Shutdown AS Hampir Berakhir, Wall Street Bersiap untuk Reli Akhir Tahun.
Senat AS menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri shutdown terpanjang, memicu optimisme reli akhir tahun.
Saham teknologi melemah, tetapi prospek jangka panjang tetap positif dengan prediksi pertumbuhan laba kuat dari UBS.
Indeks S&P 500 ditutup menguat tipis pada Selasa, didorong oleh optimisme bahwa pemerintahan AS akan segera dibuka kembali setelah Senat menyetujui paket pengeluaran untuk mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah. Namun, kenaikan tertahan oleh pelemahan saham teknologi berbasis AI seperti Nvidia, yang anjlok setelah Softbank menjual seluruh sahamnya senilai $5,83 miliar.
Kabar kemajuan kesepakatan bipartisan di Senat memberikan sentimen positif bagi pasar, dengan analis menyebut hal ini sebagai “lampu hijau” untuk reli akhir tahun di Wall Street. Indeks Dow Jones naik 1,2%, S&P 500 menguat 0,2%, sementara Nasdaq sedikit melemah 0,3%. Optimisme juga datang dari UBS yang memproyeksikan S&P 500 bisa mencapai 7.500 pada 2026, didorong pertumbuhan laba perusahaan sekitar 14%, terutama dari sektor teknologi.
Meski sentimen jangka pendek positif, analis memperingatkan bahwa ekonomi AS masih perlu melewati masa “soft patch” dalam beberapa bulan ke depan karena dampak tarif dan ekspor yang melambat. Namun, prospek jangka menengah tetap kuat seiring keyakinan bahwa stimulus fiskal dan pemulihan global akan memperkuat pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk indeks saham AS – Optimisme atas berakhirnya shutdown dan proyeksi pertumbuhan laba korporasi mendorong potensi reli di pasar, termasuk dukungan terhadap aset berisiko seperti saham dan emas.
Emas Bertahan di Atas $4.100: Pasar Menanti Kejelasan Reopening Pemerintahan AS dan Arah Suku Bunga The Fed.
Senat AS menyetujui rancangan undang-undang untuk membuka kembali pemerintahan hingga 30 Januari, meredakan ketidakpastian politik.
Data tenaga kerja lemah meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember menjadi 67%.
Harga emas (XAU/USD) stabil di sekitar $4.110 pada Selasa setelah sempat menyentuh level tertinggi tiga minggu di $4.148. Pergerakan harga cenderung datar karena pasar menanti hasil keputusan dari DPR AS terkait rancangan undang-undang pendanaan pemerintah yang telah disetujui Senat. Jika disahkan, langkah ini akan membuka kembali pemerintahan AS hingga 30 Januari, meredakan ketidakpastian politik yang sempat menekan pasar.
Data ekonomi AS masih menunjukkan pelemahan, dengan laporan ADP mengungkapkan pemutusan hubungan kerja di sektor swasta rata-rata 11.250 per minggu selama empat minggu terakhir. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember menjadi 67%, meski Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan belum pasti. Pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang stabil turut memberikan dukungan bagi harga emas.
Namun, sebagian investor mulai mengambil keuntungan setelah kenaikan tajam, membuat emas sedikit terkoreksi. Meski data ekonomi lemah, indeks optimisme bisnis kecil (NFIB) masih berada di atas rata-rata historis, menandakan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya lesu. Dengan ketidakpastian politik yang mulai reda dan ekspektasi pelonggaran moneter yang meningkat, prospek emas tetap positif dalam jangka pendek.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Faktor kombinasi antara ekspektasi pemangkasan suku bunga, pelemahan dolar, dan stabilitas politik pasca-shutdown menciptakan landasan positif bagi harga emas untuk melanjutkan penguatan.
Minyak Menguat di Tengah Sanksi AS ke Rusia dan Harapan Akhir Shutdown, Tapi Bayangan Oversupply Masih Membayangi.
Sanksi AS terhadap Rusia dan potensi akhir shutdown AS mendongkrak harga minyak.
Risiko oversupply dari peningkatan produksi OPEC+ berpotensi menekan harga di masa depan.
Harga minyak naik sekitar $1 pada Selasa, didorong oleh sanksi terbaru AS terhadap Rusia serta optimisme atas potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS. Brent ditutup naik 1,72% ke $65,16 per barel, sementara WTI menguat 1,51% ke $61,04. Investor terus memantau dampak sanksi AS terhadap pasar minyak mentah dan produk olahan, terutama setelah Lukoil Rusia menyatakan force majeure di ladang minyak Irak akibat pembatasan ekspor.
Peningkatan harga juga ditopang oleh keyakinan bahwa pemerintahan AS akan segera dibuka kembali setelah Senat menyetujui rancangan pendanaan. Analis menyebut optimisme ini turut meningkatkan ekspektasi permintaan energi. Namun, di sisi lain, kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global membatasi kenaikan harga, terutama setelah OPEC+ sepakat menaikkan target produksi Desember dan berencana melanjutkan ekspansi pasokan tahun depan.
Kenaikan produksi yang signifikan sejak April, ditambah potensi tambahan 1 juta barel per hari di tahun mendatang, membuat analis memperingatkan bahwa harga minyak masih berisiko tertekan. Meskipun sanksi AS memberi dukungan jangka pendek, pasar tetap waspada terhadap potensi kelebihan suplai yang dapat menahan momentum reli minyak.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Kenaikan harga didukung oleh faktor geopolitik dan optimisme ekonomi, namun kekhawatiran oversupply membatasi potensi reli lebih lanjut.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi EUR:
Forecast German CPI (inflasi) sebesar 0.4% adalah lebih tinggi dari angka sebelumnya (0.3%). Angka perkiraan yang lebih tinggi ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di Jerman meningkat atau tetap kuat, yang mendukung sikap hawkish European Central Bank (ECB) dan membuat mata uang EUR cenderung berpotensi menguat, kecuali ada kejutan pada rilis aktual.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
