul pelemahan tren harga, menurut laporan terbaru Systematic Flows Monitor Bank of America (BofA). Dalam catatan yang dirilis 26 Desember, analis BofA Chintan Kotecha menyebut dolar menutup pekan dengan pelemahan, sementara CTA (Commodity Trading Advisors) melanjutkan aksi jual karena sinyal tren yang melemah. Model BofA juga mengindikasikan potensi rotasi arus dana ke mata uang utama lainnya.

BofA memperkirakan minat beli akan mengarah ke Pound Sterling (GBP), Dolar Australia (AUD), dan Dolar Kanada (CAD). Sementara itu, posisi long Peso Meksiko (MXN) dan posisi short Yen Jepang (JPY) dinilai sebagai yang paling ekstrem dalam portofolio model saat ini. Pelemahan dolar juga sejalan dengan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang mengurangi daya tarik aset berbasis dolar di tengah perubahan tren suku bunga.

Di pasar global, investor berbasis tren masih mempertahankan posisi long yang besar pada saham AS, Eropa, dan Jepang, didukung volatilitas yang rendah. Pada sektor komoditas, dana trend-following tetap berada pada posisi long emas dan perak, dengan potensi penambahan eksposur jika volatilitas semakin menurun. Kondisi ini menegaskan preferensi pasar terhadap aset lindung nilai dan berisiko rendah di tengah pelemahan dolar AS.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish untuk indeks Dollar AS: Investor sistematis (CTA) terus menjual Dolar AS karena tren harga dan momentum melemah. Penurunan yield AS mengurangi daya tarik Dolar sebagai aset berbunga. Prospek pelonggaran kebijakan moneter ke depan semakin menekan nilai Dolar.

Emas Terkoreksi Tajam Usai Cetak Rekor, Namun Tren Besar Masih Terjaga

  • Koreksi harga emas dipicu profit-taking dan penguatan Dolar AS di tengah likuiditas pasar yang tipis.

  • Faktor fundamental seperti ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan risiko geopolitik tetap mendukung prospek emas.

Harga emas (XAU/USD) melemah tajam di awal pekan setelah mencetak rekor tertinggi baru pada akhir pekan lalu. Pada perdagangan Senin, emas turun sekitar 4,5% dan bergerak di kisaran USD 4.330 per troy ounce. Penurunan ini dipicu aksi ambil untung (profit-taking) dalam kondisi likuiditas pasar yang tipis menjelang libur akhir tahun, sehingga memperbesar tekanan koreksi setelah reli kuat dalam beberapa bulan terakhir.

Tekanan tambahan datang dari penguatan moderat Dolar AS, yang membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli non-AS. Penguatan dolar ini mencerminkan penyesuaian posisi investor setelah performa emas yang sangat kuat sepanjang 2025. Meski demikian, koreksi jangka pendek ini dinilai bersifat teknikal, bukan perubahan arah tren utama.

Secara fundamental, prospek emas masih didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed tahun depan, yang menurunkan opportunity cost aset tanpa imbal hasil seperti emas. Selain itu, ketidakpastian politik di AS terkait independensi bank sentral serta ketegangan geopolitik global, termasuk isu Ukraina dan aktivitas militer China di sekitar Taiwan, terus menopang permintaan emas sebagai aset safe haven dalam jangka menengah.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk emas: Penurunan harga emas saat ini bukan perubahan tren, melainkan koreksi wajar setelah harga mencetak rekor tertinggi. Aksi profit-taking sering terjadi ketika pasar sudah naik terlalu cepat. Faktor utama pendorong kenaikan emas masih utuh, seperti ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan Dolar AS, dan turunnya imbal hasil obligasi. Kondisi ini historisnya sangat positif bagi emas.

Harga Minyak Menguat di Tengah Lonjakan Risiko Geopolitik Global

  • Ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina dan eskalasi konflik di Yaman meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global.

  • Permintaan yang solid dari China dan prospek terbatasnya pertumbuhan pasokan non-OPEC+ menopang harga minyak di atas level kunci.

Harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari USD 1 per barel pada perdagangan Senin, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina serta kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Brent crude naik 2,1% ke level USD 61,94 per barel, sementara WTI menguat 2,4% menjadi USD 58,08 per barel. Pasar bereaksi cepat setelah Rusia menuduh Ukraina melancarkan serangan drone ke kediaman Presiden Vladimir Putin, yang berpotensi mempersulit proses negosiasi damai.

Ketidakpastian semakin meningkat seiring Rusia mengindikasikan akan meninjau ulang posisinya dalam pembicaraan perdamaian. Meski Ukraina membantah tuduhan tersebut, ketegangan politik dinilai cukup untuk mendorong premi risiko minyak dalam jangka pendek. Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya di Yaman, di mana serangan udara Saudi terhadap kelompok separatis memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur dan pasokan energi regional.

Selain faktor geopolitik, ketatnya pasar juga didukung oleh kuatnya impor minyak China melalui jalur laut serta ekspektasi terbatasnya pertumbuhan pasokan non-OPEC+ pada 2026. Analis menilai level USD 60 per barel menjadi area support kuat bagi Brent. Sementara itu, investor masih menunggu rilis data persediaan minyak AS, yang diperkirakan menunjukkan penurunan stok minyak mentah meski persediaan bensin dan distilat berpotensi meningkat.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish: Pasar minyak masih dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan, seiring produksi global yang tetap tinggi dan stok minyak yang relatif longgar. Faktor ini menahan kenaikan harga secara struktural. Ketegangan geopolitik (Rusia–Ukraina, Timur Tengah, Venezuela) memang menopang harga dalam jangka pendek, namun dampaknya masih terbatas karena gangguan pasokan nyata belum signifikan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • USD – Chicago PMI (Dec)
    Forecast naik ke 39,6 dari 36,3 menunjukkan kontraksi sektor manufaktur mulai mereda. Jika rilis sesuai atau lebih tinggi, USD berpotensi menguat terbatas karena sentimen ekonomi membaik.
  • USD – Crude Oil Inventories
    Perkiraan penurunan stok yang lebih besar menandakan pasokan minyak makin ketat. Kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak naik dan memberi tekanan inflasi, yang dalam jangka pendek berpotensi menekan USD

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: